Kamis, 11 April 2013

Spiritualitas dan Kesehatan Manusia


Judul Buku: Tuhan dalam Otak Manusia

Penulis: Taufiq Pasiak

Penerbit: Mizan

Cetakan: I, 2012

Tebal: 473 Halaman


Selama ini, spiritualitas hanya dianggap menjadi urusan para ruhaniawan dan hanya masuk dalam wilayah agama. Konsekuensinya, segala ihwal yang berkaitan dengan spiritualitas hanya menjadi tanggung jawab pemuka agama.


Padahal, pada awal perkembangannya, ilmu kedokteran dan spiritualitas merupakan dua hal yang berjalan bersama-sama. Dokter pada masa lalu, juga sekaligus seorang figur religius, sehingga tidak hanya melayani praktek-praktek medis, namun juga spiritualitas.


Para pendeta atau ulama merupakan para penyembuh yang melakukan praktek pengobatan dengan menggunakan ilmu kedokteran dan agama secara bersama-sama. Pada masa awal kekristenan, kelompok-kelompok religius mendirikan rumah sakit yang jejaknya masih terlihat hingga kini. Islam juga memainkan peranan penting dalam perkembangan ilmu kedokteran awal.


Ibnu Sina atau Avicenna adalah contoh seorang dokter yang nota bene dinyatakan sebagai sebagai salah seorang perintis awal neuropsikitri, juga seorang yang expert dalam bidang astronomi, farmakologi, kimia, psikologi, dan teologi. Dia juga perintis eksperimentasi dan kualifikasi dalam fisiologi, kedokteran eksperimental, kedokteran berbasis bukti (evidence based medicine), percobaan klinis (clinical trials), dan penemu asal-muasal penyakit infeksi. (Halaman 263) 


Buku berjudul lengkap Tuhan dalam Otak Manusia; mewujudkan kesehatan Spiritual Berdasarkan Neurosains ini, berusaha mendedah definisi dan urgensi kesehatan spiritual dengan menggali dan mengurai hubungan antara otak manusia dengan sikap keberagamaannya, serta pengaruh keimanan terhadap kesehatan.


Neurosains adalah ilmu yang mempelajari sistem saraf, terutama mempelajari neuron atau sel saraf, dengan menggunakan pendekatan yang multidisiplin. Karena berkaitan dengan perilaku, maka neurosains dapat dikatakan sebagai ilmu yang menjelaskan hubungan otak dan pikiran (brain-mind connection), atau jiwa dan badan. Disiplin ilmu ini diyakini mampu menjembatani kesulitan studi tentang tubuh-jiwa manusia. (Halaman 132)    


Sedangkan neurosains spiritual merupakan bidang neurosains yang mengkhususkan diri pada penelitian tentang aspek-aspek neurobiologis dari pengalaman spiritual. William James dapat dikatakan sebagai pemula dalam bidang ini ketika menyinggung hubungan neurologi dan agama. Sejalan dengan canggihnya alat-alat penelitian, neurosains spiritual berkembang secara cepat dan memfokuskan perhatiannya pada kinerja otak hidup dan memasuki wilayah molekuler.


Penelitian yang dilakukan oleh Sylvia Mohr dan kawan-kawan terhadap penderita skizofrenia, dalam kaitan dengan penggunaan pendekatan spiritualitas, memberikan bukti bahwa aspek spiritualitas memberikan kontribusi dalam penyembuhan. Salah satu kesimpulan penelitian tersebut bahwa spiritualitas seharusnya menjadi bagian terpadu dalam dimensi psikososial penyembuhan.


Selain itu, banyak data menunjukkan bahwa kepercayaan dan praktek keagamaan (spiritualitas) dapat memperbaiki kesehatan mental dan emosi dengan berbagai cara. Bukti-bukti menunjukkan bahwa mereka yang mempraktekkan keyakinan religius lebih kecil kemungkinan untuk menderita depresi dan kecemasan. Praktek-praktek religius, pada umumnya meghasilkan akibat psikologis yang positif. (Halaman 230)


Dalam sejumlah riset diketahui bahwa terdapat 81% frekuensi kegiatan spiritualitas seperti pelayanan Gereja, Sinagoge dan Masjid memiliki hubungan positif dengan status kesehatan dan peyakit fisik. Sisanya, 19% riset menunjukkan adanya hubungan positif meskipun secara statistik tidak bermakna.


Orang yang terlibat aktif dalam kegiatan religius juga diketahui memiliki tekanan darah yang lebih rendah. Angka hipertensi yang dikaitkan dengan morbiditas dan mortalitas juga menunjukkan hubungan positif dengan kegiatan spiritual. Spiritualitas juga membuat seseorang mencintai ketenangan, memiliki keyakinan diri dan tujuan hidup jelas, yang dapat melindungi dari penyakit jantung koroner.


Buku setebal 473 Halaman ini, memberikan penjelasan secara komprehensif ihwal cara kerja otak dalam kehidupan beragama. Bukan hanya itu, karya pakar neurosains terkemuka Indonesia ini memberikan contoh-contoh pengukuran ilmiah tentang tingkat spiritualitas kepada para pembaca, sehingga diharapkan pembaca memiliki cara serta parameter untuk mengukur tingkat spiritualitas yang dimiliki masing-masing.

        

1 komentar:

  1. salam kenal. Apa yang Anda tuliskan sangat bermanfaat dan memberi cakrawala pengetahuan baru bagi pembaca.
    bicarabahasaindonesia.blogspot.com

    BalasHapus