Rabu, 23 November 2011

Bertaruh Nyawa ke Tanah Suci


Judul Buku: Orang Kristen Haik Haji
Penulis: Augustus Ralli
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Cetakan: I, Agustus 2011
Tebal: 371 Halaman

Pada masa lampau, ketika orang Eropa hendak menyebrangi pintu gerbang menuju Mekah, mereka diminta menanggalkan agamanya. Orang yang menolak akan digantung dan ditancapkan ke dinding –dan lubang-lubang bekas tancapan itu masih ada hingga sekarang. (Augustus Ralli)

Bisa jadi deskripsi yang diungkapkan penulis di atas sedikit berlebihan, tapi bisa juga tidak. Mekah, bersama Madinah, menjadi dua kota suci umat Islam yang mendapat legitimasi langsung dari Allah dan Rasul-Nya melalui Qur’an dan Hadis. Keduanya dikenal sebagai Tanah Haram, sebuah kawasan yang jangankan manusia, bahkan binatang dan tumbuhan pun dilarang dibinasakan.

Namun, hukuman bagi kalangan nonmuslim yang menginjakkan kakinya di Mekah pun bukannya tidak ada. Charles M. Doughty, sebagaimana yang diungkapkan dalam buku berjudul Orang Kristen Naik Haji ini, menginformasikan bahwa pada setiap musim haji pasti terjadi eksekusi mati bagi beberapa orang Kristen yang terbukti masuk ke Tanah Suci secara ilegal. Kesaksian ini diperolehnya dari dua tentara di dalam iring-iringan rombongan jamaah haji Damaskus.

Mekah merupakan jantung peradaban Islam. Kota ini bukan hanya penting karena menjadi tempat kelahiran Muhammad saw., tapi juga karena jejak historisitasnya yang panjang ke Ibrahim as., bahkan hingga manusia pertama, Adam as. Eksistensinya tak mungkin diabaikan mengingat di kota inilah arah kiblat shalat umat Islam seluruh dunia menghadap, tepatnya ke sebuah bangunan berbentuk kubus dengan atap yang membentang datar, dengan dimensi 12 x 9 meter dan tinggi mencapai 12 meter, bernama Ka’bah.

Selain menjadi kiblat shalat, Mekah juga menjadi tujuan umat Islam di seantero negeri untuk melakukan ibadah haji. Sebuah ritual bangsa Arab yang sudah ada jauh sebelum kelahiran rasulullah saw. Haji sedemikian penting karena menjadi salah satu syarat dasar Islam setelah syahadat, shalat, puasa dan zakat. Dan tidak seperti ibadah lain, haji dan umroh hanya bisa dilakukan di tanah suci, sehingga semakin mengukuhkan betapa pentingnya Mekah. Sehingga tidak mengherankan jika kota ini sangat dilindungi. 

Anehnya, larangan masuk ke tanah suci bagi nonmuslim, termasuk berbagai konsekuensi buruk yang menyertainya, justru menjadi magnet yang menarik minat orang-orang Kristen Eropa berjiwa petualang. Berbagai cara dilakukan orang-orang nekad ini untuk bisa menembus barikade penjagaan yang terdapat di sekeliling pintu masuk menuju Mekah.

Para petualang dari Eropa yang terdapat dalam buku karya Augustus Ralli ini, menunjukkan kemampuan mereka dalam berkamuflase dan melakukan infiltrasi layaknya spionase tingkat tinggi; menyembunyikan jatidiri, menyamar dengan mengenakan pakaian dan nama orang-orang muslim, melakukan tradisi-tradisi dan ritual-ritual Islam, mengatasi berbagai kesulitan bahasa, mampu mengarungi perjalanan baik darat maupun laut dalam iklim yang ekstrem, dan kemudian kembali ke negara mereka masing-masing dengan membawa pengetahuan yang secara susah payah mereka dapatkan dari pusat Islam tersebut.

Secara garis besar, enam belas orang yang terekam jejaknya dalam buku setebal tiga ratus tujuh puluh satu halaman ini bisa dikategorikan menjadi tiga kelompok. Pertama, mereka yang mengalami pertikaian-pertikaian kecil dalam kehidupannya, seperti Ludovico Bartema, Vincent Le Blanc, Johann Wild, George Augustus Wallin (Waliyyuddin) dan Joseph Pitts.

Kedua, mereka yang datang ke Mekah bertujuan untuk memperoleh pengetahuan dan demi kebutuhan ilmiah; Badia Y Leblich (Ali Bey Al-Abbasi), Ullrich Jasper Seetzen (Haji Musa), John Ludwig Burckhardt (Syekh Haji Ibrahim), Sir Richard Burton (Syekh Haji Abdullah), Giovanni Finati (Haji Muhammad) dan Christian Snouck Hurgronje (Abdul Gaffar).

Lalu, ketiga adalah mereka yang sangat suka pada petualangan atau keingintahuan, seperti Heinrich Freiherr von Maltzan (Sayid Abdurahman bin Muhammad al-Sakikidi), Herman Bicknell (Haji Abdul Wahid), John Fryer Keane (Haji Muhammad Amin), Leon Roches (Haji Umar) dan Gervais Courtellemont (Abdullah).

Namun, sosok Snouck Hurgronje nampaknya yang paling menarik untuk dicermati. Hal ini bukan semata dikarenakan pria kelahiran Brabant, Belanda pada 1857 ini cukup dikenal di Indonesia karena “jasanya” membantu Belanda memadamkan beberapa pemberontakan di nusantara (Aceh), tetapi juga kajian-kajian sosial yang dilakukannya dianggap menyempurnakan apa yang telah dirintis oleh Badia, Burckhardt dan Burton sebelumnya.

Ketertarikan Hurgronje terhadap tanah suci dapat terlacak dari kajian doktoralnya yang mengambil judul “Alasan-alasan yang Membuat Muhammad Mengadopsi Kebiasaan Pra-Islam dalam Ibadah Haji” pada tahun 1880. Empat tahun kemudian ia melakukan perjalanan ke jazirah Arab, dan menghabiskan waktu selama enam bulan di Mekah. 

Tujuan perjalannya untuk objektivitas dan ilmu pengetahuan semata. Ia ingin mempelajari pengaruh Islam terhadap kehidupan sosial politik dalam masyarakat yang belum tersentuh oleh pengaruh peradaban Barat. Hurgronje memang seorang orientalis sejati yang mahir berbahasa Arab sebelum menginjakkan kaki ke Timur Tengah, dan rela menghabiskan waktu selama lima bulan untuk mempelajari dan menguasai dialek lokal dengan baik di konsul Belanda di Jeddah.

Hasil perjalanannya ini dikemudian hari banyak mempengaruhi isi dari kajian-kajian selanjutnya. Ia memiliki andil sangat besar melalui buku yang terbit tahun 1889 berjudul Mekka sehingga menjadi acuan masyarakat Barat tentang Mekah karena dianggap lebih dominan objektivitasnya dibanding karya lain.    

Terlepas dari beragam latar belakang dan motif yang mendasari para petualang Kristen Eropa tersebut melakukan perjalanan bertaruh nyawa ke tanah suci dengan menempuh bermacam marabahaya, bisa jadi mereka pada dasarnya dipersatukan oleh satu ikatan; petualangan.  

2 komentar:

  1. wah, tumben nih gak dikirim ke media?

    BalasHapus
  2. bukan gak dikirim, tapi gak tembus...hiks...

    BalasHapus