Sabtu, 27 November 2010

Tamasya ke Dunia Satwa

 
Judul Buku: Guardians of Ga’hoole: The Capture
Penulis: Kathryn Lasky
Penerbit: Kubika
Cetakan: Pertama, 2010
Tebal: 338 Halaman
Siapa bilang bahwa dunia fiksi hanya monopoli ras manusia? Nyatanya, cerita dunia satwa pun jika diracik dengan menarik, dibumbui berbagai intrik dan perilaku laiknya manusia mampu menjadi sajian buku cerita yang sedap disantap.

Asumsi tersebut terbukti dengan kehadiran buku berjudul lengkap Guardians of Ga’hoole: The Capture ini. Mengisahkan tentang dunia fauna berjenis Burung Hantu yang dikenal sebagai binatang malam, pemalu serta sulit ditemukan secara liar. Dengan tokoh utamanya bernama Soren.

Lahir dari keluarga Burung Hantu Barn. Soren bersama ayahnya Noctus dan ibunya Marilla serta dua orang saudaranya Kludd dan Eglantine, tinggal dengan tenteram di sebuah pohon besar dalam hutan Tyto atau yang biasa dikenal dengan sebutan Tyto Alba, ditemani Mrs. Plithiver, ular buta yang menjadi pembantu keluarga.

Kedamaian tersebut pecah ketika Soren terjatuh dari rumahnya saat ia baru berusia dua minggu sehingga belum mampu mengepakkan sayap untuk terbang. Sialnya peristiwa tersebut terjadi ketika kedua orang tuanya tidak berada di rumah, tengah berburu mencari makanan. Sedangkan Mrs. Plithiver yang setia tidak mampu berbuat banyak karena intimidisi Kludd, dalang tragedi ini.

Akibatnya, Soren diculik oleh pasukan patroli St. Aegolius. Sebuah perkumpulan misterius yang tengah berusaha menyusun kekuatan dengan mengumpulkan telur-telur dari berbagai sub-ras dan kerajaan burung hantu untuk ditetaskan sekaligus dibentuk pasukan perang, dengan berkedok sekolah yatim piatu.

 

Gerombolan ini dipimpin oleh Skench, burung hantu bertanduk yang jahat. Dengan mengandalkan para prajuritnya terutama Spoorn, Jatt dan Jutt, Skench melakukan penculikan ke kerajaan-kerajaan burung hantu lain, baik secara diam-diam seperti yang dialami Soren, maupun melalui agresi militer besar-besaran dengan membinasakan kerajaan sasaran.

Untungnya Soren mendapatkan seorang teman yang cerdas di sekolah yatim piatu ini bernama Gylfie. Seperti halnya Soren, Gylfie pun selamat dari upacara “pembingungan”, sebuah prosesi yang bertujuan untuk menghilangkan memori para tawanan serta mematikan harapannya untuk kabur atau memberontak. Keduanya pun kemudian merencanakan pelarian, meskipun baru sekali berlatih terbang kepada burung hantu yang baik hati, Grimble.

Lolos dari sarang St. Aegolius, keduanya langsung melakukan pencarian terhadap keberadaan keluarga masing-masing. Sayang misi tersebut gagal, karena baik orang tua Soren maupun Gylfie, sudah tidak berada di tempatnya masing-masing. Di tengah kebingungan, keduanya berkenalan dan bersahabat dengan Twilight dan Digger. Berempat mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan ke sungai Hoole, tempat dimana tumbuhnya pohon Ga’Hoole nan legendaris.

Novel yang filmnya tengah diputar di bioskop seluruh Tanah Air ini, memiliki cerita yang unik. Selain mengangkat dunia burung hantu sebagai latarnya yang memang belum pernah ada, juga kekuatan ceritanya yang membuat para burung hantu tersebut layaknya manusia. Lengkap dengan karakter-karakternya yang kompleks, seperti penyayang, ambisius, setia kawan hingga perilaku-perilaku konyol. Hebatnya penulisnya mampu menghubungkan karakter-karakter yang berbeda dalam novel ini berdasarkan jenis spesies burung hantu yang beragam.

Selain itu, meskipun buku ini menceritakan tentang dunia imanjiner dengan mengusung cerita burung hantu layaknya manusia yang mampu berbicara, berpikir, dan bermimpi. Namun di luar hal tersebut, merupakan percikan ilmu pengetahuan dan sejarah burung hantu yang ingin ditebar oleh penulisnya.

Hal ini tidak mengherankan, mengingat Katryn Lasky, penulisnya, merupakan seorang penggemar burung hantu. Bahkan dalam menulis novel ini ia secara khusus melakukan penelitian tentang perilaku burung tersebut, seperti apa yang mereka makan, bagaimana terbang, dan bagaimana membuat sarang.

Membaca buku pertama dari rangkaian seri Guardians of Ga’hoole ini, mengingatkan kita pada karya Richard Bach, Jonathan Livingston Seagull, tentang burung camar yang “menembus awan” tahun 1970 yang telah terjual lebih dari tujuh juta eksemplar di seluruh dunia, ihwal orisinalitas ceritanya. Sebuah capaian yang tidak mustahil diraih buku ini.

Terlepas dari semua rangkaian cerita di dalamnya, kehadiran buku ini seakan memiliki pesan kuat. Bahwa kelestarian alam terutama hutan harus senantiasa dijaga, mengingat begitu banyak fungsi dan manfaatnya yang bukan sekedar untuk manusia, namun juga makhluk-makhluk lain yang habitatnya sangat bergantung kepadanya.

Dengan demikian buku ini bukan sekedar mengajak kita bertamasya ke dunia satwa, namun juga secara implisit memiliki pesan moril yang cukup tegas, bahwa keserakahan pada akhirnya hanya membawa kehancuran bagi siapa saja. Seperti keserakahan yang dihembuskan dari St. Aegolius. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar