Sabtu, 03 Maret 2012

Membela Petani Tembakau

Bisnis Indonesia, 4 Maret 2012

Judul Buku: Membunuh Indonesia: Konspirasi Global Penghancuran Kretek
Penulis: Abhisam DM, Hasriadi Ary, Miranda Harlan
Penerbit: Kata-kata
Cetakan: I, Desember 2011
Tebal: 157 Halaman


“Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin” begitulah peringatan ditulis pemerintah yang tertera dalam setiap bungkus rokok.

Perusak kesehatan, nampaknya dijadikan dalil utama sekaligus yang paling santer dihembuskan untuk memberangus atau setidaknya meminimalisir peredaran rokok. Dengan alasan yang sama, salah satu ormas terbesar tanah air, Muhammadiyah, melalui majlis Tarjih juga berinisiatif mengeluarkan fatwa haramnya rokok pada tahun 2010 silam.

Pelan tapi pasti, wacana tembakau yang berbahaya bagi kesehatan menjelma menjadi sebuah kebenaran umum. Nyaris tidak ada ruang pembelaan maupun wacana tandingan yang muncul ke permukaan. Semuanya mengamini dan bersikap sami’na wa atho’na, taken for granted bahwa tembakau merusak kesehatan, titik. 

Namun, sedikit yang tahu bahwa perang global melawan rokok, sebenarnya bermula dari persaingan bisnis nikotin antara industri farmasi dengan industri tembakau di Amerika Serikat. Terutama perusahaan-perusahaan farmasi yang memproduksi permen karet nikotin, koyok, semprot hidung, obat hirup dan zyban yang berfungsi sebagai penghenti sekaligus pengganti kebiasaan merokok.

Monopoli atas nikotin, yang terkandung secara alami pada tembakau, tomat, kentang, dan banyak sayuran lain, sejatinya merupakan motif utama yang melatar belakangi gencarnya kampanye tembakau sebagai perusak kesehatan. Sedangkan kampanye kesehatan publik (public health), hanyalah kedok bagi kepentingan bisnis untuk memasarkan produk-produk farmasi Nicotine Replacement Therapy (NRT) tersebut (Halaman 109)

Jutaan bahkan miliaran dollar digelontorkan oleh perusahaan-perusahaan farmasi tersebut untuk menggerakkan kampanye anti tembakau, salah satunya dengan menyokong dana bagi WHO Tobacco free Initiative sebagaimana yang dilakukan oleh perusahaan farmasi multinasional Pharmacia Upjohn. Sehingga, mendapatkan respon yang positif dari dunia.

Anehnya, kampanye anti tembakau yang sedemikian gencar digelorakan ternyata justru semakin memicu agresifitas ekspansai dan akuisisi perusahaan-perusahaan tembakau multinasional seperti Philip Morris dan BAT, yang mengakuisisi perusahaan-perusahaan rokok Tanah Air seperti HM sampoerna dan Bentoel. Para produsen rokok putih yang dulu menantang kretek, kini memproduksinya.

Kecurigaan pun menyeruak. Terlebih, jika kita menilik pada catatan sejarah sangat kentara bahwa motif yang sama pernah dilakukan oleh perusahaan-perusahaan multinasional dan negara-negara Eropa serta Amerika untuk menghabisi berbagai komoditas nusantara dengan menghembuskan isu kesehatan. Sebut saja seperti kopra, gula, garam, dan bahkan jamu yang mencoba dihantam sebelumnya.

Perang anti kelapa yang dilancarkan oleh produsen minyak goreng kedelai nomor wahid dunia, Amerika Serikat, barangkali yang paling kentara. Dengan meminjam tangan rezim kesehatan, mereka secara getol menyatakan bahwa kolesterol yang terkandung dalam minyak kelapa sangat berbahaya bagi kesehatan. Motif utamanya, tentu saja untuk melindungi sekaligus mempromosikan minyak nabati.

Serangan gencar secara bertubi-tubi pun dilakukan yang melibatkan berbagai kalangan, termasuk memanfaatkan kebodohan dan kepicikan pemerintah negara-negara tropis, tempat minyak kelapa berdatangan. Walhasil, citra buruk minyak kelapa tidak hanya tersebar di Amerika serikat, tetapi ke seluruh dunia. Mereka yang sejak berabad-abad mengkonsumsi minyak kelapa tanpa adanya bukti efek berbahaya, menjadi ikut percaya. (Halaman 7)    
    
Hingga akhirnya, kelapa yang pernah menjadi komoditas dagang utama Indonesia sejak abad ke-18 tersebut meredup. Kondisi tersebut bahkan diperparah dengan kebijakan pemerintah yang menganaktirikan petani kelapa membuat potensi besar komoditas emas hijau ini tersia-sia hingga saat ini. Semuanya berawal dari tahayul merusak kesehatan.  

Pada titik itulah pentingnya kehadiran buku berjudul lengkap Membunuh Indonesia: Konspirasi Global Penghancuran Kretek ini. Sebagaimana tertera pada judulnya, di dalamnya berusaha mengungkap motif utama dari kampanye bahaya rokok, terutama kretek yang notabene telah menjadi tradisi yang lestari selama berabad-abad.

Selain itu, buku setebal seratus lima puluh tujuh halaman ini secara tegas dan jelas menunjukkan penolakannya atas upaya “membunuh” petani tembakau nasional yang tersebar di seantero kepulauan nusantara, dari gencarnya kampanye anti tembakau dengan dalih merusak kesehatan. Sehingga nasib tragis yang dialami petani kelapa di masa lalu tidak terulang kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar