Sabtu, 21 Maret 2015

Masa Muda Sang Guru Bangsa

Koran Sindo, 22 Maret 2015
 
Judul Buku: Mata Penakluk: Manakib Abdurrahman Wahid
Penulis: Abdullah Wong
Penerbit: Expose
Cetakan: I, Januari 2015
Tebal: 295 Halaman

Abdurrahman Wahid merupakan salah satu tokoh bangsa yang unik sekaligus menarik. Demikian pula dengan kisah-kisah yang mengitari hidup. Beragam identitas, gelar serta julukan melekat pada sosok yang senantiasa mengenakan kacamata tebal ini. Mulai dari yang positif hingga negatif.

Sebut saja misalnya, ia dikenal sebagai pembela kaum minoritas, lokomotif demokrasi dan HAM di Indonesia, bapak pluralisme, kyai kharismatik, hingga sebagian orang menganggapnya sebagai salah seorang wali Allah.

Secara genealogis ia keturunan orang-orang besar di negeri ini, terutama dari lingkungan pesantren yang menjadi pilar penjaga Islam di Indonesia selama ratusan tahun. Kakeknya dari ayah adalah Hadratusy-syaikh Hasyim Asy’ari, ulama kharismatik dan pendiri organisasi terbesar di Dunia bernama Nahdlatul Ulama (NU).

Sedangkan kakek dari ibu adalah KH Bisri Syansuri, murid sekaligus sahabat Hasyim Asy’ari seorang ulama yang memiliki andil besar dalam sejarah pergerakan bangsa. Sang ayah sendiri merupakan tokoh nasional yang telah dikukuhkan menjadi pahlawan nasional, mantan menteri Agama pada era Soekarno bernama Wahid Hasyim.

Meski demikian, pergaulan Gus Dur tidak melulu dalam lingkaran kaum santri. Ia dikenal luas di lintas batas komunitas, etnis, ras, bahkan agama. Berkarib bukan hanya dengan para kyai, namun juga pendeta dan rabi Yahudi. Pun bacaannya bukan hanya kitab suci dan kitab kuning yang menjadi menu wajib pesantren, tetapi juga Das Kapital, karya “nabi”nya kaum marxis, Karl Marx.

Ia memiliki kemampuan mengutip ayat-ayat suci, hadis nabi, atau fatwa para ulama klasik sefasih mendedah pemikiran para Filosof Dunia. Yang bisa disesapnya bukan hanya keindahan alunan musik klasik karya komponis dunia sekelas Beethoven dan Mozart, namun juga suara merdu Umi Kultsum, penyanyi legendaris asal Mesir atau grup Nasida Ria asal Semarang.

Beragam jabatan dan aktivitas pernah dilakoninya. Sebelum menjadi Presiden dan ketua umum Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada tahun 1984, Gus Dur pernah menjadi penjual kacang dan es di sela-sela aktivitas menulisnya. Siang hari, ia bisa saja tengah berdebat secara ilmiah mengenai demokrasi, sedang malam harinya ziarah di makam para ulama dan wali.

Tidak ada yang meragukan kecerdasan serta daya ingatnya yang cemerlang. Sebuah karunia yang sudah terlihat sejak ia masih semenjana, sebagaimana dikisahkan dalam buku berjudul Mata Penakluk: Manakib Abdurrahman Wahid ini. Menghadirkan sosok Gus Dur kecil dengan segenap kisahnya yang penuh warna. 

Abdurrahman A-Dakhil, demikian nama kecilnya pemberian sang Ayah, yang berarti seorang hamba yang penuh welas sekaligus Sang Penakluk. Nama itu terinspirasi dari seorang panglima perang dinasti Umayyah yang tanpa rasa takut menaklukan kerajaan Spanyol hanya dengan tujuh ribu pasukan. Thariq bin Ziyad, demikian nama populernya.

Ketegaran hati Gus Dur yang seperti batu karang. Tangguh dan kokoh, meski badai kerap menerjangnya. Berani mengambil tindakan yang diyakininya benar, meski caci maki dan hinaan harus diterimanya dari orang-orang yang tidak sepaham dengan gagasan-gagasannya, boleh jadi sedikit banyak terinspirasi oleh tokoh yang diidolakan sang ayah tersebut.

Disuguhkan kehadapan pembaca dalam bentuk sebuah novel dengan menggunakan sudut pandang “aku”, Abdullah Wong, penulis buku ini, berhasil membawa pembaca seolah-olah mendengarkan penuturan Gus Dur secara langsung. 

Tidak sedikit buku yang telah mengupas sosok Abdurrahman yang lebih memilih nama sang ayah, Wahid, di belakang namanya ini. Mulai dari pemahaman keagamaan, wawasan kebangsaan, laku spiritual, hingga kumpulan humor yang pernah dilontarkannya. 

Namun buku ini tetap memiliki kelebihan karena menghadirkan sosok Gus Dur secara lebih manusiawi dan utuh. Gus Dur yang menangis di usia tiga belas tahun ketika menyaksikan sang ayah terluka parah akibat kecelakaan hebat hingga menyebabkan kematian. Gus Dur yang nakal dan usil terhadap para santri dewasa serta teman sebayanya. Gus Dur yang tergila-gila dengan buku.

Abdurrahman Wahid mungkin sudah terbaring dengan tenang di samping keluarganya. Namun semangat, pengabdian, keberanian, serta pemikiran-pemikirannya yang selalu menyegarkan akan tetap utuh dalam memori orang-orang yang mencintainya. Terlebih dengan maraknya literatur yang mengabadikan namanya dalam prasasti sejarah. 

Keberadaan buku yang mengangkat kisah para tokoh yang memiliki kontribusi besar terhadap masyarakat dan bangsa sudah sepatutnya diapresiasi. Bukan hanya sebagai upaya melestarikan kenangan atas kisahnya semata, atau sekedar sebagai amal jariyah penulisnya. Lebih dari itu, keberadaannya turut memperkaya literatur yang dapat dinikmati pembaca secara luas, terutama kaum muda. Sehingga kisahnya dapat diteladani sekaligus menginspirasi bagi setiap generasi.    
          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar