Sabtu, 23 April 2011

Menggagas Pemimpin Berbudaya


Koran Sindo, 24 April 2011

Judul Buku: Culture Based Leadership
Penulis: Herry Tjahyono
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2011
Tebal: 273 Halaman

Herakleitos, filsuf Yunani Kuno, menyatakan bahwa segala sesuatu mengalir seperti sungai, segala sesuatu berubah, panta rhei. Satu-satunya yang tetap adalah perubahan itu sendiri.

Perubahan, entah yang terkait dengan diri sendiri (personal context) maupun sosial (social/organization context), mau tak mau akan melibatkan sebuah proses penting bernama transformasi, yang melibatkan sebuah proses perubahan mendasar (fundamental change).Transformasi juga akan melibatkan dua kata vital: kepemimpinan (leadership) dan budaya organisasi (organization/corporate culture). Secara de facto, keduanya merupakan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dalam mengelola sebuah proses transformasi two sides of a coin.

Lebih khusus lagi,yang akan menjadi ujung tombak untuk memenangkan proses transformasi dalam organisasi dan perusahaan, ada dua: Kepemimpinan berbasiskan budaya (Culture Based Leadership) dan Budaya Kinerja Tinggi (High Performing Culture). (halaman 17) Buku Culture Based Leadership ini berusaha menguak rahasia- rahasia penting yang telah membuat sebagian perusahaan mampu menjadi great companies. Rahasia itu terentang dari bagaimana budaya mampu mendongkrak kinerja, teknik pemetaan dan pengukurannya, pembangunan budaya sehat dan kuat, hingga Indeks Budaya (HPC Index) yang menjadi mercusuar kinerja organisasi.


Maju-mundurnya suatu organisasi akan sangat dipengaruhi apa yang dilakukan dan diputuskan pemimpinnya.Pemimpin adalah representasi organisasi, sebesar apa pun organisasinya, berapa pun jumlah anggotanya dan siapa pun yang bernaung di bawahnya, seorang pemimpinlah yang memutuskan ke mana organisasi akan dibawa, dan bagaimana cara membawanya. Kekuatan manusia ialah bahwa ia mampu memahami keseluruhan realitas, capax universi. Seorang pemimpin, selayaknya mampu membawa seluruh alam semesta (organisasi maha besar) serta organisasi yang dipimpinnya ke dalam penghayatannya sehari-hari. Inilah salah satu nilai terdalam dan terluhur dari seorang pemimpin.

Seperti kita ketahui, salah satu kelemahan kepemimpinan di tanah air adalah banyaknya pemimpin yang ragu-ragu, serba bimbang, indecisif, apa pun latar belakang dan alasannya. Padahal, inti dari kepemimpinan adalah pengambilan keputusan. Kepemimpinan sesungguhnya juga sebuah proses belajar, maka dalam diri seorang pemimpin harus terkandung kapasitas seorang pembelajar. (halaman 234-235). Itu sebabnya, pengertian culture based leadership (CBL) dalam buku ini bermuara pada inti kepemimpinan yang sama, yakni pengambilan keputusan. Namun, keunikan sekaligus keistimewaannya adalah pada dasar dan jenisnya, yakni terkait dengan otentisitas dan kultural (authentic and cultural decision).

Otentik berkaitan dengan nilai-nilai diri sebagai pemimpin, sedangkan kultural berkaitan dengan nilai-nilai perusahaan atau budaya perusahaan. Keputusan otentik dalam CBL akan berhubungan dengan nilai-nilai diri seorang pemimpin. Semakin baik nilai-nilai diri pemimpin, dan semakin kuat nilai-nilai diri itu melandasi segenap sikap dan perilaku kepemimpinannya, maka semakin otentik segenap keputusan kepemimpinannya, begitu pula sebaliknya. Sedangkan keputusan kultural berkaitan dengan interaksi kepemimpinan dan budaya dalam bentuknya yang paling positif dan produktif.

Hal ini berkaitan dengan bagaimana seorang pemimpin menyerap, menyelaraskan, dan mengaktualisasikan atau merealisasikan nilai-nilai organisasi yang dipimpinnya. ( halaman.253-261). Jadi, proses pengambilan keputusan kepemimpinan dalam CBL ialah berdasarkan pada nilai-nilai diri dan nilai-nilai perusahaan/organisasi yang selaras. Dengan tujuan terciptanya pembangunan kepercayaan (trust) serta komitmen (commitment) dari key stakeholder. Dalam konteks bernegara, karakter ini harus dapat ditemukan dalam diri sosok pemimpin/presiden sehingga rakyat sebagai key stakeholder tidak menjadi korban dan dirugikan.

Selain itu, Budaya Kinerja Tinggi (High Performing Culture/ HPC) merupakan ujung tombak lain dari proses transformasi. Terdapat lima langkah rawan dan krusial dalam pembentukan HPC; dimulai “di” atau “dari” atas, ukurlah budaya saat ini, identifikasikan dengan jelas tujuan dan nilai, komunikasikan tujuan dan nilai-nilai itu ke segenap karyawan, dan ajarlah semua manajer untuk ikut membentuk lingkungan, atau mengampanyekan tujuan dan nilai-nilai. Membangun kepercayaan adalah modal terbesar seorang pemimpin.

Banyak cara dilakukan oleh pemimpin untuk membangun dan mendapatkan kepercayaan. Indonesia sebagai sebuah organisasi yang besar, memiliki pemimpin bernama Susilo Bambang Yudhoyono dengan kepercayaan penuh dari rakyat melalui politik pencitraan, hingga terpilih dua periode. ●


Tidak ada komentar:

Posting Komentar