Jumat, 25 Juni 2010

Cahaya Berhaji


Judul Buku: Terapi Hati di Tanah Suci: Ya Allah Jadikan Aku Cahaya
Penulis: Hernowo
Penerbit: Lingkar Pena Kretiva
Cetakan: Pertama, September 2008
Tebal: 200 halaman

Di dalam Islam, ibadah haji menempati posisi terakhir dari rukunnya yang lima. Setelah Syahadat, Shalat, Zakat dan puasa. Apabila rukun yang pertama hingga keempat semua muslim wajib melaksanakannya, sedangkan ibadah haji hanya diwajibkan kepada mereka yang benar-benar mampu baik secara finansial, mental hingga kesehatan fisiknya. Hal ini dikarenakan haji hanya dimungkinkan terlaksana bila kita mampu melaksanakan perjalanan untuk berkunjung ke rumah Allah (bait allah) di Makkah juga ritual lainnya di Madinah, dua kota suci umat Islam yang terletak di Jazirah Arab. Inilah merupakan salah satu ke "unikan" dari ibadah ini.

Sebagai sebuah perjalanan ibadah yang spesial dan cukup panjang, di dalam melaksanakan haji tentu saja didapati beraneka pengalaman religiousitas (religious experiences) oleh pelakunya sehingga dari pengalaman tersebut diharapkan membekas dan mampu merubah semua aspek kehidupannya menjadi lebih baik, atau yang dikenal dengan istilah haji mabrur. Inilah yang menjadi point utama buku ini, penulisnya (Hernowo) hendak sharing pengalaman pribadinya kepada pembaca, terutama calon jama'ah haji, bagaimana ritualitas yang dilakukannya selama menjalankan ibadah haji dan apa yang dirasakannya setelah menjadi tamu Allah tersebut, selain itu kelebihan buku ini juga mengajarkan kepada pembaca bagaimana metode menghimpun pengetahuan mengenai ibadah haji dari berbagai buku yang dianggap cukup praktis sehingga memudahkan calon jama'ah dalam melaksanakan ibadahnya.

Bagi "sang pengikat makna" ini, haji memiliki arti yang sangat penting karena pada dasarnya adalah evolusi manusia menuju Allah. Haji mempertunjukkan banyak hal secara bersamaan: "pertunjukan penciptaan", "pertunjukan sejarah", "pertunjukan keesaan", "pertunjukan ideologi Islam dan Ummah". (hlm. 27). Dengan individu yang melaksanakan haji sebagai pemain tunggal.

Ibaratnya hendak menjumpai sebuah pertunjukan yang maha dahsyat, orang tentu dituntut agar memiliki persiapan secara komprehensif, minimal mengetahui skenario apa yang hendak dilakukan di depan "pentas" tersebut, demikian pula ketika hendak menjalankan ibadah haji. Orang harus memiliki bekal yang cukup untuk bisa cum laude, lulus secara memuaskan. Meskipun istilah bekal selalu merujuk pada hal yang berkaitan dengan barang atau uang, namun dalam berhaji keduanya saja tidaklah cukup, karena harus ada bekal ketiga yang berbentuk pengetahuan-pengetahuan tentang haji. Dan buku (kitab) merupakan bekal pengetahuan yang paling dapat diandalkan dan tak terbatas.

Hal ini juga sejalan dengan historisitas peradaban Islam sendiri, yang pada hakikatnya adalah peradaban kitab. Peradaban Islam berkembang secara luar biasa karena para pembangunnya mengandalkan kitab. Mereka menyerap ilmu dari manapun sumbernya dengan mengandalkan, terutama, kegiatan membaca dan menuliskan kembali hal-hal yang mereka baca dalam bingkai al-Qur'an.

Metodenya, menurut penulis 34 buku ini, dengan cara "mengikat makna". Mengumpulkan buku-buku yang terkait dengan haji, tanah suci, Masjidil Haram, Madinah al-Munawwarah, biografi Nabi, sejarah awal Islam, dan kebudayaan Islam. Istilah "mengikat makna" sendiri merupakan sebuah orisinil yang diciptakan oleh Hernowo, untuk merujuk pada proses kreatif baca-tulis. "Mengikat makna" setidaknya memiliki tiga manfaat utama: pertama, membaca merupakan perintah Allah pertama kepada Muhammad Saw. Yang diteruskan kepada umatnya. Jadi ketika kita membaca sekaligus kita juga melakukan ibadah. Kedua, ketika menjalankan kegiatan membaca dan menulis ("mengikat makna"), kita diberikan kesempatan untuk menggunakan secara luar biasa pula. Efeknya membuat benak (mind) sekaligus otak (brain) terolahragakan secara dahsyat. Ketiga, membaca dan menulis merupakan kegiatan belajar yang paling praktis, sangat ilmiah dan dapat memperkaya wawasan diri. (hlm. 198).

Dalam konteks "mengikat makna" berhaji misalnya, setelah melewati proses metode di atas, kita kemudian dapat lebih mengetahui bahkan menyelami bagaimana ganasnya alam padang pasir nan tandus, gersang dan keras namun mampu melahirkan agungnya sebuah kepribadian (akhlak) Nabi yang lemah lembut. Sesuatu yang secara rasional tidak mungkin terjadi, kecuali beliau saw. Memang seorang utusan Allah dan demikian kenyataannya.

Muhammad tumbuh subur dan sehat di daerah gurun. Tubuhnya sedang, tidak tinggi tidak juga pendek. Dada dan bahunya bidang, lengannya panjang, telapak tangan dan kakinya kasar. Kepalanya agak bulat dan punggungnya kukuh. Beliau membiarkan janggutnya yang berwarna hitam tumbuh dengan lebat di seputar wajahnya yang putih kemerahan. Dahinya lebar dan menonjol serta ada urat kentara di tengah membelah ke bawah dekat pertemuan dua alis tebalnya.

Bola matanya agak hitam dan coklat, selalu berkilauan dengan bulu mata panjang lentik. Rambutnya hitam lebat, agak bergelombang, sering dikepang dua atau empat, atau dibiarkan menggantung bebas mencapai pundaknya. Pipinya halus, hidungnya mancung, mulutnya agak lebar. Deretan giginya putih dan dirawat dengan rajin. Dari dada ke pusarnya tumbuh rambut halus bagai baris, demikian juga punggungnya.
Kalau berjalan, tampak beliau mengeluarkan tenaga, tetapi begitu ringan, badannya agak doyong bagai orang sedang menuruni bukit. Kalau menoleh kemana saja beliau selalu memalingkan seluruh badannya. (hlm. 75).

Mengetahui sejarah hidup Nabi sangat penting bagi kalangan muslimin sehingga dengannya, kita mengetahui spirit apa yang hendak disampaikan oleh sang Nabi, terlebih bagi yang hendak menjalankan ibadah haji. Namun bagi penulis buku ini, hal tersebut tidaklah cukup. Hernowo, hasil dari proses "mengikat makna"nya, bahkan melukiskan bagaimana fisik dari sosok manusia agung tersebut. Sebuah kewajaran bagi siapapun yang merindukan panutan hatinya, dia akan berusaha mencari seluk-beluk sang idola secara lebih mendetail. Begitulah kira-kira yang dialami penulis buku ini.

Satu ritual yang tidak pernah ditinggalkan oleh penulis buku ini ketika berhaji, yakni melaksanakan shalat fajar dan diikuti dengan melantunkan "do'a cahaya" yang berbunyi: "Ya Allah jadikanlah cahaya dalam hidupku, cahaya dalam kuburanku, cahaya dalam pendengaranku, cahaya dalam penglihatanku, cahaya dalam rambutku, cahaya dalam kulitku, cahaya dalam dagingku, cahaya dalam darahku, cahaya dalam tulang-tulangku, cahaya di hadapanku, cahaya di belakangku, cahaya di samping kananku, cahaya di samping kiriku, dan cahaya di atasku dan di bawahku. Ya Allah, tambahkanlah cahaya bagiku, limpahkanlah cahaya untukku, dan jadikanlah aku cahaya".

Lalu, apakah haji sang penulis telah mabrur? Hanya Allah-lah yang tahu..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar