Rabu, 14 Desember 2011

Ondel-Ondel Penjaga Perdamaian Dunia

Koran Jakarta, 15 Desember 2011

Judul Buku: Ondel-ondel Nekat Keliling Dunia
Penulis: Luigi Pralangga
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, November 2011
Tebal: 314 Halaman

Tidak banyak orang yang berani meninggalkan pekerjaannya yang sudah mapan, demi mengejar sebuah impian masa kecil yang belum jelas betul kemungkinan suksesnya.

Itulah yang terjadi pada Luigi Pralangga. Jebolan kontes Abang None Jakarta yang rela meninggalkan karirnya pada sebuah perusahaan telekomunikasi di Tanah Air serta lingkungan sosialita Jakarta yang gemerlap, dan sangat mungkin selangkah lagi menjadikannya seorang artis nasional, namun kemudian lebih memilih terbang ke New York demi mencapai Kanada, negeri impian masa kecilnya. 

Bukan hanya itu, sebagaimana dikisahkan dalam buku berjudul Ondel-ondel Nekat Keliling Dunia ini, Luigi bahkan kemudian terseret ke negara-negara penuh konflik seperti Irak dan Liberia. Sebuah perjalanan yang sangat berbahaya namun tetap harus dijalani mengingat posisinya sebagai bagian dari tim misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).   

Sabtu, 10 Desember 2011

Keajaiban dalam Secangkir Teh

Bisnis Indonesia, 11 Desember 2011

Judul Buku: The Miracle of Tea
Penulis: Mark “Dr. Tea” Ukra
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, 2011
Tebal: 328 Halaman

Tak ada masalah yang begitu besar atau buruk yang tak bisa dikurangi dengan secangkir teh yang nikmat. (Bernard-Paul Heroux)

Barangkali kalimat di atas sedikit hiperbolik, akan tetapi  ada benarnya jika obesitas yang menjadi masalah utama Anda. Karena ternyata teh bukan sekedar minuman kesehatan yang selama berabad-abad diakui hampir di seluruh dunia, tetapi juga the  memiliki kemampuan yang luar biasa untuk membantu menghentikan krisis kesehatan terbesar di dunia tersebut.

Setidaknya demikian yang diungkap Mark “Dr. Tea” Ukra dalam buku berjudul The Miracle of Tea ini. Mengapa demikian? teh dengan bahan alami bukan hanya membantu mengurangi berat badan, tetapi juga mengurangi keinginan kita menyantap yang manis-manis, menekan selera makan, meningkatkan daya kerja insulin, mengurangi kolesterol, dan merangsang panas tubuh, yang membantu tubuh membakar lemak untuk energi.

Rabu, 23 November 2011

Bertaruh Nyawa ke Tanah Suci


Judul Buku: Orang Kristen Haik Haji
Penulis: Augustus Ralli
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Cetakan: I, Agustus 2011
Tebal: 371 Halaman

Pada masa lampau, ketika orang Eropa hendak menyebrangi pintu gerbang menuju Mekah, mereka diminta menanggalkan agamanya. Orang yang menolak akan digantung dan ditancapkan ke dinding –dan lubang-lubang bekas tancapan itu masih ada hingga sekarang. (Augustus Ralli)

Bisa jadi deskripsi yang diungkapkan penulis di atas sedikit berlebihan, tapi bisa juga tidak. Mekah, bersama Madinah, menjadi dua kota suci umat Islam yang mendapat legitimasi langsung dari Allah dan Rasul-Nya melalui Qur’an dan Hadis. Keduanya dikenal sebagai Tanah Haram, sebuah kawasan yang jangankan manusia, bahkan binatang dan tumbuhan pun dilarang dibinasakan.

Namun, hukuman bagi kalangan nonmuslim yang menginjakkan kakinya di Mekah pun bukannya tidak ada. Charles M. Doughty, sebagaimana yang diungkapkan dalam buku berjudul Orang Kristen Naik Haji ini, menginformasikan bahwa pada setiap musim haji pasti terjadi eksekusi mati bagi beberapa orang Kristen yang terbukti masuk ke Tanah Suci secara ilegal. Kesaksian ini diperolehnya dari dua tentara di dalam iring-iringan rombongan jamaah haji Damaskus.

Minggu, 20 November 2011

Jejak Manusia Mencari Tuhan

Koran Sindo, 20 November 2011

Judul BukuSejarah Tuhan (Gold Edition)
Penulis: Karen Armstrong
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, September 2011
Tebal: 673 Halaman

Kematian Tuhan yang dikumandangkan Friedrich Nietzsche pada 1882 menimbulkan guncangan putus asa dan gelombang kepanikan atas keyakinan sebagian kalangan teistik. Sebelumnya, upaya peminggiran Tuhan dari pentas kehidupan manusia sudah dilakukan oleh Ludwig Feurbach, Karl Marx, Charles Darwin, dan kemudian diikuiti jejaknya oleh Sigmun Freud.   

Apa yang dilakukan para filosof dan saintis tersebut, seolah hendak menantang dan melarang pencarian Tuhan yang dilakukan selama ribuan tahun sepanjang sejarah manusia itu sendiri. Gagasan mengenai keberadaan “Tuhan” yang selama berabad-abad ditempa pada masyarakat Barat, nampaknya menjadi aneh dan tidak lagi memadai bagi mereka.

Padahal, Karen Armstrong dalam buku berjudul Sejarah Tuhan ini, mengungkapkan bahwa manusia merupakan makhluk spiritual. Ada alasan kuat untuk berpendapat bahwa Homo Sapiens juga merupakan Homo Religious. Hal ini sekaligus meruntuhkan asumsi bahwa Tuhan merupakan proyeksi kebutuhan dan hasrat manusia semata sebagaimana disenandungkan kaum ateis.

Bisa jadi, salah satu alasan mengapa agama tampak tidak relevan pada masa sekarang adalah karena banyak di antara kita tidak lagi memiliki rasa bahwa kita dikelilingi oleh yang gaib. Kultur ilmiah kita telah mendidik kita untuk memusatkan perhatian hanya kepada dunia fisik dan material di hadapan kita. Selain itu, Terlepas dari sifat nonduniawinya, agama sesungguhnya bersifat pragmatik. Sebuah ide tentang Tuhan tidak harus bersifat logis atau ilmiah, yang penting bisa diterima. (Halaman 23)

Senin, 14 November 2011

Prahara Cinta Gadis Tionghoa


Judul Buku: Rembulan Ungu
Penulis: Bondan Nusantara
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, 2011
Tebal: 511 Halaman

Hasrat manusia atas harta, tahta dan wanita nampaknya tidak pernah beranjak dari masa ke masa. Meski zaman berganti, sistem sosial politik sudah bergeser, bahkan meski (konon) peradaban manusia sudah maju sekalipun. Syahwat atas ketiganya, tak pernah redup dan tetap melekat pada diri manusia.

Itulah salah satu kesimpulan yang didapatkan setelah membaca Rembulan Ungu, sebuah epik berlatar kerajaan Mataram pada masa Amangkurat I. Buku karya budayawan Yogyakarta, Bondan Nusantara, ini secara lugas dan jelas membeberkan lakon yang terjadi pada masa penuh gejolak tersebut.

Bukan hanya itu, kepiawan Bondan dalam mebubuhi cerita membuat novel setebal lima ratus sebelas halaman ini begitu penuh warna, terutama dengan kehadiran tokoh muda yang meski menjadi lurah prajurit Mataram, namun tetap bisa berpikir objektif dan bersikap ksatria bernama Panjalu. 

Sabtu, 29 Oktober 2011

Cara Tepat Hidup Miskin


Judul Buku: Saga no Gabai Bachan
Penulis: Yoshichi Shimada
Penerbit: Kansha Books
Cetakan: Pertama, 2011
Tebal: 245 Halaman

Bom atom yang dijatuhkan Amerika Serikat di atas langit Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945, diperkirakan menewaskan 140 ribu jiwa warga Hiroshima secara langsung dan efek radiasinya menyebabkan ratusan ribu yang selamat dari pemboman harus hidup dengan radiasi di sekujur tubuh. 

Selain itu, hancurnya infrastruktur di Hiroshima dan Nagasaki menyebabkan ekonomi negeri matahari terbit mengalami keruntuhan sehingga bagi yang selamat, selain terkena radiasi, kemiskinan merupakan sebuah kenyataan mengerikan yang membentang di hadapan mereka. Dua hal tersebut dialami oleh keluarga Yoshichi Shimada, penulis buku berjudul Saga no Gabai Bachan ini secara nyata

Dilahirkan di Hiroshima dengan nama asli Akihiro Tokunaga lima tahun setelah peristiwa tersebut, Shimada sejak balita sudah ditinggal mati ayahnya yang terkena radiasi. Nasib baik tidak kunjung menghampiri sering dengan perkembangan usianya. Shimada beserta kakak dan ibunya, tinggal di sebuah kawasan kumuh Hiroshima yang berdekatan dengan titik jatuh bom atom. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, sang Ibu membuka usaha tempat minum (bar) sebelum akhirnya tutup dan menjadi pelayan.

Senin, 17 Oktober 2011

Mengenal Sang Mujahid

Judul Buku: Jalan Jihad Sang Dokter
Penulis: Joserizal Jurnalis & Rita T. Budiarti
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, 2011
Tebal: 310 Halaman

Nama MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) belakangan menjadi identik dengan perang, bencana alam atau kejadian luar biasa lainnya di Indonesia. Setiap ada peristiwa-peristiwa tersebut, bendera MER-C mesti berkibar di dalamnya. Namun, tentu saja keberadaannya bukan sebagai provokator atau laskar tambahan yang ikut berperang, sebaliknya kehadiran mereka di medan-medan konflik berperan sebagai tim medis yang menjalankan tugas-tugas kemanusiaan.

Lembaga yang dibentuk para alumni relawan Tual ini, dideklarasikan pada 14 Agustus 1999 di Jakarta. Berangkat dari pemikiran perlunya terbentuk sebuah tim medis yang lebih permanen sehingga penanganan kegawatdaruratan medis bisa lebih terkoordinasi. Mengingat selama ini, tim-tim bantuan medis serupa dibentuk secara dadakan, setelah bencana atau konflik meletus. Padahal kehadiran tim seperti ini sangat dibutuhkan para korban secara mendesak.

Lambangnya mengandung dua unsur, yakni bulan sabit merah sebagai simbol Islam, dan bola dunia yang berarti universal, rahmatan lil ‘alamin yang menjadi prinsip utama MER-C. Badan hukumnya berbentuk lembaga swadaya masyarakat dan berasaskan Islam. Para anggotanya merupakan relawan yang dalam setiap melakukan misi kemanusiaannya tidak dibayar (unpaid volunteers). Dan jika konflik dan bencana begitu identik dengan MER-C, maka ada satu nama yang saat ini begitu menyatu dengan lembaga ini; Joserizal Jurnalis !  

Jumat, 30 September 2011

Upaya Meneguhkan Kembali Pancasila


ANALISISnews.com, 5 Oktober 2011
Judul Buku: Negara Paripurna; Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila
Penulis: Yudi Latif
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2011
Tebal: 667 Halaman

Sejak disahkan secara konstitusional pada 18 Agustus 1945, Pancasila dapat dikatakan sebagai dasar (falsafah) negara, pandangan hidup, ideologi nasional, dan ligatur (pemersatu) dalam perikehidupan kebangsaan dan kenegaraan Indonesia. Singkat kata, Pancasila adalah dasar statis yang mempersatukan sekaligus bintang penuntun (leitstar) yang dinamis, yang mengarahkan bangsa dalam mencapai tujuannya.

Apa daya, beragam rezim yang telah maupun sedang berkuasa di negeri ini tidak ada satu pun yang benar-benar mampu mewujudkan sebagaimana diidealisasikan oleh nilai-nilai Pancasila. Entah karena Pancasila sendiri yang teramat tinggi “terbangnya” sehingga sulit dijangkau, atau justru karena minimnya tingkat keseriusan para penguasa untuk mengimplementasikan daya linuwih Pancasila itu sendiri.

Bahkan, semenjak bergulirnya reformasi 1998, citra Pancasila semakin terjun bebas seiring dengan lebarnya jurang pemisah antara nilai-nilai ideal yang dikandungnya, dengan realitas sosial yang terjadi. Selain itu, pemerkosaan atas makna Pancasila pada masa Orde Baru, yang ditafsirkan sekehendak penguasa dan tidak jarang menjadi alat represi, memunculkan phobia pada sebagian kecil  kalangan masyarakat. Pancasila semakin menanggung beban berat di punggungnya.

Rabu, 14 September 2011

Menulis Ulang Sejarah Nusantara

Koran Sindo, 4 September 2011
Judul Buku: Peradaban Atlantis Nusantara
Penulis: Ahmad Y. Samantho, Oman Abdurrahman et. all
Penerbit: UFUK
Cetakan: I, Juli 2011
Tebal: 540 Halaman

Nampaknya, buku-buku yang berkaitan dengan sejarah Indonesia/Nusantara memang harus ditulis ulang dengan cara dan pendekatan yang sama sekali berbeda. Selama ini, dipercaya bahwa sejarah Indonesia dimulai dari abad ke-5 Masehi, saat ditemukannya beberapa prasasti di Kutai dan Bogor yang bertarikh di masa itu.

Sebuah identifikasi yang mengabarkan jatidiri manusia Nusantara hanyalah pewaris dari kerajaan-kerajaan konsentris (pedalaman) berbasis agama Hindu dan Buddha. Hasilnya, kita kemudian menerima secara taken for granted dan melegitimasi realitas kekinian kita yang hanya merupakan kelanjutan –dengan pembaruan di tingkat superfisial- dari adab dan budaya kerajaan pedalaman tersebut.    

Maka, keberadaan buku Peradaban Atlantis Nusantara ini, menjadi penting mengingat posisinya yang menjadi semacam pembongkaran terhadap konstruksi sejarah yang diciptakan tersebut di atas. Di dalamnya, sejarah panjang Nusantara dicoba ditafsirkan ulang  dengan melakukan penjelajahan terhadap situs-situs yang diyakini mampu menjadi bukti pendukung atas eksistensi peradaban manusia Nusantara yang lebih panjang dalam sejarah yang ditulis dan diajarkan di sekolah-sekolah selama ini.

Senin, 12 September 2011

Menyingkap Tabir Kepalsuan NII

Oase, Kompas.com, 27 Agustus 2011
 
Judul Buku: Mengapa Saya Memilih Negara Islam
Penulis: Dewi Triana
Penerbit: Mizan
Cetakan: Pertama, Juni 2011
Tebal: 265 Halaman

Diperiksanya Panji Gumilang, oleh penyidik kepolisian akibat dugaan pemalsuan dokumen sebagaimana yang dituduhkan oleh mantan Menteri Peningkatan Produksi NII KW 9, Imam Supriyanto, ternyata belum bisa menyentuh pada dugaan makar yang dilakukan oleh pimpinan pesantren Al-Zaytun tersebut.

Padahal, tidak sedikit data dan informasi yang telah terpapar secara benderang di masyarakat, yang mengaitkan antara Panji gumilang, Al-Zaytun dan NII. Salah satunya adalah buku berjudul Mengapa Saya Memilih Negara Islam, ini. Selama satu tahun lamanya, Dewi Triana, penulis buku setebal dua ratus enam puluh lima halaman ini menghabiskan waktu untuk melakukan riset tentang NII, dengan seperdua dari waktu tersebut dihabiskannya di lapangan.

Keseriusan Dewi dalam kajian sosiologis mengenai dinamika gerakan maupun kelompok-kelompok keagamaan khususnya yang disibak dari sudut pandang mikro dan dianalisis dari tingkat struktural ini, berbuah manis. Hal ini terlihat dari begitu banyak temuan-temuan, yang sejatinya selama ini sudah menjadi rahasia umum, mencengangkan sekaligus informatif, yaitu keterkaitan antara kelompok Negara Islam Indonesia (NII) Komandemen Wilayah 9 dengan pondok pesantren Al-Zaytun di Indramayu, Jawa Barat. Kesimpulan tersebut diperoleh Dewi, berdasarkan pengakuan langsung dari mas’ul atau aparat yang menjadi pemateri ketika ia menyusup sebagai anggota baru yang ingin diangkat sumpah setianya. (Halaman 62)

Senin, 15 Agustus 2011

Kitab Para Pecinta

Sindo, 20 September 2011
Judul Buku: Mari jatuh Cinta Lagi
Penulis: Ibnu al-Dabbagh
Penerbit: Zaman
Cetakan: Pertama, 2011
Tebal: 296 Halaman

Setiap gerak meniscayakan adanya tujuan. Manusia bersekolah seharusnya bertujuan agar bisa menambah pengetahuan, bekerja untuk memperoleh penghasilan, dan berpuasa dalam rangka menjalankan perintah-Nya pun memiliki tujuan tersendiri, yakni agar lebih dekat dengan Sang Pencipta (Allah). 

Demikian pula dengan kehidupan, dan tujuan hidup orang berakal sehat dan berkepribadian luhur hanyalah satu; mendapatkan kebahagiaan tertinggi, yang berarti kehidupan yang langgeng di alam malakut (akhirat), menyaksikan kehadiran Tuhan Yang Mahasuci, menikmati keindahan Ilahi nan Mahaluhur, dan menyaksikan secara langsung pancaran “cahaya suci” yang amat mengagumkan. Kebahagiaan, bahkan merupakan tujuan dari alam wujud ini, tumpuan tertinggi orang-orang berakal dan makna paling luhur yang hendak dicapai.

Namun, menurut Abdurahman bin Muhammad al-Anshari dalam buku berjudul Mari jatuh Cinta Lagi (aslinya Masyariq Anwar al-Qulub wa Mafatih Asrar al-Ghuyub) ini, kebahagiaan tersebut tidak dapat diperoleh hanya dengan indra lahiriah, tidak pula dengan kekuatan jasmani yang tersimpan di dalam susunan fisik. Karena keduanya hanya bisa menangkap dan menikmati hal-hal inderawi-materi semata, bukan yang sejati. (halaman 12)

Jumat, 29 Juli 2011

Mesin Pembunuh Abad 20



Judul Buku: Lenin, Stalin dan Hitler: Era Bencana Sosial
Penulis: Robert Gellately
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah: Rina Buntaran dan Fairano Ilyas
Cetakan: I, 2011
Tebal: 897 Halaman

Abad 20 merupakan abad para pembunuh. Jutaan nyawa manusia melayang, dan darah manusia membanjir menggenang. Di daratan Eropa, tiga nama yang menjadi ikon kekejaman pada masa itu; Lenin, Stalin dan Hitler. Nama-nama tersebut selamanya akan dikaitkan dengan arah tragis sejarah Eropa pada paruh pertama abad 20.

Ketiganya merupakan diktator Soviet dan Nazi, produk perubahan struktural yang dipicu oleh Perang Dunia I. sebelum 1914, mereka hanyalah orang biasa yang sama sekali tidak berpeluang memasuki kancah politik. Namun, begitu “monster perang” dikobarkan, krisis sosial politik yang menerpa Eropa dan membuka peluang bagi para radikal dan utopis ini.

Lenin lahir pada 10 April 1870 dengan nama Vladimir Ilych Ulyanov, dibesarkan dalam keluarga yang berkecukupan di Simbirsk, Rusia. Ia mengikuti kebiasaan revolusioner Rusia yang menggunakan nama alias. Kakek dari pihak ibunya, Dr. Alexander Blank, berdarah Yahudi namun kehidupannya sama sekali tidak bersentuhan dengan tradisi Yahudi. (Halaman 31)

Rabu, 06 Juli 2011

Berburu Misteri Alkemi

Judul Buku: The Alchemist’s Secret
Penulis: Scott Mariani
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, Mei 2011
Tebal: 495 Halaman

Sebuah misteri selalu menarik untuk diselidiki. Terlebih misteri sebuah pengetahuan yang terpendam selama ribuan tahun dan memiliki kekuatan luar biasa; mengubah timah menjadi emas. Layaknya sebuah misteri, perburuan tersebut tidaklah mudah dan selalu penuh onak dan duri. Bukan hanya dikarenakan keberadaannya yang masih terpendam kabut misteri, namun tidak sedikit pihak yang memburunya menghalalkan segala cara.

Itulah cerita yang ditawarkan oleh Scott Mariani dalam buku berjudul The Alchemist’s Secret ini. Layaknya buku yang menyuguhkan suspense sebagai sajian utama, dalam novel setebal hampir lima ratus halaman ini adrenalin pembaca dipacu untuk turut merasakan ketegangan yang dialami para tokohnya. Selain itu, misteri demi misteri yang terungkap dalam setiap babakan cerita menjadi daya tarik tersendiri, itulah mengapa banyak pembaca gandrung akan novel sejenis ini.

Namun, tidak seperti novel lain yang sejenis, cerita di dalam buku ini begitu kaya akan data sejarah, terutama sejarah kelam Gereja. Sehingga, mau tidak mau pembaca akan membandingkannya dengan The Da Vinci Code karya Dan Brown yang masyhur. Selain itu, gaya bercerita dan alur Mariani sendiri memiliki kecenderungan sangat menyerupai Dan Brown. Meski demikian, hal itu bukan berarti karya ini merupakan pengekor atas Dan Brown, mengingat cerita yang ditawarkan jauh berbeda, meskipun terdapat keterpengaruhan yang kuat. 

Sabtu, 02 Juli 2011

Mencari Pemimpin Bijaksana

Harian Seputar Indonesia, 3 Juli 2011

Judul BukuBe A Great Leader
Penulis: Erwin Tenggono
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: Pertama, 2011
Tebal: 208 Halaman

Banyak yang menyatakan, bahwa Indonesia tengah mengalami krisis multidimensional. Namun, bila dicermati sejatinya krisis tersebut hanya berpusat pada satu hal; krisis kepemimpinan.

Padahal, Sebagaimana diketahui pemimpin merupakan ujung tombak sebuah organisasi, besar atau kecil. Pemimpin yang peduli terhadap rakyat dan bijaksana dalam mengambil keputusan memiliki peluang lebih besar untuk memajukan organisasinya, tinimbang pemimpin yang hanya sibuk mengurusi kepentingannya sendiri maupun golongannya. Dengan kata lain, baik-buruknya seorang pemimpin sangat menentukan laju roda organisasi yang di pimpinnya.

Secara definitif, pemimpin merupakan pribadi yang memiliki kecakapan/ kelebihan di satu bidang sehingga dia mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau beberapa tujuan (Kartono, 1994), Dalam konteks bernegara, seorang pemimpin haruslah sosok yang mampu mengejawantahkan apa yang diamanatkan Undang-undang dasar 1945, sebagai tujuan dari berbangsa dan bernegara.

Memang, tidaklah mudah menjadi sosok pemimpin yang benar-benar mampu mengayomi yang dipimpinnya, terlebih dalam dunia politik, meski hal demikian tidaklah mustahil. Akan tetapi, bukankah setiap manusia pada dasarnya merupakan pemimpin, minimal bagi dirinya sendiri ? sehingga, siapapun pada prinsipnya harus belajar tentang bagaimana menjadi pemimpin yang bijaksana.

Kamis, 23 Juni 2011

Runtuhnya Watak Orang Jawa



ANALISInews.com



Judul Buku: Orang Jawa Jadi Teroris
Penulis: M. Bambang Pranowo
Penerbit: alvabet
Cetakan: I, Februari 2011
Tebal: 255 Halaman

Kekerasan berbaju agama kembali mendera Indonesia. Kali ini Temanggung, Jawa Tengah dan Cikeusik, Banten menjadi medan unjuk kekuatan para perusuh. Meski dipicu hal yang berbeda –Temanggung disebabkan kemarahan terhadap pelaku penodaan agama sedangkan di Pandeglang karena isu laten seputar Ahmadiyah- namun tak pelak menggiring memori kolektif kita atas rentetan puncak kekerasan bertopeng agama, yaitu terorisme.

Peristiwa yang membuat Indonesia menjadi sorotan dunia ini, dimulai dari tragedi bom Bali jilid satu dan dua, peledakan hotel J.W. Marriot, hingga aksi pengejaran terhadap kawanan Nurdin M. Top dan Dr. Azhari. Karena pada dasarnya rangkaian kekerasan baru-baru ini di dua tempat berbeda di atas, serta perilaku para teroris tersebut memiliki benang merah yang sama, yaitu menggunakan agama untuk menjustifikasi tindakan tersebut.

Selain itu, satu hal yang menarik dari fenomena di atas adalah bahwa kasus-kasus tersebut justru terjadi di Pulau Jawa dengan pelaku kebanyakan dari suku Jawa, sebuah suku mayoritas di Indonesia yang selama ini dikenal dengan keramah-tamahan dan sopan santunnya. Inilah kegelisahan yang melanda pada diri M. Bambang Pranowo, penulis buku berjudul Orang Jawa Jadi Teroris ini.

Senin, 20 Juni 2011

Sang Penjaga Napas Proklamasi


Kompas.com, 21 Juni 2011

Judul BukuPresiden Prawiranegara
Penulis: Akmal Nasery Basral
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, Maret 2011
Tebal: 370 Halaman

Syafruddin Prawiranegara merupakan salah satu sosok penting bagi eksistensi berdirinya Republik Indonesia. Meski demikian, tidak banyak yang mengenal kiprah dan jasanya yang begitu besar. Bahkan hingga kini, usulan pengangkatan dirinya sebagai pahlawan nasional seolah menemui lorong gelap nan buntu.

Bisa jadi, keterlibatannya sebagai Perdana Menteri dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada tahun 1958, membuat catatan perjuangannya sedikit “tercoreng”. Namun hal itu bukannya tanpa sebab, cengkeraman Partai Komunis Indonesia (PKI) terhadap pemerintahan Sukarno yang begitu kuat juga karena terjadinya ketimpangan sosial yang begitu menggila, menjadi alasan mengapa pemberontakan yang nota bene dilakukan oleh para mantan pejuang kemerdekaan itu meletus.

Pemberian amnesti dan abolisi bagi orang-orang yang tersangkut pemberontakan tersebut yang ditetapkan oleh Keputusan Presiden RI No. 449/1961 setelah dapat dipadamkan, menjadi sinyalemen kuat, betapa Sukarno sangat menghormati jasa-jasa sosok yang sederhana dan selalu mengenakan peci hitam ini. Perlakuan berbeda justru ditunjukkan oleh rezim otoritarian Orde Baru pimpinan Suharto, Syafruddin harus mengalami pencekalan, bahkan hanya untuk melakukan khutbah Idul Fitri. Perlahan tapi pasti, sosok dan jasanya seolah ter(di)kubur dalam lembaran usang sejarah.    

Jumat, 03 Juni 2011

Mantra Penguat Hati

Judul Buku: Ranah 3 Warna
Penulis: A. Fuadi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Januari 2011
Tebal: 473 Halaman

Nampaknya, cerita yang mampu memotivasi pembaca sedang gandrung belakangan ini. Setelah Andrea Hirata sukses besar dengan Tetralogi Laskar Pelangi-nya, kini bak déjà vu kesuksesan serupa dialami oleh Ahmad Fuadi dengan trilogi Negeri 5 Menara-nya yang menjadi best seller. Genre ini bahkan diyakini akan booming dan menjadi trend kesusasteraan Tanah Air.

Namun keliru jika menganggap karya sejenis ini hanya menjual tema yang mengharu biru, nyatanya beragam penghargaan telah diraih oleh A. Fuadi atas novel pertamanya, Negeri 5 Menara, antara lain Nominasi Khatulistiwa Literary Award 2010 dan Penulis dan Fiksi Terfavorit, Anugerah pembaca Indonesia 2010. Gambaran sebuah pengakuan atas karya tulis yang dihasilkannya.

Kini sekuel dari Negeri 5 Menara telah lahir. Buku yang diberi judul Ranah 3 Warna ini, layaknya sebuah sekuel, kembali mengangkat cerita sosok Alif, sang tokoh utama dalam novel sebelumnya. Namun jika dalam buku pertama dihadirkan pengalaman Alif selama menimba ilmu di Pondok Pesantren Madani, dalam buku kedua ini A. Fuadi mengisahkan perjuangan Alif dalam menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi.

Kamis, 26 Mei 2011

Serba-serbi Sang Technosof

Judul Buku: Habibie: Kecil tapi Otak Semua
Penulis: A. Makmur Makka
Penerbit: Edelweiss
Cetakan: I, Februari 2011
Tebal: 355 Halaman

Sejarah industri pesawat terbang di Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari nama Bacharuddin Jusuf Habibie (BJH). Ya, mantan Chief Methods and Technologies Research and Developments pabrik pesawat terbang Messerchmitt Bolkow Blohm di Hamburg, Jerman ini memang merupakan penggerak utama Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN).

Sayang, badai krisis moneter membuat Indonesia jatuh ke dalam jeratan International Monetary Fund (IMF), yang salah satu syaratnya adalah Indonesia (IPTN) tidak diperbolehkan “berjualan”. Hakl ini mengakibatkan perusahaan dirgantara kebanggaan rakyat Indonesia tersebut terpuruk. Pesawat unggulan CN-235 dan CN-250 yang seharusnya menembus pasar internasional, ambruk dan mati suri hingga kini. Imbas dari jeratan IMF tersebut.         

Namun meski sosok BJH identik dengan kecanggihan teknologi dan pesawat terbang, keliru jika memahami sosok nan bersahaja dan selalu mengenakan peci hitam ini melulu berkutat dengan soal tersebut. Bagaimanakah BJH secara lebih manusia dalam kesehariannya? Buku karya A. Makmur Makka ini berusaha mengupas serba-serbi yang bisa jadi hanya sedikit orang mengetahui.  

Rabu, 25 Mei 2011

Novelisasi Sejarah Kelam Jepang

Judul Buku: The Heike Story: Kisah Epik Jepang Abad ke-12
Penulis: Eiji Yoshikawa
Penerjemah: Antie Nugrahani
Penerbit: Zahir Book, RedLine Publishing
Cetakan: Pertama, Juni 2010
Tebal: 750 Halaman

Lakon diawali dengan “rutinitas” pertengkaran yang biasa terjadi pada keluarga Samurai bernama Tadamori  dengan istrinya yang super bawel, Yasuko.  Saking bawelnya, sang istri dijuluki “kertas minyak terbakar” oleh suaminya, gambaran betapa mudahnya ia tersulut api amarah. Kemiskinan keluarga dijadikan kambing hitam oleh Yasuko atas sikap buruknya.

Rumah mereka di Imadegawa, wilayah pinggiran ibu kota, digambarkan sebagai reruntuhan yang mengenaskan, atapnya yang bocor tidak pernah diperbaiki, sedang sang suami, sering bersikap cuek dan malas-malasan, begitu ia berkilah. Maklum, Yasuko berasal dari klan bangsawan Fujiwara yang dikenal golongan high-class masa itu, sedangan Tadamori hanyalah samurai dari klan Heike yang miskin. Fakta inilah yang biasa diungkit-ungkit sang isteri ketika ia bak orang kesurupan, memuntahkan semua unek-unek dan umpatannya kepada suami dan anak-anaknya.

Meski jauh dari gambaran keluarga yang harmonis, bayi demi bayi tetap lahir dari rahim ibu rumah tangga keluarga ini. Setelah si Sulung Heita Kiyomori, lahirlah adiknya Tsunemori yang kemudian disusul oleh anak ketiga bahkan keempat. Sebagai anak tertua yang telah dewasa, Kiyomori memahami betul isi “jeroan” keluarganya. Terlebih ia yang paling kerap menjadi pelampiasan kemarahan dan kekecewaan ibunya.