Sabtu, 08 Desember 2012

Historisitas Sang Mesias

Jateng Pos, 2 Desember 2012

Judul Buku: The Mystery of Historical Jesus
Penulis: Louay Fatoohi

Penerbit: Mizan

Cetakan: I, 2012

Tebal: 851 Halaman


Selama lebih dari dua millennium, sosok Yesus tak henti-hentinya ditulis orang dari beragam latar belakang keilmuan, dengan aneka tujuan. Figur utama dalam agama Kristen yang nota bene agama terbanyak dianut manusia di Planet Bumi saat ini, hampir seluruh dimensi sejarah yang mengitarinya menjadi bahan perdebatan.


Mulai dari proses kelahirannya dari rahim seorang perawan, eksistensinya hanya sebatas nabi atau anak Tuhan, hingga akhir dari kehidupannya menuai perbedaan tajam; apakah wafat ditiang salib atau diangkat Tuhan ke langit agar kelak menjelang hari akhir diturunkan kembali untuk memerangi Dajjal, sebagaimana dalam kredo Islam.     


Dari sekian banyak tulisan dan perdebatan tersebut, buku berjudul The Mystery of Historical Jesus ini hadir. Menampilkan sejarah alternatif Yesus berdasarkan al-Qur’an, sembari menengok dan mengambil dari Perjanjian baru, kitab-kitab apokrif yang relevan, dan sejarah berdasar sudut pandang uraian al-Qur’an. Dengan kata lain, buku ini mengisi kekosongan literatur tentang Yesus sejarah dengan mempertimbangkan secara bersamaan kisah Al-Qur’an, Injil, dan sumber-sumber historis tentang kehidupan Yesus. (Halaman 19)


Al-Qur’an mengisahkan kelahiran Yesus dalam 11 ayat, yang secara substansial berbeda dari kisah Kristen. Satu perincian dalam Qur’an adalah bahwa Yesus dilahirkan di bawah pohon kurma, meski tidak memberikan informasi tentang tanggal kelahirannya, sedangkan sumber-sumber Kristen mengandung rujukan-rujukan tak langsung pada tanggal kelahiran Yesus.


Matius dan injil-injil apokrifal seperti Injil Masa Kecil berbahasa Arab, Proto-Injil Yakobus, dan Pseudo-Matius menyebutkan terjadinya pembantaian bayi-bayi atas perintah Herodes tak lama setelah kelahiran Yesus. Menurut Matius, demi memastikan kematian Yesus, Herodes membunuh semua anak lelaki Betlehem dan sekitarnya, yang berusia kurang dari dua tahun.


Uniknya, Lukas, dan dengan beberapa variasi, dalam sumber-sumber apokrifal,  merujuk tanggal kelahiran Yesus mengaitkannya dengan pendaftaran warga yang diperintahkan oleh Kirenius ketika dia menjabat sebagai gubernur Suriah, satu dekade setelah kematian Herodes. (Halaman 291-300)


Selain masa kelahiran, yang kerap menjadi perdebatan adalah periode penyaliban. Penyaliban Yesus dikisahkan secara terperinci dalam empat Injil Kanonikal. Dikhianati oleh Yudas Iskariot, yang menyerahkan gurunya sendiri ke tangan para pemuka Yahudi, yang kemudian melakukan provokasi pada Pontius Pilatus, prefek Yudea, untuk menghukumnya dengan cara disalib.


Namun, sumber-sumber Kristen hanya menyalahkan Yahudi dan membebaskan Pilatus atas penyaliban Yesus. Hal ini diyakini telah menyalakan sikap anti-Yudaisme untuk waktu lama. Ada yang menyatakan bahwa penggambaran Kristen ini bertujuan untuk membebaskan gubernur Romawi dan menyalahkan orang Yahudi, yang pada waktu penulisan Injil, telah menjadi sangat tidak popular di kalangan orang Romawi.


Al-Qur’an bukan hanya menolak penyaliban Yesus, tetapi juga menolak signifikansi teologisnya. Penyaliban Yesus merupakan fiksi yang meraih popularitas, karena seseorang yang lainlah yang disalibkan menggantikannya. Sedangkan Yesus sendiri diangkat oleh Allah ke sebuah tempat yang tidak disebutkan, hingga dia wafat. (Halaman 667)


Orang Yahudi mengembangkan konsep Mesias untuk merepresentasikan sosok eskatologis yang akan membebaskan mereka dari kekuasaan dan kendali kaum kafir serta menegakkan kembali kejayaan mereka yang telah hilang. Sedangkan Mesias dalam al-Qur’an merupakan sosok yang sama sekali berbeda yang tidak memiliki agenda politis. Seperti halnya nabi-nabi lain, dia adalah seorang guru spiritual yang pesan utamanya adalah mengimbau umat manusia untuk bertobat dan menyembah Allah.     


Menjelajahi halaman demi Halaman karya penulis kelahiran Baghdad lima puluh satu tahun silam ini, membawa kita pada kajian aneka kitab suci yang terentang panjang selama ribuan tahun. Meski ditulis oleh seorang doktor astronomi, namun pembaca akan menemukan fakta bahwa buku ini merupakan kajian yang lengkap atas Yesus dan figur-figur disekitarnya;  ibunya, Zakaria dan Yahya menurut al-Qur’an.


Buku setebal 851 Halaman ini, cocok disajikan kepada para pembaca awam maupun spesialis. Keberadaannya diniatkan sebagai bacaan yang menarik bagi orang Kristen, Muslim dan keyakinan lain, bahkan yang tidak beragama sekalipun. Ia ditujukan bagi siapa pun yang tertarik dengan Yesus historis.


Setiap ayat kitab suci dan fakta-fakta independen yang dikutipnya serta interpretasi atas fakta-fakta itu, dinyatakan secara jelas. Setiap argumen maupun bantahan atas argumen tersebut, didiskusikan secara terperinci sehingga memudahkan pembaca untuk menilai kekuatan argumen-argumen buku ini dan mengambil alur interpretasi yang berbeda atas ayat-ayat dan fakta-fakta di dalamnya. Selamat membaca.    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar