Jumat, 28 Desember 2012

Si Genius nan Penyendiri

Koran Jakarta, 24 Desember 2012
 
Judul Buku: Einstein; Kehidupan dan Pengaruhnya bagi Dunia
Penulis: Walter Isaacson
Penerbit: Bentang
Cetakan: I, November 2012
Tebal: 698 Halaman

Siapa yang tidak mengenal sosok yang satu ini ? ia seolah menjadi ikon manusia jenius abad 20. Foto dan gambarnya dengan gaya khas rambut putih berdiri dan lidah menjulur, bisa kita temukan di mana-mana, terutama di kamar-kamar anak remaja dan mahasiswa. Dialah Albert Einstein. 

Padahal konon semasa balita ia dikenal lambat bicara. Bahkan, ketika mulai bisa berkata-kata pada usia dua tahun, Einstein kecil dijuluki der Depperte, si tolol. Label lainnya adalah “hampir terbelakang”, disebabkan kesulitannya dengan bahasa hingga orang-orang di sekitarnya takut kalau ia tak akan pernah mengenyam pendidikan dan tak sanggup belajar.

Lalu bagaimana kisah lengkap tokoh dunia yang memiliki kontribusi besar pada ilmu pengetahuan melalui temuan-temuannya di bidang fisika tersebut ? Buku berjudul Einstein; Kehidupan dan Pengaruhnya bagi Dunia ini, merupakan biografi lengkap penemu teori relativitas itu. Ditulis oleh Walter Isaacson, penulis spesialis tokoh-tokoh populer dunia seperti Steve Jobs dan Benjamin Franklin, asal Amerika Serikat.

Lahir pada pukul 11.30, Jumat 14 Maret 1879 di Ulm, Swabia Jerman dari rahim perempuan bernama Pauline Koch, istri dari seorang pengusaha kasur bulu bernama Hermann Einstein. Pada usia satu tahun, kebangkrutan yang melanda usaha sang ayah membuat keluarganya pindah ke Munich. Di kota inilah Einstein menghabiskan masa kanak-kanak, serta mendapatkan adik perempuan bernama Maria.

Ketertarikannya terhadap fisika dimulai semasa kanak-kanak ia mengamati kekuatan misterius sebuah kompas. Jarum magnet, yang gerakannya seolah-olah dipengaruhi oleh kekuatan tersembunyi dan bukan oleh peralatan mekanis seperti sentuhan atau kontak yang sudah dikenalnya, membangkitkan rasa ingin tahu yang memotivasinya seumur hidup. (Halaman 13-14)

Rasa ingin tahu yang besar, disertai ketekunan dan berkah kecerdasan yang luar biasa membuat suami Mileva Maric ini mengalami kemajuan pesat dalam risetnya. Banyak terobosan yang dilalui, fisika klasik yang telah mapan siap dijungkalkannya. Imajinasi visualnya memungkinkan Einstein melakukan lompatan konseptual yang tak mampu dilakukan oleh para pemikir tradisional pasca Isaac Newton.

Maret sampai Juni 1905, menjadi masa bersejarah bukan hanya untuk Einstein namun juga jagad sains. Selama masa empat bulan yang riuh ini, empat makalah berisi empat teori penting dipresentasikannya ke publik. Teori Kuantum Cahaya pada bulan Maret, Ukuran Molekul pada April, Gerak Brown bulan Mei, dipungkasi pada bulan Juni dengan Relativitas Khusus. Rentetan kreativitas tersebut, membuat ia dipercaya menjadi profesor di Universitas Zurich. (Halaman 101-163)

Sayangnya, kecemerlangan Ayah dari Hans dan Eduard ini dalam bidang sains tidak berbanding lurus dengan kehidupan pribadinya. Setelah sekian lama pisah ranjang dengan Mileva Maric, Einstein akhirnya memutuskan untuk bercerai dan mengakui perselingkuhannya dengan seorang janda bernama Elsa Einstein yang kelak menjadi istri keduanya.

Skandal tersebut memicu kontroversi terhadap sosok yang menyebut dirinya penyendiri ini, yang memang memiliki unsur-unsur yang sangat cocok untuk menjadi seorang bintang media massa. Ia bukan tipe akademisi yang membosankan atau pendiam. Sebaliknya, seorang laki-laki empat puluh tahun yang menawan, baru saja berubah dari tampan menjadi khas, dengan rambut acak-acakan, penampilan santai cenderung kumal, dan cakap membuat lelucon pendek.

Popularitasnya yang menanjak seiring dengan prestasi dan penemuan-penemuannya di bidang fisika, tidak serta merta menjadikannya meraih Hadiah Nobel secara mudah. Penolakan demi penolakan terus dilakukan sebagian orang dengan beragam alasan, mulai dari karyanya yang dianggap teoritis murni, kurang dasar eksperimental, dan tidak melibatkan “penemuan” hukum baru apapun. Diyakini, darah Yahudi yang mengalir dalam tubuhnyalah faktor yang menyebabkan ia selalu terganjal, hingga meraihnya tahun 1921. (Halaman 331)

Bangkitnya Nazi bersama Hitler di Jerman, memaksa Einstein hijrah ke Amerika pada 1 Oktober 1940. Selain karena ancaman Nazi, kepindahannya ke negeri Paman Sam disebabkan karena ketertarikan dan kekaguman pria yang kerap dikaitkan dengan bom atom ini atas sikap toleransi terhadap kebebasan berpikir, kebebasan berbicara, tanpa “kekerasan atau rasa takut”, juga negara yang bebas dari hierarki golongan yang kaku dan sikap merendahkan diri.

Umumnya sebuah biografi, buku setebal 698 halaman ini, bukan hanya memotret kehidupan Einstein, namun juga jejak pemikiran dan temuan-temuannya dalam bidang sains yang menghentak jagat. Dengan kata lain, tidaklah mudah menulis biografi sosoknya. Meski demikian, Isaacson dengan gemilang berhasil menyuguhkan sebuah bacaan dengan narasi yang mengalir dan enak dibaca oleh siapa saja, termasuk yang bukan penyuka sains, terutama fisika. Selamat membaca.

http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/108704

2 komentar:

  1. terimakasih untuk review-nya. jadi nambah target buku.

    ps: gimana ceritanya sih biar dapat buku dari penerbit? harus jadi pembuat resensi profesional gitu? atau pustakawan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas komentarnya. Buku gratis dari penerbit bisa didapat jika resensi buku kita, dari penerbit bersangkutan dimuat di media massa.

      Hapus