Sabtu, 06 April 2013

Dendam dari Masa Lalu

Koran Sindo, 7 April 2013

Judul Buku: Apartemen 666
Penulis: Sybill Affiat

Penerbit: Stiletto

Cetakan: I, Januari 2013

Tebal: 202 Halaman


KORAN SINDO (17/03/2013) memberitakan fenomena keterkaitan antara novel-novel best seller yang melahirkan film-film laris. Novel yang laku keras di pasaran, ternyata menjadi garansi kesuksesan ketika diadaptasi dan diangkat ke layar lebar menjadi film yang diputar di bioskop. Laskar Pelangi dan Ainun & Habibie menjadi bukti akan hal itu.


Menariknya, tidak satu pun film bergenre horor masuk di dalamnya. Rupanya novel dengan genre ini belum memiliki daya tarik yang cukup untuk diadaptasi menjadi sebuah film yang laris. Dengan kata lain, salah satu penyebabnya bisa jadi lantaran belum ada satu pun buku yang menawarkan kisah keberadaan makhluk dunia lain ini sukses menjadi best seller di Indonesia.


Padahal, jalinan cerita yang menegangkan, perjuangan seorang anak manusia dalam mengatasi persoalan hidupnya, kasih sayang, perjuangan melawan kejahatan serta nilai-nilai spiritualitas kerap kita jumpai dalam novel-novel horor, tentu saja selama pembaca pintar menarik makna dalam cerita. Termasuk dalam novel berjudul Apartemen 666 ini.   


Bercerita tentang sosok Samara, seorang asisten direktur yang hanya dalam satu hari kehilangan pekerjaannya alias dipecat oleh perusahaan tempatnya  mendedikasikan diri selama dua tahun penuh. Tanpa alasan yang jelas, setelah cuti selama dua bulan karena harus merawat sang ibu yang sakit hingga meninggal, pekerjaannya digantikan oleh Shanti, perempuan muda yang menjadi pegawai temporer menggantikannya.


Dengan berlinang air mata serta gelegak amarah dan dendam terhadap Ridwan, atasannya, Samara meninggalkan kantor. Kehidupannya semakin terpuruk setelah Bisma sang suami, belum juga memperoleh pendapatan yang cukup untuk sekedar membayar rumah kontrakan sederhana yang mereka tinggali. Keduanya akhirnya pindah ke tempat yang lebih murah.


Selama tiga bulan, Samara melamar kerja ke berbagai perusahaan namun hasilnya nihil. Usaha membuat kue yang dicobanya pun gagal total. Ia kemudian teringat sebuah iklan lowongan pekerjaan yang diberikan oleh Ridwan, melalui Sam, Kepala Bagian Personalia di perusahaannya dulu, yang di selipkan dalam amplop bersama surat rekomendasi, surat pengunduran diri, dan uang pesangon.


Samara pun mencoba melamar pekerjaan ke PT Desain Jaya Leana atau disingkat DJL. Siapa sangka, nasib baik seolah sedang menghampirinya. Selain diterima bekerja sebagai personal assistant di perusahaan properti tersebut, Samara juga oleh Lea, pemimpin perusahaan, diberi fasilitas ekslusif berupa apartemen DJL nan mewah lengkap dengan isinya. Sebuah gedung yang dibangun pada tahun 1666.


Babakan baru dalam hidup Samara dan Bisma pun dimulai. Dari keluarga yang hampir bangkrut dan tidak punya apa-apa, menjadi orang yang sangat berkecukupan secara materi dengan gaya hidup glamour. Namun, siapa sangka, apartemen megah tersebut menyimpan sejuta misteri yang perlahan tapi pasti menyibak tabir gelap masa lalu Samara serta nenek moyangnya.


Dimulai dengan kemunculan sosok perempuan tua renta disertai bisikan-bisikan parau yang memperkenalkan dirinya sebagai Nyimas Ayu. Belakangan diketahui, sosok tersebut merupakan arwah gentayangan nenek moyang Samara yang bermaksud mengingatkan agar ia segera meninggalkan apartemen tersebut.


Alasannya, keberadaan apartemen 666 yang mewah itu, ternyata perangkap yang dipasang oleh Surtikanti, ibu Nyimas Ayu sendiri. Tempat itu memiliki keterkaitan historis dengan sosok Surtikanti yang telah hidup ratusan tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1810. Seorang gadis cantik hasil hubungan terlarang antara serdadu Belanda dengan gadis pribumi penembang Jawa, Mayang.


Surtikanti yang ditinggal ayahnya kembali ke negeri Belanda, hanya hidup berdua dengan sang ibu yang dikucilkan oleh penduduk desa. Nasib buruk tak berhenti disitu, Surtikanti pada usia 16 tahun diperkosa beramai-ramai oleh para pemuda desa yang tergoda akan kecantikannya. Dendam membara di dadanya, sedangkan perutnya semakin membesar mengandung jabang bayi akibat perbuatan bejat tersebut.


Ia kemudian melarikan diri ke hutan belatara, rela bersekutu dengan penguasa kegelapan demi melampiaskan dendamnya, bukan hanya kepada para pemuda pemerkosanya, tapi seluruh penduduk desa serta keturunannya. Selain untuk balas dendam, mereka dijadikan tumbal sebagai bentuk persembahan dan pengabdian kepada tuan sejati yang telah memberinya segalanya.


Ritual bersetubuh dengan calon korban, dan menghisap sari pati kehidupan mereka hingga meninggal dijalani Surtikanti dan anak keturunannya. Hasilnya, bukan hanya menghasilkan kekayaan yang melimpah, namun juga umur panjang hingga ratusan tahun. PT DJL selain berarti Desain Jaya Leana ternyata memiliki singkatan lain, yaitu Dajal. 


Surtikanti yang hidup pada awal abad 19, ternyata masih hidup dua abad kemudian, dengan penampilan tetap cantik dan anggun. Bersama para pengikutnya, ia terus mengincar para korban. Samara, yang nota bene masih keturunan Surtikanti dirayu agar bersedia menjadi pengikutnya yang setia, dengan iming-iming kekayaan dan awet muda. Sebuah tawaran yang nampaknya sulit ditolak oleh orang yang kadung telah terbiasa dengan gaya hidup mewah.        


Kehadiran buku setebal 202 halaman ini, semakin memperkaya kisah-kisah bertemakan horor yang memang memiliki penggemar sendiri di berbagai belahan dunia, termasuk Tanah Air.  

Meski tidak selaris versi visual (film, sinetron, acara tv), atau novel-novel dengan genre motivasi. Namun eksistensinya tidak dapat dipandang sebelah mata. Karena melalui karya semacam ini, realitas pembaca dan masyarakat Indonesia yang beragam dapat terbaca.


Dengan kata lain, keberadaan novel horor bukan hanya sebatas media kanalisasi para penulis serta pembaca yang menggemari karya semacam ini, namun juga menjadi bacaan alternatif di tengah kepungan para penulis mainstream yang saat ini tengah merajai dunia perbukuan Indonesia. Apakah karya ini akan berhasil menjadi best seller atau tidak ? itu sepenuhnya urusan Tuhan dan selera pasar.  

4 komentar:

  1. Menurutku masih banyak potensi yg bisa dikembangkan dlm buku ini. Harusnya plotnya bisa lebih menarik dan banyak tokoh yg karakterisasinya perlu diperdalam. Untuk sementara buku ini masuk kategori biasa aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yups... dengan kata lain, harusnya novel ini bisa jauh lebih tebal dari yang saat ini... kita tunggu saja, barangkali penulisnya membuat sekuelnya ... terima kasih...:-)

      Hapus
  2. email resensi koran sindo apa sih mas? boleh berbagi?
    terimakasih,

    BalasHapus
    Balasan
    1. emailnya ranggarai@yahoo.com, silahkan...

      Hapus