Jumat, 25 Juni 2010

Sang Gandhi dari Amerika

Judul Buku: Hebron Journal: Catatan Seorang Aktivis Perdamain dari Amerika yang Melawan Kekejaman Israel di Palestina dengan Jalan Cinta dan Anti-Kekerasan
Judul Asli: Hebron Journal: Stories of non Violence Peacemaking
Penulis: Arthur G. Gish
Penerbit: Mizan
Cetakan: Pertama, 2008
Tebal: 550 halaman

“Tiga tentara (Israel) mengacungkan senapan mereka dan menghampiri sekelompok orang Palestina yang menonton. Aku menduga mereka akan menembak orang-orang itu. Aku segera menghambur ke hadapan tentara-tentara itu, mengangkat kedua tanganku, dan berteriak, “tembak aku, tembak aku, ayo tembak aku!” Tentara-tentara itu langsung menyingkir.

Sebuah Tank datang menderu ke hadapanku, moncong raksasanya mengarah kepadaku. Aku mengangkat kedua tanganku di udara, berdoa, dan berteriak, “Tembak, tembak, “Baruch hashem Adonai (Terpujilah nama Tuhan)” tank itu berhenti beberapa inci di hadapanku.

Aku lantas berlutut di jalanan, berdoa dengan tangan terangkat di udara. Aku merasa sendiri, lemah, tak berdaya. Aku hanya bisa menjerit kepada Tuhan.”

Kisah tersebut bukan naskah skenario film nan heroik ala Holywood atau dramatisasi yang biasa ditemukan pada buku novel fiksi, namun merupakan sebuah kesaksian nyata dari seorang petani organik dan aktivis Christian Peacemaker Teams (CPT) asal Amerika bernama Arthur G. Gish, mengenai bagaimana perlakuan kejam tentara Israel terhadap rakyat Palestina. Kesaksian-kesaksian berupa catatan harian Gish di Palestina tersebut kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul Hebron Journal.

Minatnya terhadap konflik Palestina- Israel bermula pada Maret 1960, ketika pria berjanggut putih lebat tersebut mengunjungi tanah suci (Yerusalem) selama tiga minggu. Istrinya, Peggy, menjadi anggota delegasi CPT ke Tepi Barat pada Februari 1995. Musim gugur 1995, Gene Stoltzfus memanggil CPT dan meminta untuk mengimkan seseorang untuk bergabung dengan tim di Hebron. New Covenrat Fellowship memintanya untuk berangkat.

Semenjak itu, jamaah pada Church of The Brethern ini secara rutin mondar-mandir Palestina-Amerika setidaknya sebanyak 13 kali. Menurut pengakuannya pergi ke Hebron tampaknya sudah menjadi kebiasaan. Ia terus merasakan panggilan luhur dan mendalam untuk bekerja demi keadilan sosial dan rekonsiliasi.

Anti Kekerasan
 
Bisa jadi CPT-lah yang membuatnya "berjodoh" dengan konflik Palestina-Israel tersebut, akan tetapi kegigihannya akan perdamaian dan konsistensinya akan gerakan anti kekerasanlah yang membuat ia dikenal begitu teguh dengan sikapnya hingga dekat dengan kalangan rakyat Palestina. Art adalah orang yang seolah-olah secara sui generis pecinta perdamaian, meskipun kita belum mendengar atau mengenal buah pikirnya, namun dari sikapnya yang kalem serta wajahnya nan selalu dihiasi senyum tulus, kita dapat menebak bagaimana kepribadian orang tersebut. Bandingkan misalnya dengan kepribadian dan senyum para pelaku bom Bali yang jauh dari kesan damai. Setidaknya demikianlah pengalaman penulis.

Terbukti, Jurnal Art ini dapat menggambarkan secara lebih akurat bagaimana gagasan yang tertanam di benaknya. Simak persepsinya mengenai senjata berikut ini: " senjata sungguh bodoh dan tidak ada gunanya. Anda tidak dapat membangun apapun dengan senjata, anda tidak dapat bertani dengan senjata, anda tidak dapat membesarkan anak dengan senjata, anda tidak dapat merawat orang sakit dengan senjata. Senjata jelas tidak memberikan rasa aman maupun perdamaian ataupun kebebasan. Para tentara (Israel) itu memiliki banyak senjata, tetapi mereka tidak merasa bebas maupun aman" (hlm. 58). Sebuah sikap tegas yang menolak kekerasan dengan dalih apapun.

Keteguhan sikap lelaki kelahiran Pennsylvania ini untuk melawan tanpa senjata maupun kekerasan semakin jelas terlukis pada peristiwa yang terdokumentasikan pada tanggal 16 Desember 1995, ketika Art melihat pemilik toko (warga Palestina) cepat-cepat menutup toko mereka. Mereka diamankan oleh para pemukim (sebutan untuk kalangan Yahudi Israel), sehingga memmbuat Art tergugah untuk berdiri dan melindungi warga Palestina. Sehingga pemukim Yahudi mengalihkan sasarannya ke arahnya. Demi menyelematkan diri, Art pun bergegas berlindung ke arah para tentara Israel, yang ternyata tidak melindunginya sama sekali dari serangan pemukim Yahudi. Para pemukim ini meneriaki, memukuli, merengut dan mendorong Art secara bebas.

Keberanian mentalnya di medan konflik bukan tanpa alasan, karena menurutnya "anti kekerasan bukanlah sains yang bisa dieksplorasi di ruang-ruang tertutup, bukan pula di atas meja diskusi. Ia akan jelas maknanya dengan menjalani hidup di tengah-tengah konflik dan penindasan semacam ini. Gerakan anti kekerasan tidak dapat di kalkulasi dan di ukur. Ini seni. Diperlukan sikap peka, terbuka dan mau mengalah. Mungkin anti kekerasan lebih dari sekedar seni. Ini adalah sebentuk doa".

Konflik Produk Abad 20
 
Konflik yang membuat tanah Palestina saat ini bagai episentrum kekerasan, pada dasarnya merupakan imbas dari apa yang terjadi di benua Eropa Modern. Selama periode Bizantium, hampir semua orang di Hebron beragama Kristen, kemudian masuk Islam. Maka pada dasarnya para muslim di Hebron memiliki nenek moyang baik Yahudi maupun Kristen. Abad ke 16 kaum muslim Hebron menerima orang-orang Yahudi yang melarikan diri dari inkuisisi di Spanyol.

Iklim damai itu kemudian runtuh diakibatkan oleh adanya gerakan Zionisme yang memanggil kaum Yahudi untuk datang ke Palestina, berkembang sebagai reaksi terhadap anti semitisme di Eropa dan Amerika Utara, dan juga dari sebuah ambisi agar bangsa Yahudi hidup merdeka di tanah air mereka pada zaman dahulu.

Meski demikian konflik yang terjadi di Palestina saat ini pada dasarnya bagi Art, bukanlah karena salah satu dari warga Israel atau Palestina adalah orang-orang jahat, problemnya justru terletak pada hubungan mereka yang dibangun berdasarkan parameter "yang kuat" dan "yang lemah", "mereka" dan "kami", sehingga membuat orang-orang baik melakukan hal-hal yang buruk. (hal. 194)

Sehingga soluisinya agar perdamaian dapat terwujud adalah kedua belah pihak (Israel dan Palestina) harus dapat melepaskan kisah-kisah mengerikan mengenai pihak yang lain, dapat mempercayai dan menciptakan sebuah permulaan baru. (hal. 105). Dan melupakan catatan buruk masa lalu.sebuah utopia yang semakin jauh dari kenyataan bila melihat perilaku tentara Israel dewasa ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar