Jumat, 25 Juni 2010

Hijrah Sebagai Tonggak Sejarah


Judul Buku: Dari Puncak Bagdad: Sejarah Dunia Versi Islam
Judul Asli: Destiny Disrupted: A History of the World Through Islamic Eyes
Penulis: Tamim Ansary
Penerjemah: Yuliani Liputo
Penerbit: Zaman
Cetakan: I, tahun 2010

Selama ini persepsi mengenai sejarah dunia selalu terbentuk dengan asumsi bahwa Barat (Eropa) sebagai pusat episentrum dari pergerakan yang ada di seluruh dunia, yang lain hanyalah periferi yang berfungsi sebagai pelengkap dari terbentuknya sejarah Barat.

Dengan kata lain ketika menyebut kata “Dunia” maka yang dimaksud oleh kata itu identik dengan Dunia Barat. Asumsi dan paradigma inilah yang ingin dirubah oleh Tamim Ansary, penulis buku ini. Konsepsi modern tentang sejarah dunia yang meminggirkan bahkan menihilkan eksistensi kaum muslimin, termasuk peradaban lain seperti china, dalam narasi besar dunia.

Marginalisasi ini bukanya tanpa sebab, persaingan, konfrontasi bahkan peperangan yang sering terjadi antara Islam dan Barat merupakan salah satu alasannya, selain itu juga dikarenakan konsepsi modern yang terbentuk saat ini merupakan konstruksi Barat-sentris mengingat mereka penguasa peradaban saat ini.


Asal Mula

Berbeda dengan sebagian agama yang menandai hari kelahiran atau kematian pendiri mereka sebagai titik awal, Islam tidak memberikan banyak perhatian pada hari kelahiran Muhammad. Namun peristiwa Hijrah-lah yang menempati posisi terpenting dalam sejarah Islam sehingga digunakan sebagai tonggak sejarah dimulainya babakan baru dunia Islam (hlm. 61), proses migrasi Muhammad dan Abu Bakar kemudian diikuti para shahabat lainnya dari kota Makkah ke Madinah.

Kata hijrah berarti pemutusan hubungan, juga memiliki makna penegasan mengenai posisi Muhammad dan pengikutnya, dengan era sebelumnya. Sebelum hijrah Muhammad adalah seorang pendakwah dengan pengikut individual, setelah Hijrah beliau adalah tempat masyarakat untuk mendapatkan lebih dari sekedar spiritulitas-teologis tetapi juga pemimpin politik-sosial bukan sekedar spiritual-teologis. Hijrah juga menunjukkan terbentuknya ummah sehingga Islam bukan sekedar cita-cita individual namun sudah bersifat komunal.

Pasca wafatnya Muhammad, suksesi kepemimpinan ummah kemudian dilanjutkan oleh Khulafa al-Rasyidin empat orang shahabat Nabi paling terkemuka, Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali yang dipilih secara demokratis kecuali Umar yang ditunjuk secara langsung oleh Abu bakar. Setelah masa tersebut ummah kemudian dipimpin secara otoritarian-monarkis. Walau masih menggunakan istilah khalifah, para pemimpinnya tak ubah layaknya raja, yang mewariskan kekuasaan kepada anak keturunannya.

Meski demikian hal tersebut tidak mengurangi ekspansi Islam, dalam rentang waktu yang relatif singkat Islam telah menyebar dan kekuasaannya telah melewati batas-batas imajinasi Bangsa Arab manapun sebelumnya.

Ketika di Eropa penduduk primitifnya baru melakukan interaksi dengan wilayah Timur (Islam), betapa mereka melihat rumah-rumah yang indah, sutra dan satin yang bahkan dikenakan oleh rakyat jelata, makanan lezat, rempah-rempah, parfum, emas dan hal-hal lain yang membuat iri hati. (hlm.228). inilah titik api yang kemudian berkobar menjadi perang Salib yang berkepanjangan, bahkan sisa-sisa kecemburuan tersebut diyakini masih ada hingga kini.

Wacana Tanding


Mengingkari kebesaran sejarah bangsa lain merupakan sebuah kenaifan yang seharusnya tidak terjadi. Mereka lupa bahwa “dunia lain” tersebut pada masanya merupakan adidaya yang disesaki orang-orang hebat bahkan berkuasa lebih lama daripada Barat yang baru setengah millennium dalam rentang sejarah yang panjang.

Dalam suasana seperti itulah buku ini dilahirkan, penulisnya bukan sekedar menulis ulang sejarah Islam yang sudah dikenal luas pemeluknya, lebih dari itu buku ini merupakan pembalikan, sebuah wacana tanding atas narasi yang telah terbentuk seolah-olah eksistensi Islam yang terbentang selama empat belas abad hanya cukup direpresentasikan dalam satu bab sejarah Dunia.

Buku ini meskipun lahir dari tangan seorang muslim, namun ia hadir di tengah jantung peradaban Barat saat ini, Amerika, sehingga kuat dugaan bahwa buku ini dihadirkan bukan untuk bacaan kaum muslim an sich, tetapi justru untuk konsumsi komunitas di Barat.

Buku ini juga dimaksudkan bahwa Islam dapat dilihat sebagai salah satu diantara banyak sejarah dunia yang berlangsung secara bersamaan, masing-masing dalam beberapa cara mencakup semua yang lain. Islam adalah narasi besar yang bergerak melintasi waktu, berlabuh dengan kelahiran komunitas itu di Makkah dan madinah empat belas abad yang lalu (hlm.562).

Mengingat sejarah dunia adalah kisah seluruh umat manusia dari sudut pandang tertentu, dimana setiap sejarah berisi setiap yang lain, dengan semua peristiwa aktual terletak di suatu tempat yang berkaitan dengan sebuah narasi sentral, maka tugas baru sejarah Dunia adalah mengkompilasi semuanya untuk membangun sebuah komunitas dalam satu sejarah bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar