Minggu, 04 Juli 2010

Surat Kepada Setan

Judul Buku : KLOP
Penulis : Putu Wijaya
Penerbit : Bentang
Cetakan : Pertama, Mei 2010
Tebal : 233 Halaman

Bagi penikmat sastra, baik sebagai pelaku, pemerhati, maupun sekedar sambil lalu, nama Putu Wijaya tentunya sudah akrab ditelinga. Maklum, pria kelahiran Tabanan Bali ini telah menulis tidak kurang 30 novel, 40 naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esai, artikel lepas dan kritik drama.

Selain sebagai sastrawan, jejaknya sebagai dramawan telah terukir sejak 1971 sebagai pemimpin teater Mandiri dan telah mementaskan puluhan lakon baik di dalam maupun luar negeri.

Tulisan-tulisannya yang tersebar dalam berbagai karya, menunjukkan dengan gamblang kalibernya sebagai seorang penulis-sastrawan, pun kepedulian sosok, yang selalu bertopi putih, ini atas segala fenomena dan problematika lingkungan sosial disekitarnya. Melalui tulisan-tulisannya ia bukan sekedar melakukan refleksi atas segala fenomena yang terawasi, tetapi juga melancarkan kritikan-kritikan tersamar melalui tokoh-tokoh dalam tulisan tersebut.

Klop merupakan buku terbaru Putu yang menyiratkan kegelisahan serupa. Berisi kumpulan dua puluh cerpen karya Putu Wijaya yang di tulis dalam rentang waktu antara 1997 hingga 2008. Berisikan cerita satirikal dengan beragam isu mulai dari nasionalisme, krisis sosial politik, hingga “pemberontakan”nya atas konsepsi umum. Salah satu dari cerita yang ditulisnya adalah Surat Kepada Setan.

Manusia dan Setan

Surat kepada setan mengisahkan tentang manusia yang selalu menyalahkan setan atas segala keburukan yang terjadi di dunia. Setan juga dianggap sebagai sumber malapetaka, yang membuat negeri ini terpuruk oleh berbagai musibah. Mulai dari krisis ekonomi, kegoncangan politik, separatisme, disintegrasi, hingga kenaikan harga sembako. (halaman. 99).

Manusia layaknya pengecut yang hanya bisa membenci, mengutuk, menghujat dari jauh, tanpa bisa berbuat apa-apa, karena tidak bisa mengalahkan setan. Kekalahan ini yang pada akhirnya membuat manusia harus berpikir ulang untuk merubah strategi, yang semula memusuhi dirubah dengan bergandengan tangan, bila perlu merangkul. Merangkul setan.

Akhirnya manusia pun memutuskan untuk menulis surat kepada setan. Yang isinya mengajak rekonsiliasi kepada setan agar mau berdamai, dan bahu membahu bekerjasama dalam segala hal.

Hari berganti demi hari bulan demi bulan terlewati , si manusia sabar menanti jawaban. Hingga akhirnya datanglah berita yang di tunggu-tunggu, sebuah surat untuknya. Sebuah jawaban dari setan yang berbunyi persis seperti yang ditulis si manusia kepada setan!

Dalam cerpen lainnya yang berjudul Setan, bahkan dikisahkan tentang setan yang sangat berhasrat menjadi manusia, dipicu oleh kecemburuanya atas segala perilaku manusia.

“aku malah tambah iri, bahkan sudah jadi dengki kepada manusia. Kenapa kami setan mesti selalu dibedakan dengan manusia? Mengapa kalau manusia mau menjai setan, kok, gampang amat. Asal mau kapan dan dimana saja, jreng-jreng-jreng jadi. Kalau tidak bisa, banyak gurunya. Bejibun contoh-contohnya yang bisa diteladani. Kursusnya juga berserakan ke seantero negeri. Bahkan, autodidak saja sudah bisa. Cukup dengan niat, dengan secuil kejahatan manusia sudah otomatis menjadi setan. Paling sedikit disebut setan. Tetapi, sebaliknya, mengapa kami-kami para setan untuk bisa jadi manusia kok alot men. Edan! Padahal segala yang terbaik dalam diri manusia aku bisa, mampu, bahkan dijamin lebih baik aku lakukan. Tetapi, kenapa sekali setan aku selamanya setan?”. (halaman. 108)

Meski ditulis dalam cerpen dan waktu yang berbeda, Setan sepertinya jawaban atas segala yang dituduhkan kepadanya dari manusia dalam Surat Kepada Setan. Setan juga menyiratkan kebangkrutan moralitas manusia, yang membuat setan, simbol segala keburukan, pun merasa iri akan “prestasi” manusia yang melampaui setan.

Kritik atas Manusia

Cerita pendek (cerpen) meski tidak sepanjang kisah dalam novel, namun tidak bisa diremehkan eksistensinya, baik sebagai sebuah karya sastra, ekspresi kegelisahan penulisnya maupun sebagai media kritik. Sebagai media kritik cerpen bahkan lebih efektif dibanding novel mengingat ceritanya yang panjang lebar dan membutuhkan waktu berjam-jam bagi pembaca untuk menyelesaikan jalinan ceritanya. Belum soal kemampuan abstraksi pembaca atas pesan yang dikandung di dalamnya.

Cerpen dengan cerita yang jauh lebih “sederhana” tentu saja lebih to the point dalam mengemukakan inti dari gagasan si penulis mengenai cerita tersebut. Sesuatu yang sulit, bukannya tidak mungkin, ditemukan dalam sebuah novel.

Setidaknya terdapat tiga hal yang menarik dari Klop. Pertama, buku ini berisi kumpulan cerpen yang “diproduksi” penulisnya dalam rentang waktu yang berbeda. Sehingga memungkinkannya untuk merefleksikan segala peristiwa yang beragam.

Kedua, dalam Klop, Putu seakan berusaha merekonstruksi, bahkan dekonstruksi, atas sikap manusia yang cenderung mengkambinghitamkan setan untuk segala sesuatu yang buruk. Pembalikan ini yang coba dilakukanya, bagaiamana persepsi setan sendiri tentang manusia? Hasilnya setanpun cemburu dengan manusia.

Ketiga, lazimnya penokohan dalam sebuah cerpen, sosok manusia biasa dihadirkan sebagai pemeran, namun dalam Klop, Putu mampu menjadikan apapun sebagai tokoh, hal ini kita temukan misalnya dalam Kembali, Konsep seperti tahun baru pun mampu ia hadirkan berdialog, menjadi lawan bicara manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar