Sabtu, 29 Juni 2013

Tipu Daya Patih Astina

Harian Bhirawa, 28 Juni 2013

Judul Buku: Musnahnya Sengkuni
Penulis: Suwito Sarjono
Penerbit: DIVA Press
Cetakan: I, Januari 2013
Tebal: 352 Halaman

"Politik Para Sengkuni." Demikian status yang ditulis oleh mantan ketua umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dalam personal message blackberry messenger-nya. Setelah itu, nama Sengkuni sontak menjadi menjadi perbincangan banyak orang di negeri ini dan lebih populer dibanding sebelumnya dalam pentas politik Tanah Air.

Memang, Sengkuni yang menjadi penasihat para Kurawa tersebut, dikenal akan kelihaian muslihat serta kelicikannya dalam memenuhi segala ambisinya. Lalu seperti apakah jejak yang ditorehkan sosok yang satu ini secara lebih utuh? Buku berjudul Musnahnya Sengkuni ini, berusaha menarasikannya kembali dengan gaya yang disesuaikan dalam konteks saat ini. 

Nama aslinya adalah Trigantalpati alias Suman alias Suwalaputra. Anak ketiga dari lima bersaudara dari pasangan penguasa Palasajenar, Raja Suwala dan Permaisuri Gandini. Ia adalah anak tertampan dari tiga saudara laki-laki lainnya; Gendara, Gajaksa, dan Sarabasanta. Sedang seorang kakak perempuannya bernama Gendari.

Sebenarnya ia adalah raja sah Plasajenar, menggantikan Gendara sang kakak yang tewas di tangan Pandu, raja Astina dalam perkelahian perebutan Kunti. Namun setelah Gendari dinikahi Destarata, Trigantalpati lebih memilih menjadi seorang Senapati kerajaan Astina, yang jauh lebih besar dan menjadi adi daya dunia.

Karir politiknya menanjak secara drastis, setelah dengan kelicikannya ia mengadu domba antara Pandu dengan penguasa Pringgadani yang berwujud raksasa Prabu Trembaka, sehingga menciptakan ketegangan antar keduanya. Beruntung Pandu pun lebih memilih damai sehingga ia mengirimkan Patih Gandamana sebagai duta perdamaian, menemui Trembaka dengan pasukannya di wilayah perbatasan.

Rupanya, inilah yang diinginkan Trigantalpati. Ia menjebak Gandamana dan menguburnya hidup-hidup. Secara meyakinkan, ia kemudian kembali ke Astina untuk melaporkan kepada Pandu bahwa Gandamana telah berkhianat dan menyeberang ke pihak musuh. Pandu yang tengah labil, serta dipengaruhi suami-istri Destarata dan Gendari, segera mengangkat Trigantalpati sebagai patih baru.

Siapa sangka, Gandamana ternyata masih hidup dan muncul kembali ke Astina. Tanpa mampu mengendalikan diri, dengan mengerahkan kesaktian yang dimilikinya ia menghajar Patih Astina yang baru diangkat tersebut di depan semua orang, hingga babak belur.

Meski para tabib terbaik istana berusaha memulihkan kondisinya, wajahnya tetap tidak bisa seperti semula, malah seperti orang tua. Bibirnya yang semula kecil dan terlihat menarik, menjadi dower dan terlihat menyebalkan saat berbicara. Cara berjalannya tidak tegak lagi, tetapi agak bungkuk. Sehingga ia diberi nama Sengkuni, berasal dari kata saka dan uni, yang bermakna "dari ucapan". Artinya, ia menderita cacat buruk rupa hasil ucapannya sendiri. (Halaman 70)

Insiden tersebut rupanya tidak membuat Sengkuni jera, setelah mendapat pengampunan bahkan gelar Patih tetap disematkan padanya serta dipercaya untuk membimbing para Kurawa, kelicikannya semakin menjadi-jadi. Mulutnya yang keji dan berbisa seolah tak pernah lelah meracuni anak-anak Destarata. Dapat dikatakan, Sengkuni-lah otak dari kerusakan mental dan moral para Kurawa.

Beberapa peristiwa penting yang memicu kemelut berkepanjanang antara pihak Kurawa dan Pandawa berhembus dari otak dan mulut Sengkuni. Sebut saja misalnya terusirnya para anak Pandu dari Astina akibat Puntadewa alias Yudistira kalah berjudi dalam permainan dadu.

Ide jahat Sengkuni memuncak ketika ia menghasut Duryudana untuk mengkhianati perjanjian antara Kurawa dan Pandawa. Dengan kekuatan logika dan retorikanya yang menyesatkan, Sengkuni sangat mahir membolak-balikan fakta sehingga sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Perjanjian yang sejatinya mengharuskan Duryudana mengembalikan tahta Astina ke tangan Yudistira ini pun gagal. (Halaman 314)

Sehingga jalan perang akhirnya menjadi satu-satunya solusi untuk mengatasi kebuntuan tersebut. Perang besar yang kelak terjadi selama dua belas hari. Sebuah peperangan yang bukan hanya memakan ratusan ribu nyawa prajurit biasa, tetapi juga para ksatria dari kedua belah pihak, terutama musnahnya Kurawa. Termasuk Sengkuni itu sendiri.       

Selain agama, dunia pewayangan beserta karakter tokoh serta idiomatiknya kerap digunakan para politisi dalam panggung politik negeri ini. Meski secara realitas-politik hal tersebut merupakan simplifikasi. Faktanya, jika dalam pewayangan kita dapat menemukan mana Pandawa mana Kurawa secara mudah, lain halnya dengan jagat politik.

Meski sama-sama Kurawa, bisa saja seseorang menyebut dirinya sebagai Pandawa yang terzalimi. Pula, jika karakter-karakter dalam Kurawa dan Pandawa senantiasa ajeg, Kurawa selalu salah dan Pandawa selalu benar, maka realitas yang kita temukan dalam kehidupan nyata, terutama dunia politik, sikap dan keberpihakan seseorang sangat cepat berubah dan sulit ditebak kebenarannya. Teriakan M. Nazarudin menjadi bukti akan hal itu.

Meski demikian, filosofi yang terkandung dalam cerita-cerita dalam dunia pewayangan, sejatinya bersifat universal yang bisa ditemukan di mana saja dan pada siapa saja. Layaknya sebuah lakon tentang kehidupan manusia, kemampuan pembaca dalam menangkap pesan serta kearifan di dalamnya sangat menentukan apakah cerita tersebut memiliki nilai-nilai moral yang luhur atau sekadar dongeng pengantar tidur semata. Selamat membaca.     
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar