Jumat, 25 Juni 2010

Nalar “Pembela” Tuhan


Judul buku: 5 Tantangan Abadi Terhadap Agama dan Jawaban Islam Terhadapnya
Judul Asli: God, Islam and The Skeptic Mind: A Study on Faith, Religious Diversity, Ethics, and The Problem of Evil
Penulis: Saiyad Fareed Ahmad & Saiyad Salahuddin Ahmad 
Penerjemah: Rudy Harisyah Alam Penerbit: Mizan Pustaka
Cetakan: I, April 2008
Tebal: 333 halaman.

Benarkah ada Tuhan di tengah dunia yang tak menentu penuh konflik, kecurangan dan segala keburukan ini? Atau adilkah Tuhan yang membuat ratusan ribu warga Porong mengungsi karena semburan lumpur, namun Ia justru membuat semakin kaya pemilik perusahaan yang punya andil besar atas bencana tersebut? Dimanakah peranan agama ketika para pemeluknya justru “menciptakan” negara yang dikenal terkorup di dunia? Itulah kira-kira pertanyaan-pertanyaan yang selama ini menggelayut dibenak kita. Dan, kurang-lebih, pertanyaan-pertanyaan senada dengan di atas yang ingin di perdebatkan dalam buku setebal 333 halaman ini. Secara garis besar penulisnya, duo Malaysia Saiyad Fareed Ahmad dan Saiyad Salahuddin Ahmad, mencoba untuk mengelaborasi tiga pertanyaan mendasar, yakni mengenai Tuhan, Agama dan Moralitas dalam bingkai perspektif Islam.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut pada dasarnya merupakan pertanyaan usang, namun selalu aktual terhadap eksistensi sebuah agama. Belakangan “menentang” Tuhan bahkan sudah menjadi tren tersendiri yang muncul dalam format gagasan-gagasan seperti sekularisme, materialisme, saintisme, evolusionisme, dan ideologi-ideologi modern lainnya yang diangggap lebih memadai dalam menjawab tantangan jaman.

Tentu saja (hal tersebut) direspon secara beragam, tergantung tingkat kearifan dan kecerdasan masing-masing pemeluk agama. Buku ini bisa jadi termasuk sebuah ikhtiar untuk merespons ideologi-ideologi di atas, namun yang jelas penulisnya meng-counter balik secara cerdas, yakni dengan buah pemikiran berupa karya tulis (buku) bukan dengan aksi anarkis, pembakaran atau pelarangan atas buku-buku yang berideologi berbeda.

Dalam konteks agama problematika juga kerap mengemuka bukan hanya antara kalangan ateis dengan teistik, potret buram justru lebih kerap tercermin dari perseteruan antara satu agama dengan yang lain. Selain itu, konflik intern dalam agama antara satu mazhab atau aliran dengan yang lainnya, merupakan peristiwa sejarah yang lazim ditemukan.

Di dalam tradisi Islam, perdebatan sengit tidak hanya berkutat pada wilayah ketuhanan (ilahiyah), bahkan pebedaan pendapat mengenai apakah al-Qur’an merupakan makhluk, yang diwakili kaum Mu’tazilah, atau kalamullah, yang dianut ahlu-sunnah, kerap berakhir dengan pengkafiran bahkan tidak jarang berujung pada peperangan.

Tuhan
 
Tatanan yang rumit, konsistensi dan desain yang presisi yang teramati di alam semesta meniscayakan adanya suatu kekuatan yang Maha Tinggi, Maha Kuasa, cerdas dan memiliki tujuan, merupakan logika yang umumnya digunakan bagi yang meyakini adanya Tuhan. Kepercayaan pada Tuhan pada dasarnya dapat dibuktikan oleh prinsip-prinsip logika, sains dan pengalaman.

Meski demikian, menurut Immanuel Kant, argumen kosmologis dan ontologis justru tidak dapat memberikan pemahaman yang memadai akan Tuhan. Kant lebih menekankan aspek moralitas, karena menurutnya tujuan moralitas adalah terciptanya “Kebaikan Tertinggi”, dimana kebaikan sempurna harus dibalas dengan kebahagiaan sempurna. Nyatanya di dunia ini tidak terdapat balasan yang proporsional bagi orang-orang yang baik. Di sinilah letak keniscayaan eksistensi Tuhan, yakni untuk membalas sikap taat terhadap perintah-perintah moral dan mewujudkan Kebaikan Tertinggi. (hlm.38).

Sumber pengetahuan manusia, di dalam Islam, terdapat tiga: pertama, alam semesta, kedua, manusia itu sendiri, dan ketiga, wahyu Tuhan baik dalam bentuk kitab suci maupun ilham kepada individu-individu tertentu. (hlm. 56). Sedangkan Tuhan memberikan kepada manusia tiga perangkat dasar untuk menangkap sinyal pengetahuan-Nya: Kemampuan rasional atau nalar (burhani), pancaindra (bayani), dan terakhir intuisi atau pengetahuan yang dikaitkan dengan hati dan ruh (irfani).

Melalui ketiga sumber pengetahuan di atas, Tuhan dikenal melalui manifestasi sifat-sifat-Nya. Setiap entitas ciptaan (makhluk) memanifestasikan Tuhan dengan intensitas yang bervariasi. Misalnya, jagat raya menunjukkan keluasan, tumbuhan memanifestasikan kehidupan, dan pucak dari seluruh ciptaan-Nya yang paling berpotensi mencerminkan atau memanifestasikan seluruh sifat Tuhan dengan intensitas terbesar adalah manusia.

Manusia-lah ciptaan-Nya yang memiliki cinta, pengetahuan, pengampunan, dan keadilan yang diperlihatkan diantara individu-individu maupun pada tingkat masyarakat adalah manifestasi cinta, pengetahuan, pengampunan, dan keadilan Tuhan.

Sifat Maha Kuasa Tuhan tidak hanya meliputi kekuasaan tak terbatas untuk bertindak, tetapi juga kekuasaan untuk menentukan derajat kekuasaan bertindak yang dapat dimiliki benda-benda atau makhluk. (hlm.128). manusia bebas dalam arti bahwa Tuhan memilih untuk tidak menentukan pilihan mereka, bukan dalam arti bahwa Dia tidak dapat menentukan pilihan mereka. Sehingga tidak mengherankan apabila kemudian manusia seringkali mengingkari keberadaan-Nya.

Selain itu, kekuasaan yang dianugerahkan kepada manusia jelas merupakan kekuasaan yang terbatas. Misal kita tidak dapat memilih untuk tidak bernafas, berkedip, makan, tidur, “buang hajat”, dan lain-lain. (hlm. 163).

Dalam hal keadilan, Tuhan memang Maha Adil, karena Ia tidak terikat dengan ruang dan waktu sedangkan kita sebaliknya. Dalam konsepsi Islam, dan agama lain dengan penyebutan dan istilah yang berbeda-beda, kehidupan manusia tidak hanya merentang di dunia tetapi juga di akhirat.

Di dunia Tuhan masih membiarkan manusia untuk bermain-main dengan hukum, pengadilan, jabatan, penyuapan, korupsi tanpa bisa tersentuh hukuman, sedang di akhirat Ia yang menjadi al-Hakim langsung atas segala perbuatan manusia, bukan lagi hakim dan jaksa yang penuh skandal dan tertangkap KPK. Keyakinan akan adanya dunia eskatologis inilah yang merupakan salah-satu perbedaan antara kaum ateis dan teis sehingga seharusnya menjadikan manusia beragama lebih sabar tanpa mengurangi etos hidupnya dalam menghadapi problematika.

Agama
 
Secara general, terdapat empat sikap dalam memandang agama: eksklusif, pluralis, inklusif, dan skeptis. Dalam definisi Jhon Hick kelompok eksklusif berpandangan bahwa ajaran suatu agama tertentu adalah satu-satunya cara mencapai keselamatan dan kebenaran. (hlm. 181). Biasanya didukung oleh dalil teologi, filsafat, sejarah dan pengalaman.

Kalangan pluralis sebaliknya, bahwa Tuhan mengungkapkan diri-Nya melalui banyak agama, dan bahwa keselamatan bukan milik ekslusif suatu kelompok manapun. Orientasi kelompok ini lebih kepada fungsi moral-praktis bagi masyarakat, daripada klaim-klaim kebenaran individual.

Sikap inklusif lahir sebagai jalan tengah antara kalangan ekslusif dan pluralis. Sikap ini berasumsi bahwa Tuhan dapat dan memang menyingkapkan diri-Nya dengan sejumlah cara yang berbeda. Namun karena kebenaran hanya satu, maka kebenaran mutlak hanya bisa ditemukan dalam satu agama.

Sedangkan kalangan skeptis, memandang seluruh agama, dan bahkan Tuhan sekalipun semata-mata hanya sebagai karangan manusia yang semuanya tidak memiliki kebenaran yang konkret.
Di sepanjang sejarahnya Islam sendiri, yang bermakna “sikap tunduk yang mengantarkan pada kedamain”, mengakui hanya satu agama wahyu yang abadi dan primordial, yakni Islam, atau sikap tunduk yang damai pada kehendak Allah. Semua Nabi dari Adam hingga Muhammad Saw. Merupakan pembawa ajaran yang sama.

Sehingga, selagi manusia berpegang pada agama primordial, yakni bersikap berserah diri secara tulus kepada Allah sebagai kuci bagi keselamatan, maka ia akan mendapat keselamatan dan rahmat-Nya.

Hal ini sebagaimana firman-Nya: “barangsiapa mengerjakan amal shaleh, laki-laki maupun perempuan, dan beriman, mereka akan masuk syurga, dan tak sedikit pun mereka akan didzalimi. Siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang menyerahkan diri sepenuhnya (aslama wajhahu) kepada Allah, melakukan kebaikan, dan mengikuti jalan Ibrahim yang benar imannya? (QS. An-Nisa (4): 124-125).

Jadi bukankah arti keberadaan agama adalah agar terjadinya kompetisi yang sehat dalam berbuat kebaikan bukan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar