Senin, 14 Mei 2012

Berbisnis dengan Hati

Seputar Indonesia, 13 Mei 2012
 
Judul Buku: Warung Bu Sastro
Penulis: Pauline Leander
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: I, Maret 2012
Tebal: 295 Halaman

Bisnis kuliner adalah hal yang marak dan lazim kita temukan dalam lingkungan kampus. Kerumunan mahasiswa pendatang yang tidak memiliki waktu yang cukup untuk memasak, membuat keberadaan bisnis ini menjadi begitu penting bagi mereka dan cukup menjanjikan keuntungan bagi para penjualnya. 

Fenomena demikian dapat kita temukan juga dalam buku berjudul lengkap Warung Bu Sastro: Tidak Rugi Berbisnis dengan Hati ini. Berkisah seputar kehidupan Bu Sastro dalam mengelola dan menjalankan bisnis kulinernya di sekitar kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) tepatnya di kampung Balubur, Bandung.   
  
Ibu Sastro menjalankan bisnisnya dengan cara yang unik, yaitu menyediakan rumah, tangan dan kaki, bahkan telinga, dan terutama hatinya bagi setiap pelanggan yang hadir di warungnya. Semuanya disajikan kepada para mahasiswa yang menjadi pelanggan warungnya, dengan harapan mereka tetap sehat, bisa belajar dengan tenang, dan sukses dalam studinya. 

Pada awalnya jenis masakan yang akan dijual Bu sastro terbatas pada pelengkap nasi, sayur beserta lauk-pauknya saja atau biasa disebut sayur matang. Mereka tidak akan menjual nasi, dan seluruh makanan hanya untuk dibawa pulang si pembeli, alasannya karena keterbatasan ruang sehingga tidak memungkinkan bagi para pelanggan untuk makan di tempat.

Adalah Simbolon beserta ke-12 temannya yang pertamakali merubah pemikiran Bu Sastro. Panik karena ditinggal secara mendadak oleh pembantu rumah kosnya, Simbolon kemudian merayu Bu Sastro agar bersedia memasakkan nasi beserta lauk pauknya bagi mereka. Maka, dimulailah perubahan dalam warung Bu sastro yang semula hanya menyediakan lauk dan untuk dibawa pulang, menjadi lengkap dengan nasi serta makan di tempat.

Hingga pada akhirnya, di masa jayanya, Bu Sastro setidaknya menghabiskan 25 kilogram beras sehari. Sebuah angka yang luar biasa mengingat ia hanyalah mengelola warung makan untuk mahasiswa, serta pada awalnya produksi Bu Sastro hanyalah 3 kilogram perhari.

Sebagian pelanggan warungnya, menggunakan metode menitip uang terlebih dahulu. Setiap anak memiliki buku tersendiri yang sebisa mungkin berlainan antara satu dengan yang lainnya agar mudah dikenali. Buku ini berisi identitas si penitip, mulai dari nama, tempat kuliah/indekos, sampai jumlah uang yang dititipkan pada awal bulan.

Besaran uang yang ditipkan setiap anak pun bervariasi. Mereka semuanya berasal dari beragam universitas di seputaran Bandung. Setiap kali selesai makan, mereka mencatat sendiri apa yang dikonsumsinya dalam buku tersebut. Bu Sastro sejak awal memutuskan untuk percaya pada kejujuran setiap anak. Itulah prinsip dasar berbisnis Bu sastro.

Pesaing bukannya tidak ada, namun tetap saja warungn Bu Sastro menjadi tempat favorit mahasiswa untuk mengobati rasa haus dan lapar mereka. Hal demikian bukannya tanpa alasan, karena warungnya memiliki pebedaan dibanding dengan warung makan lain yang lebih disukai anak-anak mahasiswa.

Setidaknya ada lima prinsip utama yang membedakannya; harga di warung Bu Sastro relatif lebih murah dibanding harga warung yang lainnya, sayuran yang tersedia beraneka ragam meskipun digratiskan, pembeli dapat mengambil sendiri makanan yang dikehendaki sesuai takaran perut masing-masing, Bu Sastro menerapkan prinsip kejujuran dan kepercayaan, mahasiswa yang makan mencatat sendiri apa yang dimakannya, dan prinsip yang terakhir adalah Bu Sastro selalu percaya kalau rezeki ada yang mengatur, sehingga warungnya dikenal dengan slogan “Ada uang makan, tidak ada uang juga tetap makan”.    

Penerapan manajemen yang dilakukan Bu sastro memungkinkannya untuk menghindari kerugian bisnis, untuk memperoleh dukungan kemitraan bisnis yang baik, menyajikan menu makanan dengan konsep deferensiasi marketing yang khas dan berbeda dari warung lainnya, sekaligus mengaplikasikan costumer care dan costumer selection yang sangat kental bagi para pelanggannya. 

Kisah-kisah yang dituangkan dalam buku setebal dua ratus sembilan puluh lima halaman ini tidak hanya bercerita tentang pengalaman nyata dan penuh warna para mahasiswa pelanggan Warung Bu Sastro. Setiap kisah juga menggambarkan bagaimana Bu sastro menerapkan prinsip manajemen pengelolaan bisnis masa kini dalam bentuk sederhana tanpa terbebani teori-teori yang rumit. Itulah berbisnis dengan hati. 

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/494357/

2 komentar:

  1. sepertinya menarik sekali bukunya,,,
    nice post..


    Blogwalking sambil mengundang rekan blogger sekalian
    Kumpul di Lounge Event Tempat Makan Favorit
    sukses selalu
    Salam Bahagia

    BalasHapus