Kamis, 08 November 2012

Kisah Inspiratif dari Kebon Dalem



Judul Buku: Sepatu Dahlan

Penulis: Khrisna Pabicara

Penerbit: Noura Books

Cetakan: I, Mei 2012

Tebal: 369 Halaman


“Kemiskinan yang dijalani dengan cara yang tepat, akan mematangkan jiwa”.


Kata-kata tersebut bukanlah milik seorang motivator ulung, yang seolah mengetahui segala hal. Bukan pula iklan layanan pemerintah. Apalagi meluncur keluar dari mulut seorang politisi dalam orasi yang berapi-api namun penuh hipokrasi dengan tujuan dapat menduduki kursi kekuasaan.


Kalimat itu meluncur dari seorang lelaki lugu dan pendiam, khas karakter lelaki desa, yang hampir sebagian besar hidupnya dihabiskan serba kekurangan materi. Dengan demikian, kata-kata tersebut bukanlah sekedar imajinasi, tetapi hasil dari penghayatan dari kehidupan yang dijalani. Lelaki tersebut bernama Iskan, dari kampung Kebon Dalem, Magetan, Jawa Timur. (Halaman 184)


Sosok Iskan begitu kuat sekaligus menonjol karakternya dalam buku berjudul Sepatu Dahlan ini. Sosok tersebut merupakan ayah kandung dari Dahlan Iskan, tokoh utama dalam novel karya Khrisna Pabicara ini, sekaligus menjadi sosok yang paling dikagumi.


Sebagaimana tertera pada judulnya, buku ini mengungkapkan apa dan siapa sosok menteri BUMN pada Kabinet Indonesia Bersatu II ini semasa kecil, terutama ketika Dahlan tengah duduk di Madrasah Tsanawiyah Pesantren Takeran, Magetan, dan tentu saja obsesinya terhadap sepatu. Diiringi tangis dan tawanya hingga menyelesaikan pendidikan di Madrasah Aliyah (SMU).  


Lahir dan tumbuh remaja di Kebon Dalem, sebuah dusun yang hanya memiliki enam rumah dengan jarak yang berjauhan. Sang Ayah, Iskan, seorang petani dan Lisna, sang ibunda adalah pembatik. Keadaan keluarga yang miskin membuat Dahlan sedari kecil sudah terbiasa menggembala kambing setiap sore, dan mencari rumput selepas shalat Subuh dan sepulang sekolah.      


Rutinitas kehidupan yang dijalani keluarga Iskan, nyaris tanpa keluhan atas kondisi ekonomi mereka yang jauh dari kemapanan. Nampaknya, prinsip ojo kepingin sugih yang dipesankan almarhum Kiai Mursjid, pengasuh pesantren Takeran yang nota bene masih kakek Dahlan, betul-betul dijadikan pegangan hidup bagi keluarga ini.  (Halaman 164)


Meski demikian, masalah bukannya tidak pernah ada. Dan satu-satunya masalah orang miskin adalah ketidakmampuan untuk memenuhi apa yang diinginkan, termasuk untuk makan. Hal ini pula yang dialami oleh Dahlan sekeluarga yang tidak jarang harus menghabiskan siang dan malam dengan perut berdemonstrasi karena tidak mendapatkan asupan. Selain itu, ada satu impian yang begitu menghantui pikiran Dahlan, yaitu sepasang sepatu. Impian wajar dari seorang anak remaja yang harus berjalan kaki tanpa alas kaki ke sekolah hampir sepanjang hidupnya.


Kematian ibunda tercinta, serta kepergian sang kakak perempuan yang memilih merantau ke Kalimantan semakin mempersulit kehidupan Dahlan serta semakin menjauhkannya dari mimpi memiliki sepatu. Meski demikian, Rentetan peristiwa memilukan tersebut tidaklah membuat Dahlan patah arang, sebaliknya ia semakin terpacu untuk lebih giat mengurus kambing dan berprestasi di sekolah. 


Membaca cerita Dahlan Iskan semasa kecil dan remaja yang dituangkan dalam buku setebal 369 halaman ini, membuat siapa pun menjadi maklum dan dapat memahami mengapa sosok pria berkaca mata ini terlihat menonjol diantara pejabat lain yang duduk di pemerintahan. Dahlan selalu bersemangat di setiap aktivitasnya, serta berani melakukan hal-hal yang dianggapnya benar.


Masa kecilnya yang penuh dengan peluh dan kerja keras, rupanya membentuk kepribadiannya. Keberanian di masa remaja mengeluarkan Fauzan dari tim utama Voli menjadi bukti, bahwa tokoh yang kini sering disebut sebagai salah satu kandidat pemimpin Indonesia 2014 ini memiliki jiwa pemberani dalam melakukan hal-hal radikal dan melawan arus sedari muda. (Halaman 324)   


Dengan demikian, Sepatu Dahlan dan juga kisah Dahlan Iskan, belumlah usai. Selain buku ini hanya memotret sosok Dahlan kecil hingga lulus sekolah Aliyah, buku ini juga merupakan buku pertama dari trilogi novel inspirasi Dahlan Iskan. Keberadaan trilogi ini memiliki posisi dan misi yang jelas; menularkan semangat dan etos yang dimiliki sosok Dahlan, sehingga menjadi kisah inspiratif dari Kebon Dalem bagi seluruh pembacanya. Selamat membaca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar