Kamis, 19 Februari 2015

Kunci Sukses Pebisnis Tionghoa

Judul Buku: Rahasia Bisnis Orang China
Penulis: Ann Wan Seng
Penerbit: Noura
Cetakan: Maret 2014
Tebal: 210 Halaman

Dominasi orang Tionghoa di bidang ekonomi tidak terbantahkan, termasuk di kawasan Asia Tenggara seperti Indonesia dan Malaysia. Di Indonesia misalnya, nama-nama seperti Liem Sie Liong, Alim Markus, James Riady tidak asing di telinga sebagai para pengusaha sukses. Sedangkan di Malaysia nama Lim Goh Tong dikenal hampir di seluruh negeri jiran tersebut.

Lalu apa yang membuat dominasi mereka begitu kuat dan sulit dipatahkan ? Hal ini disebabkan hubungan perdagangan di antara mereka begitu erat sehingga tidak dapat dipisahkan. Sikap seperti itu, bagi orang Tionghoa dianggap sebagai sikap patriotik. Setidaknya demikian menurut Ann Wan Seng dalam buku berjudul Rahasia Bisnis Orang China ini.

Sebuah buku yang memotret keberhasilan bisnis orang-orang Tionghoa di Malaysia serta membongkar rahasia dan petuah dagang yang mereka pegang dan simpan dalam-dalam dalam sanubari. Ditulis pengusaha sekaligus kolumnis yang artikel bisnis dan ekonominya kerap muncul di koran dan majalah ternama Malaysia.

Orang Tionghoa adalah bangsa yang paling fleksibel, mudah berubah, dan menyesuaikan diri dengan keadaan yang bagaimanapun. Mereka dapat hidup dan mencari makan di manapun mereka berada. Orang Tionghoa juga senantiasa berpandangan jauh ke depan dan tidak membiarkan keadaan menjadi statis. Sehingga tidak heran, jika usaha mereka senantiasa berkembang.

Perdagangan adalah dunia orang Tionghoa. Mereka percaya bahwa hanya dengan berdaganglah mereka dapat kaya dan meningkatkan taraf hidup. Persepsi orang Tionghoa terhadap perdagangan sangat positif. Pedagang dianggap sebagai golongan yang matang dan sering dijadikan tempat rujukan. Ada juga yang diangkat menjadi pemimpin masyarakat, kelompok, dan partai politik. Sedangkan yang bekerja dan mendapat gaji dianggap belum dewasa. (Halaman 9)  

Salah satu kekuatan yang memotivasi orang Tionghoa untuk berdagang adalah ajaran Konfusianisme yang menekankan pentingnya menjaga keturunan serta mengharumkan nama keluarga dan memuliakan orangtua. Salah satu cara menunjukkan rasa hormat dan menjaga martabat keluarga tersebut adalah dengan menjadi kaya. Dan satu-satunya cara agar cepat kaya adalah berdagang.

Meski kasih sayang dan kepatuhan tidak dapat dinilai dengan uang, namun kekayaan akan dapat memberikan kebahagaiaan dan meningkatkan status sosial keluarga dalam masyarakat. Menjadi kaya dan sukses dalam perdagangan atau pendidikan, menjadi jalan bagi orang Tionghoa untuk membalas segala pengorbanan serta jasa ibu-bapaknya.

Rahasia kesuksesan dagang orang Tionghoa adalah karena tidak membatasi diri dalam menggeluti bidang perdagangan. Uang tidak pernah dijadikan penghalang. Asal ada kemauan, pasti ada jalan. Tidak ada rahasia dalam perdagangan mereka, kecuali berani mencoba dan berbuat. Jika berbuat, laksanakan dengan sepenuh hati dan sampai berhasil dengan bekerja lebih giat lagi. (Halaman 73)

Demi berhasil dalam perdagangan, mereka tak segan belajar dari bawah. Pengalaman adalah guru terbaik bagi seorang pedagang. Seorang pedagang juga harus menguasai teknik berkomunikasi yang mengesankan dan memahami psikologi serta keinginan pasar. Pengalaman tersebut dapat diperoleh melalui perdagangan dan usaha dagang yang dijalankan secara kecil-kecilan.

Demikianlah cara orang Tionghoa melatih naluri bisnisnya. Mereka membangun dasar perdagangan melalui perdagangan toko ritel sebagai landasan awal untuk memulai perdagangan. Toko-toko ritel tersebut menjadi kekuatan sehingga memungkin mereka menguasai bidang ekonomi di sebuah negara.

Konsep berdagang bagi orang Tionghoa adalah bekerja sendiri. Dengan bekerja sendiri, seseorang dapat mengembangkan bakat dan kemampuannya. Keberhasilan dan masa depannya ditentukan oleh usaha, kerja keras, serta inisiatifnya. Karena seorang pedagang haruslah berani, kreatif, tidak mudah mengalah, dan mau mencoba. Untuk mempertahankan hidupnya, seorang pedagang tidak punya pilihan lain kecuali memeras segala tenaga dan keringatnya. (Halaman 148)

Melalui buku setebal 210 halaman ini, penulisnya berharap dapat membuka satu dimensi baru dan meluruskan orientasi pemikiran pembaca agar dapat melihat bidang perdagangan bukan saja sebagai satu bidang yang menguntungkan, melainkan juga memberikan harapan serta menjadi upaya untuk merealisasikan segala impian.

Selain itu, stigma terhadap komunitas dan orang Tionghoa, terutama di Indonesia, yang selama ini lebih sering terkesan negatif karena menganggap kekayaan yang mereka peroleh hanya melalui monopoli dan koneksi semata dapat terhapus. Faktanya, mereka juga memerlukan kerja keras dan proses yang panjang untuk menghimpun kekayaan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar