Senin, 26 Juli 2010

Sang Pencari


Judul Buku :  Muhammad SAW. Lelaki Penggenggam Hujan
Penulis        : Tasaro GK
Penerbit     :  Bentang
Cetakan      :  Pertama, Maret 2010
Tebal           : xxvi+546 halaman
Harga           : Rp. 79.000.


Tidak mudah membuat novel, terlebih novel bagus. Namun jauh lebih sulit lagi adalah membuat sebuah novel dengan tokoh utamanya manusia paling berpengaruh sepanjang masa, yang hingga kini menjadi panutan milyaran manusia di dunia.




Muhammad SAW. Tokoh yang saya maksud tersebut. Tingkat kesulitan tersebut bukan ketika menceritakan kembali sejarah hidupnya yang sudah ditulis ribuan jilid buku, namun dalam mendeskripsikan dan membuatnya dalam sebuah novel sungguh tantangan tersendiri.

Mengingat segala sabda dan perilaku sosok mulia tersebut, merupakan hukum agama (Islam) yang bukan sekedar wilayah profan tetapi juga memiliki implikasi sakralitas dan religiusitas pada wilayah transendental, dan kita tahu, tidak ada yang lebih sensitif melebihi isu agama. Demikian juga dengan fanatisme pemeluknya.

Imbasnya ketika menuliskan sosok agung ini ke dalam novel rumusannya jelas: tidak boleh ditambahi maupun dikurangi, sedikitpun, sedikitpun!. karena melakukan keduanya berarti telah melanggar batas-batas agama atau yang biasa disebut bid’ah.


Hal tersebut pasti diketahui secara gamblang oleh Tasaro, penulis muda penuh bakat yang menulis novel Muhammad ini. Dengan ketelitian yang luar biasa dan melibatkan berbagai kalangan yang dianggap mumpuni dalam menelaah hikayat sang Nabi, lahirlah novel ini meski melalui proses “kecelakaan” yang indah sebagaimana dijelaskannya di “Jejaring Muhammad”, bagian akhir buku ini.

Tetapi kesulitan lain dalam membuat novel mengenai Muhammad adalah hampir seluruh sejarah hidupnya-jika bukan seluruhnya- dikenal secara luas di kalangan umatnya, sehingga nyaris tidak ada misteri atau hal lain yang membuat penasaran pada ending ceritanya. Pada titik inilah kemudian tokoh fiktif bernama Kashva dimunculkan.

Sang Pemindai Syurga
Kashva merupakan agamawan sekaligus sastrawan kekaisaran Persia pada masa pemerintahan Khosrou, dan dipercaya oleh raja untuk mengelola kuil Sistan. Sebuah prestasi yang luar biasa mengingat usianya yang belum begitu tua, akhir dua puluh tahunan. Sedikit orang, jika bukan satu-satunya, pengikut setia ajaran nabi Zardusht pendiri agama Zoroaster yang menyembah Tuhan, bukan api abadi.

Ia mendapat gelar kehormatan dengan sebutan sang pemindai syurga dari para cendekiawan karena kemampuannya membaca bintang, membaca kabar dari surga. Namanya dikenal di pelosok Persia karena kemampuannya dalam menuliskan sebuah kisah yang seolah-olah memindahkan surga ke lembaran-lembaran kitab.

Hingga pada suatu peristiwa bersejarah di bangsal Apadana, Persepolis, ibu kota kekaisaran Persia saat Naeruza, perayaan musim bunga, membuat Kashva menerima hukuman isolasi di kuil sistan oleh Khosrou.

Pemicunya adalah nubuat yang disampaikannya mengenai telah hadirnya Astvat Ereta, nabi yang dijanjikan, yang akan menumpas iblis, meruntuhkan berhala, dan membersihkan pengikut  Zardusht dari penyimpangan. Sebuah nubuat yang telah sebelumnya telah disampaikan Zardusht.

Tidak berhenti disitu, Kashva juga meramalkan bahwa sang Nabi dan para pengikutnya akan menaklukan Persia, Madyan, Tus, Bakh, tempat-tempat suci kaum Zardusht dan wilayah sekelilingnya.        

Memang, kehadiran Nabi akhir jaman ini telah diramalkan oleh berbagai kitab suci tradisi kuno.  Astvat Ereta dalam Zarathustra, Buddha Maitreya dalam tradisi Budha, dalam naskah kuno peninggalan Nabi Daniel di sebut Bar Nasha, dalam kitab Bhavissya Puran yang ditulis Maharishi Vyasa disebut Malechha Dharma, dalam tradisi Kristen disebut Himada berarti Yang Terpuji makna yang sama dengan Muhammad.

Kashva kemudian memilih melarikan diri dan melakukan pencarian atas bukti-bukti kebenaran Nabi baru tersebut, dengan tujuan akhir Madinah kota tinggal sang Nabi.

Pelarian Kashva dari pengejaran tentara Persia bersama shabatnya dan pencariannya atas tradisi-tradisi suci kuno lainnya yang meramalkan kedatangan nabi terakhir inilah yang ikut mewarnai kisah dalam buku ini. Ia berkenalan dengan berbagai tradisi agama dan peradaban suku perbatasan India maupun pegunungan Himalaya Tibet.

Bukan Novel Biasa

Sungguh, tidak akan menjadi sederhana dan biasa-biasa saja segala sesuatu yang berhubungan dengan Muhammad al-Amin, bukan hanya karena ia merupakan manusia paling dicintai sepanjang masa. Tetapi juga sebagai panutan, segala dimensi kehidupannya tak henti melahirkan berbagai tafsiran dan karya.

Kecintaan serupa yang dapat ditangkap dari penulis buku ini. Dengan gaya bahasa yang indah, Tasaro berhasil menyulam cerita layaknya ia berhadapan langsung dengan Rasulullah. Dengan menggunakan kata “engkau” yang lebih personal, seolah-olah penulis merupakan orang kedua yang ikut menyaksikan setiap peristiwa yang dialami Nabi.

Dahsyatnya kerinduan dan cinta yang dialami penulisnya dapat kita baca dalam “jejaring Muhammad”, bagian diluar kisah buku ini, tetapi menceritakan proses lahirnya novel ini. “cerita cinta” yang hendak ditularkan penulisnya kepada pembaca.

Selain itu, kekuatan novel yang luar biasa ini juga terletak pada riset yang dilakukan penulis didukung timnya. Hasilnya, buku ini tidak hanya berhasil menyuguhkan kisah Nabi, tetapi juga dunia luar Arab pada masa itu, terutama Persia beserta berbagai kitab suci yang meramalkan kedatangannya.

Namun bagi yang belum mengenal sosok Muhammad, ada baiknya membaca buku-buku sejarah yang lebih komprehensip terlebih dahulu, mengingat novel ini tidak menampilkan secara utuh sosok luar biasa tersebut.

Akan tetapi ketidaklengkapan tersebut tidak mengurangi substansi dari sosok yang ingin di deskripsikan dalam novel ini; seorang teladan, hal yang langka di “zaman edan” ini.     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar