Minggu, 20 November 2011

Jejak Manusia Mencari Tuhan

Koran Sindo, 20 November 2011

Judul BukuSejarah Tuhan (Gold Edition)
Penulis: Karen Armstrong
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, September 2011
Tebal: 673 Halaman

Kematian Tuhan yang dikumandangkan Friedrich Nietzsche pada 1882 menimbulkan guncangan putus asa dan gelombang kepanikan atas keyakinan sebagian kalangan teistik. Sebelumnya, upaya peminggiran Tuhan dari pentas kehidupan manusia sudah dilakukan oleh Ludwig Feurbach, Karl Marx, Charles Darwin, dan kemudian diikuiti jejaknya oleh Sigmun Freud.   

Apa yang dilakukan para filosof dan saintis tersebut, seolah hendak menantang dan melarang pencarian Tuhan yang dilakukan selama ribuan tahun sepanjang sejarah manusia itu sendiri. Gagasan mengenai keberadaan “Tuhan” yang selama berabad-abad ditempa pada masyarakat Barat, nampaknya menjadi aneh dan tidak lagi memadai bagi mereka.

Padahal, Karen Armstrong dalam buku berjudul Sejarah Tuhan ini, mengungkapkan bahwa manusia merupakan makhluk spiritual. Ada alasan kuat untuk berpendapat bahwa Homo Sapiens juga merupakan Homo Religious. Hal ini sekaligus meruntuhkan asumsi bahwa Tuhan merupakan proyeksi kebutuhan dan hasrat manusia semata sebagaimana disenandungkan kaum ateis.

Bisa jadi, salah satu alasan mengapa agama tampak tidak relevan pada masa sekarang adalah karena banyak di antara kita tidak lagi memiliki rasa bahwa kita dikelilingi oleh yang gaib. Kultur ilmiah kita telah mendidik kita untuk memusatkan perhatian hanya kepada dunia fisik dan material di hadapan kita. Selain itu, Terlepas dari sifat nonduniawinya, agama sesungguhnya bersifat pragmatik. Sebuah ide tentang Tuhan tidak harus bersifat logis atau ilmiah, yang penting bisa diterima. (Halaman 23)

Banyak teori tentang asal usul agama secara formal, namun tampaknya konstruksi manusia tentang Tuhan jauh lebih dahulu lahir dari semua itu. Wilhelm Schmidt (1912), menyatakan bahwa telah ada suatu monoteisme primitif sebelum manusia mulai menyembah banyak dewa. Pada awalnya, mereka mengakui hanya ada satu Tuhan Tertinggi, yang telah menciptakan dunia dan menata urusan manusia dari kejauhan. Hingga kemudian tergantikan oleh tuhan-tuhan kuil pagan yang lebih variatif.

Buku karya salah satu komentator terkemuka dunia tentang masalah-masalah agama asal Inggris yang terdiri dari sebelas bab ini, berusaha melacak jejak sejarah pencarian, persepsi dan pengalaman manusia tentang Tuhan selama empat ribu tahun sejak zaman Ibrahim hingga masa kini.

Namun, Armstrong hanya memfokuskan kajian pada pengalaman tiga agama monoteis; Yahudi, Kristen dan Islam. Meskipun terkadang juga menyinggung konsepsi kaum pagan, Hindu dan Budha. Dimulai dengan melacak evolusi keyakinan manusia tentang Tuhan dari akar-akar kunonya di Timur Tengah. Diakhiri dengan wacana kontemporer berupa sebuah pertanyaan besar mengenai adakah masa depan bagi Tuhan setelah serangan bertubi-tubi yang telah dilancarkan Nietzsche dan kawan-kawan di atas ?

Ternyata tidak. Menurut Armstrong yang perlu ditolak adalah ide tentang Tuhan personal yang semakin tidak dapat diterima pada masa kini dengan segala jenis alasan: moral, intelektual, ilmiah, dan spiritual. Kaum feminis juga berkeberatan terhadap Tuhan personal karena lebih dekat sebagai laki-laki sejak era tribal pagan.

Tuhan kaum mistik tampaknya menampilkan sebuah alternatif yang mungkin lebih dapat diterima. Kaum mistik telah sejak lama menegaskan bahwa Tuhan bukanlah suatu wujud lain. Alaih-alih memandang Tuhan sebagai sebagai Fakta Objektif, yang dapat didemonstrasikan melalui dalil-dalil ilmiah, kaum mistik justru mengklaim bahwa Tuhan merupakan pengalaman subjektif yang secara misterius dirasakan di kedalaman wujud. Tuhan jenis ini harus didekati melalui imajinasi dan dapat dilihat sebagai bentuk seni, keindahan dan nilai kehidupan. (halaman 580)

Dengan demikian, maka Tuhan yang selama ini dibicarakan pada dasarnya bukan Tuhan yang sebenarnya melainkan Tuhan yang dipersepsikan pada tataran konsep. Menurut Armstrong, selama Tuhan masih digambarkan secara rasionalis sebagaimana yang dilakukan para teolog, maka kepercayaan kita terhadap Tuhan akan selalu mengalami krisis dan menuntut jawaban atas berbagai pertanyaan.  

Teologi sering memberikan penjelasan yang membosankan dan abstrak, namun  sejarah Tuhan itu sendiri penuh gairah dan ketegangan. Pergulatan dan pencarian manusia atas kekuatan luar biasa yang melebihi kemampuannya dan kemudian disebut “Tuhan”, menjadikan sejarah Tuhan penuh warna dan kaya ornamen.   

Buku setebal enam ratus tujuh puluh tiga halaman ini bukanlah tentang sejarah realitas Tuhan yang tak terucapkan, yang berada di luar waktu dan perubahan, melainkan sebuah sejarah persepsi umat manusia tentang Tuhan. Gagasan manusia tentang Tuhan mesti memiliki sejarah, karena gagasan itu selalu mempunyai arti yang sedikit berbeda bagi setiap kelompok manusia yang menggunakannya di berbagai periode waktu.

Kekayaan referensi yang dimilikinya terpapar secara jelas, komprehensif dan ditulis secara cerdas sehingga buku ini bisa
jadi merupakan karya paling solid yang mengupas tentang Tuhan. Keberaniannya dalam melakukan pengembaraan spiritual membuat ia tidak takut untuk menyoroti landasan sosiopolitik bagi mengakar, berkembang, dan berubahnya agama, sehingga menghasilkan sebuah karya yang otoritatif.

Ada baiknya, bagi para pengkaji pemikirannya tidak hanya mencukupkan dengan buku ini, tetapi juga melengkapinya dengan karya-karya lain, seperti The Great Transformation (2007) dan Masa Depan Tuhan (2011). Selamat membaca !  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar