Senin, 05 Maret 2012

Menghidupkan Sifat Berbelas Kasih

Koran Jakarta, 6 Maret 2012

Judul Buku: Compassion
Penulis: Karen Armstrong
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, Januari 2012
Tebal: 247 Halaman

Nama Karen Armstrong selama ini dikenal di seantero jagad akademisi dunia sebagai profesor yang piawai mengurai pelik sejarah agama-agama. Di Indonesia, karya-karyanya semisal Sejarah Tuhan dan Masa Depan Tuhan, bahkan telah menjadi semacam buku babon yang wajib dibaca para sarjana agama.

Namun, penghargaan yang diterimanya pada Februari 2008 dari sebuah organisasi nirlaba swasta yang intens memberikan penghargaan setiap tahun kepada orang-orang yang diangap memiliki kontribusi besar terhadap perbedaan bernama TED (Technology, Entertainment, Design), membuat Karen berpikir lebih menukik ke dalam,  menuju ke intisari agama yaitu belas kasih.

Maka lahirlah buku berjudul Compassion ini. Merupakan akumulasi kegelisahan penulisnya atas begitu banyaknya penyalahgunaan berat agama dalam satu dekade terakhir. Sebagaimana yang dilakukan para teroris yang telah menggunakan agama untuk membenarkan kekejaman mereka yang melanggar nilai-nilai agama yang paling sakral.


Hampir semua agama bersikukuh bahwa belas kasih merupakan penguji spiritualitas sejati yang mendekatkan manusia dengan Tuhan. Sayangnya, pada saat ini tidak sedikit ketamakan, kebencian, dan ambisi, maupun emosi-emosi lain yang memperturutkan nafsu sendiri, kerap dibungkus dalam retorika agama.

Walhasil, belakangan ini kita menjadi semakin jarang mendengar tentang belas kasih dalam agama. Padahal, menurut Karen, belas kasih inheren dalam ajaran agama itu sendiri. Istilah belas kasih atau compassion memiliki arti menanggungkan (sesuatu) bersama orang lain, menempatkan diri kita dalam posisi orang lain, untuk merasakan penderitaannya seolah-olah itu adalah penderitaan kita sendiri, dan secara murah hati masuk ke dalam sudut pandangnya.

Secara tepat belas kasih diringkas dalam Kaidah Emas, yang meminta kita untuk melihat ke dalam hati kita sendiri, menemukan apa yang membuat kita tersakiti, dan kemudian menolak, dalam keadaan apa pun, untuk menimbulkan rasa sakit itu pada orang lain. Belas kasih, oleh karena itu, dapat didefinisikan sebagai sikap altruisme konsisten yang berprinsip.

Terdapat 12 langkah menumbuhkan belas kasih yang dipaparkan dalam buku karya mantan biarawati ini; belajar tentang belas kasih, melihat dunia sendiri, menumbuhkan belas kasih pada diri sendiri, empati, perhatian penuh, tindakan, memahami betapa sedikitnya yang diketahui, mengetahui bagaimana seharusnya berbicara kepada sesama, pengetahuan, pengakuan dan mencintai musuh.

Diakui Karen, belas kasih dan cinta imparsial yang universal tidak akan tumbuh hanya dalam semalam. Oleh karena itu, menjadikan ke-12 langkah tersebut menjadi bagian dari rutinitas harian adalah hal yang niscaya jika hasilnya ingin maksimal. Butuh waktu yang lebih panjang untuk mereorientasi pikiran dan hati; transformasi ini biasanya berjalan lambat, tidak dramatis, dan bertahap.  

Terlebih, dalam banyak hal, belas kasih masih terasa asing bagi gaya hidup masyarakat modern. Ekonomi kapitalis yang bersifat sangat kompetitif dan individualistis, dan secara terang-terangan mendorong menempatkan diri sendiri terlebih dahulu dibanding orang lain, seakan berusaha meredam tumbuhnya belas kasih.

Bahkan, kalangan positivis, yang percaya sains menjadi satu-satunya kriteria kebenaran, berpendapat bahwa gen manusia secara tak terhindarkan bersikap egois dan bahwa manusia terprogram untuk mengejar kepentingannya sendiri tanpa peduli apa pun akibatnya bagi saingannya. Hasilnya, altruisme sering dianggap hanya sebatas ilusi.

Tujuan penulisan buku setebal 247 halaman ini adalah menyebarkan Piagam Belas Kasih (Charter for Compassion), yang notabene ditulis oleh para pemikir terkemuka dari berbagai agama besar dan akan mengembalikan belas kasih sebagai inti kehidupan religius dan moral. Piagam ini diharapkan mampu melawan suara-suara ekstremisme, intoleransi, dan kebencian yang memercik atas nama agama.

Dalam mendedah setiap langkah, Karen berusaha menggunakan beragam disiplin keilmuan, termasuk mekanisme otak dan hormon-hormon yang dianggap menimbulkan emosi positif seperti cinta, belas kasih, rasa syukur, dan permaafan. Penelusuran atas jejak peradaban manusia yang panjang pun dilakukan, demi membuktikan bahwa sikap belas kasih pada dasarnya telah tumbuh di sepanjang peradaban manusia.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar