Minggu, 25 Maret 2012

Kicau Presiden Jancuker

Jawa Pos, 25 Maret 2012

Judul Koran: Ngawur karena Ingin Tegak 
Judul Buku: Ngawur Karena Benar
Penulis: Sujiwo Tejo
Penerbit: Imania
Cetakan: I, Februari 2012
Tebal: 248 Halaman

Menghibur sekaligus mencerahkan. Jenaka tanpa harus melupakan persoalan bangsa. Begitu kuat kecintaan dan kerinduannya terhadap sejarah masa lalu serta budaya yang diwariskannya. Sebesar kecintaannya terhadap negara sehingga ia mau menghabiskan energinya untuk membedah beragam peristiwa teraktual dengan sudut pandangnya yang beraneka.

Itulah kesan dan apresiasi atas sosok bernama Sujiwo Tejo dalam buku berjudul Ngawur Karena Benar ini. Berisi kumpulan tulisannya yang tersebar di berbagai media massa nasional seperti Jawa Pos, yang memang secara rutin setiap hari Minggu, Presiden Jancuker, begitu ia dijuluki di jejaring sosial twitter, ini didaulat menjadi penulis tetap di rubrik “Wayang Durangpo”.   

Entah apa alasan tepatnya, mengapa ia memilih judul tersebut. Dalam pengantarnya, pria kelahiran Jember lima puluh tahun silam ini menyatakan ngawur karena benar adalah jurus terakhirnya setelah mentok pada jurus-jurus lain yang konon sistematis, santun dan berbudi pekerti. Namun, ternyata semuanya topeng belaka, yang hanya menyisakan kepalsuan.        

Keluar dari pakem, nampaknya menjadi ciri khas dan semangat yang dikobarkan oleh lelaki berambut gondrong ini. Hal demikian bukan hanya terbaca dari komentar-komentarnya sebagaimana yang sering dilontarkan dalam sebuah acara di televisi swasta nasional, namun juga melalui kicauannya dalam jejaring sosial sebagaimana yang disebutkan di atas.

Semangat yang sama akan kita lihat pada tulisan-tulisannya dalam buku setebal dua ratus empat puluh delapan halaman ini. Tejo, berusaha menarik para tokoh dalam pewayangan seperti Petruk, Limbuk, Bagong dan lain-lain, ke dalam kehidupan dan persoalan Indonesia saat ini. Identitas dan pengetahuannya mengenai dunia pewayangan, pastinya lebih dari cukup mengingat ia seorang dalang.

Salah satu yang paling menarik diantara 37 tulisan yang terkumpul dalam buku inin adalah tulisan berjudul Sang Prabu Dipada’no Kebo. Tejo, dengan lincah, meloncat-loncat antara isu paling mutakhir seputar ulah para demonstran yang membawa kerbau bertuliskan SiBuYa, dengan menggunakan nama-nama tokoh pewayangan semisal Prabu Yudistira dan Duryudhana sehingga mampu mebuat pembaca seolah ziarah ke setting pewayangan dengan cerita kekinian. Dengan tanpa mengaburkan substansi persoalan.      

Hampir semua, kalau tidak semuanya, tulisan karya Dalang Edan dalam buku ini memiliki gaya demikian. Penuh satire, dengan kosmologi dan para tokoh pewayangan berbaur dengan isu kontemporer. Meski tanpa menyebut nama secara langsung, tetapi pembaca tetap mampu menangkap siapa yang mejadi topik pembicaraan. Hibridisasi masa lalu dan persoalan saat ini adalah kekhasan yang dimilikinya.  

Pengetahuannya atas beragam disiplin keilmuan, seni rupa, musik, akting dan sastra diperlengkap dengan latar belakang pendidikannya di dua jurusan ilmu eksak: matematika dan Teknik Sipil, tidak lantas melunturkan keyakinan dan kesan misterius dan klenik terhadap sosoknya tidak juga membuat ia kehilangan kepercayaan terhadap kearifan nenek moyang.

Tejo, misalnya begitu yakin dengan ramalan Jayabaya mengenai kebangkitan Nusantara yang, menurutnya, tidak lama lagi sebagaimana dalam tulisannya yang berjudul Menyongsong Ramalan Kedelapan Jayabaya. Ia bahkan berani menyebutkan tahun, yaitu 2012 sebagai sebuah titik balik kebangkitan tersebut.       

Menelusuri halamn demi halaman buku ini, membuat kita merasakan betapa uniknya gagasan seorang Sujiwo Tejo. Dalam melihat sebuah peristiwa, ia selalu mencoba memandangnya dari sudut pandang moralitas Jawa sebagaimana yang dituturkan dalam dunia wayang. Kisah dan karakter tokoh dalam pewayangan, baginya, seakan mampu memberi jawaban atas segala fenomena yang terjadi saat ini.  

Keberaniannya menyatakan diri sebagai sosok yang “ngawur”, pada dasarnya hanyalah sebuah sentilan terhadap peradaban modern yang pongah dengan menyebut diri tercerahkan, namun ternyata berjalan dalam kegelapan. Sehingga hanya mampu meraba-raba untuk mencari kebenaran. Di tengah masyarakat, politik dan kebudayaan yang ngawur, membingungkan dan tak tentu arah, justru cara berpikir yang dianggap miring alias ngawur itulah yang sesungguhnya tegak.

Dengan demikian, kicau sang Presiden jancuker dalam buku ini ibarat obor yang menyigi kegelapan peradaban, mencoba mengajak pembaca untuk senantiasa berpikir berbeda dari mainstream yang ternyata tidak mampu menyelamatkan kondisi bangsa. Ngawur Karena Benar juga menolak kebodohan yang diseragamkan. Selamat membaca.   

1 komentar: