Minggu, 11 November 2012

Sosok Dibalik Kebangkitan sang Raksasa

Harian Seputar Indonesia, 11 November 2012

Judul Buku: Inside Coca-Cola
Penulis: Neville Isdell & David Beasley.
Penerbit: Esensi
Cetakan: I, 2012
Tebal: 247 Halaman

Siapa yang tidak pernah mendengar nama Coca-Cola ? produsen minuman ringan paling popular di planet ini yang dianggap brand paling diakui dan paling sukses di dunia, serta mampu menembus batas-batas negara, bangsa, benua bahkan budaya.     

Perusahaan minuman yang pada awalnya dirancang sebagai obat hangover dan pusing ini, didirikan pada bulan Mei 1886 oleh seorang ahli farmasi di Atlanta, Amerika, bernama John Pemberton. Artinya, perusahaan ini telah eksis selama hampir satu setengah abad. Rentang waktu yang cukup panjang, kenyang pengalaman.

Buku berjudul Inside Coca-Cola ini, berisi cerita Neville Isdell, mantan CEO Coca-Cola Company, yang memaparkan pengalamannya selama 40 tahun lebih bergabung dengan perusahaan raksasa tersebut. Mulai menapaki karir dari bawah hingga mencapai puncak, yang ditulis sendiri oleh si empunya cerita. Dengan demikian, buku ini bercerita tentang sosok Isdell, bukan Coca-Cola itu sendiri.

Keterlibatan pria kelahiran Downpartick, Irlandia Utara ini, dengan Coca-Cola pada awalnya hanyalah sebagai pengemudi truk sebuah depot yang mengantarkan minuman tersebut ke supermarket, bar, dan restoran di sebuah kota kecil Zambia. karena dianggap memiliki kinerja yang bagus, ia kemudian dipercaya untuk menjalankan perusahaan pembotolan di Kitwe, dan bergabung dengan Coca-Cola Company di Lusaka.

Johannesburg, Afrika Selatan, menjadi kota berikutnya tempat Isdell bekerja. Ia menjabat sebagai general manager Coca-Cola Bottling Company. Karirnya semakin meroket seiring dengan kepindahannya ke Australia untuk menduduki jabatan sebagai general manager di sana. (Halaman 29-46) Setelah itu, Filipina, India, dan Jerman menjadi negara bertugas berikutnya.

1 Juni 2004, ia kemudian dipercaya menjabat sebagai chairman dan CEO. Hari pertama bekerja, tugas berat telah menantinya yaitu memperbaiki hubungan yang terancam retak dengan klien terbesar Coca-Cola, McDonalds. Penyebabnya adalah sikap presiden perusahaan, Steve Heyer, yang menyinggung pihak rumah makan cepat saji terbesar dunia tersebut. Ia berhasil mengatasinya dengan cepat.

Setelah itu, Isdell segera melakukan sejumlah langkah internal melalui penunjukan-penujukan penting, guna menyelamatkan perusahaan yang saat itu tengah terpuruk karena para pemimpin sebelumnya, dianggap gagal mengembalikan perusahaan ke jalur yang benar di tengah gejolak ekonomi dunia. Perusahaan pembotolan menanggung banyak hutang, biaya overhead perusahaan membengkak. (Halaman 154)

Buruknya manajemen pergantian staff perusahaan menjadi masalah lain yang harus segera diatasi. Tidak sedikit, orang-orang yang tidak memiliki kapabiltas dan keahlian duduk pada posisi yang tinggi dan strategis. Maka perombakan pun segera dilakukan, dan yang pertamakali terkena kebijakan ini adalah Steve Heyer, sang presiden perusahaan.

Perlahan tapi pasti, Isdell membangunkan sang raksasa tersebut. Ia memperkenalkan visi Kapitalisme Terhubung, yaitu sebuah konsep penciptaan Perusahaan yang Memiliki Tanggung Jawab Sosial. Dengan memeriksa jejak perusahaan di masyarakat dan berfokus untuk mengurangi dampak negatifnya, sebagai bagian dari strategi bisnis inti. Konsep inilah yang diterapkan Isdell sebagai langkah bisnis yang berkelanjutan untuk jangka panjang. (Halaman 218)

Dalam Kapitalisme Terhubung, setiap orang yang terlibat dalam proses, dari awal hingga akhir, menghasilkan keuntungan. Meskipun kecil namun hal itu mendorong efisiensi. Hal itulah yang membuat Coca-Cola berhasil mengirimkan produknya ke berbagai kawasan terpencil di berbagai belahan dunia, kecuali tiga negara; Korea Utara, Myanmar dan Kuba. Di Zambia misalnya, vendor menaruh kotaknya di kano dan mendayung di hutan belantara dimana mereka akan menempelkan brand Coca-Cola dan menjual minuman dingin.

Contoh sempurna dari Kapitalisme Terhubung adalah pembuatan sumur-sumur di Afrika yang dapat digunakan untuk minum dan mengairi ladang. Hasilnya, penduduk yang sebelumnya rentan terkena penyakit karena mengkonsumsi air sungai, menjadi sehat dan pendapatan dari berladang juga meningkat. Sehingga dengan demikian penjualan produk perusahaan dapat meningkat.

Membaca buku setebal 247 Halaman ini, membuat kita memahami proses panjang untuk menjadi seorang pemimpin. Selain itu, pengalaman Neville Isdell meniti karir hingga menjadi chairman kedua belas dalam sejarah perusahaan yang pada kuartal III tahun 2012 ini memiliki pendapatan bersih sebesar 2,31 miliar dollar AS tersebut, memberikan gambaran betapa beratnya mempertahankan eksistensi perusahaan.

Meski demikian, dengan konsep dan keyakinan serta didukung tim yang memiliki kemampuan mumpuni di bidangnya masing-masing, Isdell berhasil mempertahakan brand Coca-cola sebagai minuman nomor satu dunia. Bahkan, mengalahkan para kompetitor kuatnya. Bukan hanya itu, ia juga sukses memberikan fondasi berbisnis yang kuat kepada perusahaan dengan filosofi Kapitalisme Terhubung-nya
http://www.seputar-indonesia.com/news/sosok-di-balik-sang-raksasa

2 komentar: