Selasa, 18 Juni 2013

Kisah tentang Keajaiban Hidup


Koran Sindo, 19 Mei 2013
 
Judul Buku: The Magic Life
Penulis: Ace Starry 
Penerbit: Alvabet
Cetakan: I Maret 2013
Tebal: 412 Halaman

Kalau kamu tidak bekerja keras, keberhasilan hampir tidak akan ada. Luck, keberuntungan adalah singkatan dari Labor Under Correct Knowledge-kerja keras dengan pengetahuan yang tepat. Seseorang yang terhormat itu bekerja sehari penuh.”

Begitulah pesan yang ditanamkan ibunya sepulang kerja dalam keadaan sangat kelelahan ketika ia dan Carl, adik laki-lakinya masih kanak-kanak. Sebuah pesan yang menginspirasinya untuk selalu bekerja keras meninggalkan tradisi kemiskinan yang diwariskan secara turun temurun dalam keluarga.

Petuah tersebut terbukti manjur. Kerja keras telah memberinya hasil nyata secara materi. Investasi keuangannya cukup banyak, sebuah kondominium di tepi danau yang hampir dengan sendirinya mencukupi biaya pengeluaran pajak pun dimilikinya bersama sebuah Volvo dan seperangkat sistem audio yang canggih dan terbaru.

James Carpenter, demikian namanya, memang telah mencapai kemapanan dan kenyamanan secara materi (comfort zone) pada usia yang baru menginjak 29 tahun. Sebuah kondisi yang diimpikan banyak anak muda pada umumnya. Ia menjalani rutinitas kehidupan yang cenderung monoton, hanya berkutat pada tiga hal; bekerja sebagai akuntan, menonton tivi, dan tidur.

Namun pertemuannya dengan seorang pesulap jalanan nan misterius bernama Maximillion Vi mampu membuatnya berpikir ulang mengenai kehidupan. Sosok yang di matanya memiliki daya pikat seorang manusia yang sangat ajaib. Setengah dari dirinya tampak seperti penyihir dunia dongeng, setengahnya lagi dunia nyata. Kilau matanya seolah-olah dia benar-benar mampu melakukan sihir, bukan sekedar trik sulap.

Istimewanya lagi, dari mulutnya kerap mengalir kata-kata bijak yang mampu membangkitkan semangat hidup, menyalurkan energi positif, dan perasaan kegirangan kepada pendengarnya, termasuk James. Salah satu kata-katanya yang paling berkesan bagi James adalah bukan mendapatkan penghidupan dari sulap. Namun membuat sulap dari kehidupan.

Perkataan dan tindakan Max yang ganjil rupanya mampu menumbuhkan rasa penasaran serta meninggalkan kesan yang mendalam di hati James. Ia mulai merenung tentang kehidupannya yang cenderung membosankan dan melelahkan dengan seabreg rutinitas tanpa ada peristiwa ajaib yang terjadi.

Dunia sulap yang penuh misteri sebagaimana ditunjukkan oleh Max, mampu membangkitkan minat dan kenangannya pada masa kanak-kanak dan remaja ketika ia bermimpi untuk menjadi seorang pesulap profesional. Sebuah mimpi yang harus dilupakan karena tuntutan hidup mengharuskannya mencari penghasilan secara lebih pasti dan meyakinkan, namun seolah bangkit kembali setelah bertemu Max.

Atas dasar itulah, James akhirnya memutuskan untuk menemui pesulap berdarah Yahudi tersebut. Terlebih secara khusus Max sebelumnya menitipkan topi sulap serta sejumlah uang di dalamnya kepadanya dan memintanya mengembalikan pada festival mendatang, atau sekitar enam bulan kemudian. Maka dimulailah petualangan James untuk merealisasikan mimpi-mimpinya. 

Kisah pun semakin pelik sekaligus menarik ketika Gina, perempuan yang disukai James dari remaja ternyata juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya bahkan mengekspresikannya secara terbuka. Sayangnya, Pak Lee, ayah Gina merupakan tipe orangtua yang protektif terhadap hubungan asmara anaknya. Sialnya lagi, dia adalah pimpinan perusahaan di mana James bekerja.  

Menjelajahi halaman demi halaman buku berjudul The Magic Life ini, akan menyeret pembaca pada pertanyaan folisofis-eksistensialis mulai dari seputar diri, perihal kebahagiaan, impian serta perjuangan untuk mewujudkannya, keberanian untuk mengungkapkan perasaan dan lain-lain.     

Salah satu kekuatan novel setebal 412 halaman ini adalah banyaknya pesan-pesan moral serta kata-kata yang mampu memotivasi pembaca bertebaran melalui tokoh-tokoh di dalamnya. Dalam setiap bagian, petuah bijak dan inspiratif senantiasa mengalir tak henti mengajak pembaca untuk membuka potensi dengan melakukan apa yang dicintai serta tidak menyerah pada mimpi.

Secara kualitas, finalis Hemingway First Novel Competition ini memiliki semua yang diperlukan pembaca dalam karya fiksi; narasi yang mengalir, karakter menarik, kisah percintaan, dan pengembaraan diri. Sehingga tidaklah mengherankan jika secara umum buku ini dianggap berhasil menggabungkan antara misteri metafisik yang menarik dengan kisah cinta yang romantik.

Selain itu, daya pukaunya juga terletak pada kemampuan penulis dalam berkisah yang menarik dan berhasil menyatukan batas antara imajinasi liar dan realitas kehidupan yang jalani tokoh di dalamnya. Hasilnya, karya ini bukan sekedar mengajak pembaca untuk berubah dan mengatur ulang segala sesuatu dalam kehidupannya sehingga menjadi lebih baik lagi.

Hal demikian tidaklah mengherankan mengingat Ace Starry, penulisnya, merupakan salah seorang motivator berbakat dan pencerita hebat Amerika saat ini. Kisah dunia sulap juga bukanlah hal yang asing baginya mengingat Starry sendiri merupakan seorang pesulap. Dengan kata lain, buku ini seolah kumpulan kata-kata motivasi, pemikiran serta pengalaman hidup yang dikemas dalam bentuk novel dan dinarasikan secara menarik. Selamat membaca. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar