Senin, 19 Juli 2010

Misteri Dibalik Sebuah Kunci


Judul Buku: Extremely Loud and Incredibly Close
Penulis: Jonathan Safran Foer
Penerjemah: Antie Nugrahani
Penerbit: Mahda Books
Cetakan: I, Maret 2010
Tebal: 400 halaman

Tragedi runtuhnya gedung World Trade Centre (WTC) yang diyakini akibat serangan teroris pada 11 September 2001, membuat ribuan nyawa melayang dan ratusan ribu orang kehilangan keluarga yang mereka cintai, belum termasuk ekses negatifnya yang seolah-olah menjadi pemicu gerakan terorisme internasional.

Diantara sekian banyak orang yang kehilangan keluarga yang sangat dicintai adalah seorang bocah berusia sembilan tahun bernama Oskar Schell. Thomas Schell, Ayahnya merupakan salah satu korban pada hari naas tersebut, hal ini diketahui dari panggilan telepon terakhirnya ke kediaman keluarga Schell, meski hingga beberapa hari kemudian jasadnya tidak dapat ditemukan dalam keadaan utuh.

Pepatah bahwa seseorang menjadi lebih berharga justru setelah tiada disisi kita nampaknya tidak sepenuhnya keliru. Hal ini pula yang dirasakan Oskar kecil. Pasca kematian ayahnya, ia justru semakin terobsesi dengan sosok yang dianggapnya jenius tersebut. Kejeniusan yang nampaknya menurun secara genital kepada Oskar karena meskipun usianya tergolong sangat muda, namun pemikiran dan sikapnya jauh di atas rata-rata anak yang sebaya dengannya.

Petualangan Oskar dimulai ketika ia menemukan sebuah kunci misterius di kamar almarhum ayahnya. Naluri “detektif”-nya, yang ditularkan oleh sang ayah kepada Oskar dalam kebiasaan sehari-hari, membuat ia berkesimpulan ada “sesuatu” yang perlu diselidiki ihwal asal-usul dan pasangan (lubang) kunci tersebut.


Pencarian  Oskar lakukan dimulai dari seluruh lubang kunci kamar hingga apartemen, namun hasilnya nihil. Ia pun mulai bergerilya ala detektif kawakan untuk memecahkan teka-teki misteri lubang kunci tersebut di seantero salah satu kota terbesar dunia, New York. Sebuah misi yang tidak mudah mengingat New York memiliki sekitar 161.999.999 lubang kunci yang menantinya. Namun berkat keyakinan dan rasa penasarannya yang besar, membuat ia terus melakukan upaya pencarian.


Titik terang mulai didapat. Berdasarkan sebuah amplop yang ditemukannya di tempat sampah belakang rumah, ia kemudian melakukan investigasi terhadap hal-hal yang memiliki hubungan dengan kata “Black”, tulisan tangan ayahnya yang terdapat dalam amplop tersebut.   


Selama berbulan-bulan, ia melakukan pencarian atas lubang kunci tersebut. Kerinduan dan kenangan indah atas ayahnya-lah yang membuat ia bersikukuh untuk melakukan hal itu. Demi menemukan jawaban atas rasa penasarannya, ia rela menghabiskan setiap akhir pekan untuk menelusuri tempat-tempat dan menemui orang-orang yang diharapkannya mampu memberi jawaban, minimal informasi seputar kunci tersebut.


Sebuah perjalanan yang tidak sia-sia, karena pada akhirnya penjelajahan tersebut menuntunnya pada sebuah pengalaman yang semakin mematangkan pribadi dan memerluas pengalaman penggemar ilmuwan Stephen Hawking tersebut. Terlebih, ia kemudian menjumpai keluarga dekat yang selama ini tidak pernah diketahuinya.    


Selain mengisahkan petualangan Oskar yang berusaha menguak misteri dibalik kunci yang ditemukannya, novel perdana Jonathan Safran Foer ini juga menceritakan kisah muda Anna Schell nenek Oscar dari pihak ayah, yang sangat menyayanginya. Di dalamnya kita akan menemukan sosok yang berbeda-beda menceritakan kisah hidupnya masing-masing dengan kata yang digunakan oleh pengarang menggunakan “aku”.


Setidaknya ada tiga hal yang perlu dicatat dari novel yang banyak mendapat pujian dari para kritikus media massa Amerika ini. Pertama, di dalamnya kita akan menemukan ikatan cinta kasih yang kuat dalam sebuah keluarga, dalam kasus ini seorang anak terhadap ayahnya yang telah tiada, hal ini juga menunjukkan betapa ikatan emosial antara orang tua dan anak begitu erat. Dengan demikian novel ini juga menunjukkan pentingnya arti sebuah keluarga.


Kedua, bagi pembaca pemula, membaca novel ini harus lebih “berhati-hati” mengingat gaya penulisan Foer yang melompat-lompat antara satu figur tokoh dengan tokoh lainnya, sering membuat kita sulit membedakan tokoh mana yang sedang diwakilinya dalam cerita tersebut mengingat yang digunakan semuanya menggunakan kata “aku”. Beruntung, terdapat petunjuk berupa tanggal dan tahun peristiwa tersebut berlangsung.  


Ketiga, nilia-nilai edukasi yang hendak ditampilkan melalui sosok ayah dan anak, membuat kita tersadar bahwa ternyata pendidikan dari orang tua, jauh lebih efektif dalam hal mempengaruhi perilaku maupun paradigma berfikir seseorang, dibanding pendidikan formal ala sekolahan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar