Rabu, 21 Juli 2010

Berguru Pada Samurai


Judul Buku    : The Last Samurai
Penulis           : Helen DeWitt
Penerjemah : Bima Sudiarto
Penerbit        : Edelweiss
Cetakan         : I, April 2010
Tebal              : 610 halaman

Siapa bilang memiliki anak yang cerdas -bahkan kelewat cerdas alias genius- selalu berimplikasi positif atau menyenangkan bagi orang tuanya? Tanyakan saja hal itu pada Sibylla, ibu si anak cerdas bernama Ludo, ia sering jengkel justru atas kecerdasan anak semata wayangnya tersebut yang di atas rata-rata ukuran standar otak manusia sebaya dengannya, bahkan mengalahkan kecerdasan manusia dewasa pada umumnya. Kejengkelan itu entah disebabkan pertanyaan-pertanyaan Ludo ketika belajar, maupun hujan pujian yang diterimanya dari orang-orang sekitar. 


Maklum, semua materi bacaan mulai dari Bahasa, Sejarah, Matematika, Fisika, Biologi hingga Filsafat dilahap Ludo secara cepat dalam usia lima tahun. Sedangkan bahasa Latin, dikuasainya ketika ia berusia empat tahun dan bahasa Prancis, Yunani, Arab, Ibrani ia kuasai tak lama setelah itu. Di sisi lain, kegeniusannya tersebut menjadi berkilau terang dengan hasrat belajar yang seperti lampu yang tak pernah kehabisan minyak, plus sosok Sibylla, tentor yang notabene ibunya sendiri.

Saking cerdasnya dan tentu saja ditopang oleh hasrat keingintahuannya yang tinggi tersebut, tak jarang Ludo merengek selalu bertanya dan minta diajari segala sesuatu yang baru didengarnya atau belum diketahuinya. Beruntung baginya, karena memiliki orang tua- meskipun hanya tunggal- yang penyabar dan tak kalah cerdas seperti Sibylla, hingga dapat dipastikan ia selalu memperoleh jawaban atas berbagai pertanyaannya, kecuali satu: identitas ayah kandungnya yang terus dirahasiakan ibunya.

Meski lahir dari rahimnya, namun entah demi pertimbangan apa Sibylla selalu merahasiakan identitas ayah biologis Ludo. Untuk mengalihkan perhatian Ludo akan hal tersebut ia kemudian berinisiatif untuk mengajari Ludo berbagai bahasa dunia sekaligus menjejalkan beragam buku bacaan ke benak Ludo kecil. Kecerdasan inilah yang seakan menjadi bumerang bagi Sibylla - namun disyukuri Ludo yang menganggap sekolah hanya pekerjaan sia-sia-  karena ternyata tidak ada satu sekolah pun yang mau menerimanya, dengan alasan pihak sekolah khawatir kehadiran Ludo dapat menghancurkan kepercayaan diri siswa lain!

Tidak berhenti disitu, Sibylla yang jago bermain musik dan biasa berlibur bersama Ludo naik kereta bawah tanah keliling London ini, kemudian menemukan solusi untuk menggantikan sosok ideal seorang ayah bagi anaknya dengan cara yang unik yaitu menanamkan karakter samurai pada jiwanya dengan cara menonton- sekaligus mendiskusikannya tentu saja- film The Seven Samurai, karya sineas Jepang Akira Kurosawa, beberapa kali dalam seminggu secara berulang-ulang.

Hasilnya, tokoh-tokoh seperti Kambei, Gorobei, Shichiroji, Katsushiro, Heihachi, Kyuzo dan Kikuchiyo mampu membuat Ludo terpesona dan untuk sementara menyelamatkan Sibylla dari derasnya pertanyaan Ludo ihwal ayah kadungnya. Namun, tanpa disadarinya kerinduan Ludo akan figur ayah justru semakin lama semakin menggebu.

Mengetahui bahwa sang ibu bersikeras tidak berkenan memberitahu identitas ayahnya, Ludo kemudian berinisiatif merubah strategi dari “menyerang” secara frontal menjadi pertanyaan-pertanyaan yang terselubung namun menuju ke satu titik, terkuaknya nama sang ayah. Usaha tersebut nampaknya membuahkan hasil meskipun masih samar dan spekulatif. Beruntung, Ludo kemudian menemukan sebuah amplop di kamar ibunya dengan tulisan "hanya dibuka setelah mati”. Dari situlah ia kemudian menemukan jawaban atas pertanyaannya selama bertahun-tahun.

Berdasarkan informasi yang didapatkannya, ia kemudian berkeluyuran mencari alamat sang ayah. Kecerdasan Ludo dalam memahami buku kemudian teruji ketika ia harus mempraktikkannya dalam kehidupan nyata ketika ia berhadapan dengan ayah kandung yang dicarinya selama ini.

Novel Cerdas

Tidaklah mudah membaca dan mencerna novel ini –anda boleh membuktikannya-, saya harus beberapa kali melakukan pengulangan mengingat posisi pencerita (“aku”) di dalamnya sering berubah-ubah, selain masalah teknis seperti bahasa atau nama-nama yang digunakan pengarang masih terdengar agak asing di telinga.

Meski begitu karya ini patut diacungi jempol karena tiga hal. Pertama, kecerdasan pengarangnya sangat kental terasa bukan hanya karena sukses menyuguhkan jalinan kisah yang menarik, namun juga pengetahuannya yang luas terdemonstrasikan secara apik melalui tokoh-tokoh di dalamnya, terutama Ludo dan Sibylla. Membaca novel ini, seolah-olah kita disuguhkan dengan sederet buku-buku yang lintas disiplin keilmuan juga beragam bahasa dunia, seperti Jepang dan Finlandia. Menarik untuk mengetahui apakah pengarangnya betul-betul pernah membaca buku-buku tersebut dan menguasai semua bahasa yang dikuasai keduanya atau tidak. Meski pada dasarnya buku ini hanyalah bergenre novel fiksi, namun novel fiksi yang cerdas.

Kedua, mampu mendeskripsikan jalinan cinta kasih dan ikatan batin antara seorang anak dengan orang tuanya yang ternyata pada dasarnya tidak pernah hilang dan tidak dapat dipadamkan. Sesempurna apapun peran seorang Sibylla (ibu), namun orang tua baru dapat dikatakan lengkap atau sempurna di mata anaknya jika terdapat figur ayah yang melengkapi, meskipun tidak harus berada dalam satu ikatan rumah tangga.

Ketiga, pendidikan formal yang terinstitusikan dalam sekolah, ternyata bukan satu-satunya sarana bagi seorang anak untuk mencercap pengetahuan. Sebaliknya, dalam novel ini, pendidikan non-formal namun dilakukan dengan sepenuh hati justru lebih berhasil dibanding sekolah formal yang terkadang menghitung laba rugi melulu. Toh  yang terpenting bukan lembaga pendidikannya, namun lebih kepada metode dan ketulusan si pengajar yang membuat anak didik lebih mudah mencercap materi pengajaran, tentu saja didukung dengan kesungguhan minat belajar dan bakat yang dimiliki.

Selamat berkelana dalam dunia Ludo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar