Kamis, 04 April 2013

Mengembangkan Bakat Sukses dengan Benar

Koran Jakarta, 5 April 2013
 
Judul Buku: Bakat Sukses
Penulis: Daniel Coyle
Penerbit: Alvabet
Cetakan: I, Januari 2013
Tebal: 153 Halaman

Sejak dahulu, secara naluriah orang berpendapat bahwa bakat sebagian besarnya bersifat bawaan, suatu karunia yang dianugerahkan sejak lahir. Namun sekarang, berkat penelitian yang dilakukan berbagai kelompok ilmuwan termasuk Dr. K. Anders Ericsson, Dr. Douglas Fields, dan Dr. Robert Bjork, keyakinan-keyakinan lama tersebut mulai dijungkirbalikkan. 

Sebagai gantinya, suatu pandangan baru tentang bakat mulai terbentuk. Pandangan ini menyatakan bahwa sejatinya bakat tidak terlalu ditentukan oleh gen yang kita miliki, melainkan lebih banyak oleh tindakan kita: tepatnya, gabungan antara latihan yang tekun dan motivasi yang menghasilkan pertumbuhan otak.   

Demikianlah yang dikatakan Daniel Coyle dalam pengantar buku berjudul Bakat Sukses ini, yang berisikan kumpulan 52 tips jitu yang mudah dan sederhana untuk meningkatkan kemahiran, yang diambil langsung dari pusat persemaian talenta yang dikunjungi penulisnya. Kumpulan nasihat yang telah teruji, memiliki landasan ilmiah, dan singkat.

Hal pertama yang harus dilakukan adalah membangkitkan motivasi dengan menetapkan seorang yang ingin kita tiru. Kita semua hidup dengan “layar” berupa orang-orang yang ada di hadapan kita. Salah satu kunci membangkitkan motivasi adalah dengan memenuhi layar tersebut dengan berbagai citra yang jelas mengenai diri kita di masa depan, dan menatap citra-citra itu. setiap hari.

Studi menunjukkan bahwa hubungan, yang singkat sekalipun, dengan seorang panutan mampu memberikan peningkatan besar terhadap motivasi bawah-sadar. Sebagai contoh, sekedar mengetahui bahwa ulang tahun kita sama dengan seorang ahli matematika, mampu mendongkrak motivasi kita untuk menyelesaikan tugas matematika meningkat 62 persen. (Halaman 6)

Sedangkan langkah pertama untuk mengembangkan kemahiran adalah mengetahui dengan tepat jenis kemahiran apa yang kita kembangkan; kemahiran keras atau kemahiran lunak. Kemahiran keras adalah tindakan yang selalu dilakukan setepat dan sekonsisten mungkin. Kemahiran keras adalah soal ketepatan yang dapat diulang, dan biasanya dijumpai dalam minat-minta tertentu, khususnya yang bersifat fisik.

Sebaliknya, kemahiran lunak adalah kemahiran yang memiliki banyak jalan, tidak hanya satu, untuk mencapai hal baik. Kemahiran ini bukan soal selalu melakukan hal yang sama dengan sempurna, melainkan lebih berkaitan dengan bersikap cerdas dan interaktif; dengan mengenali sebuah pola segera setelah pola itu tersingkap, serta membuat pilihan yang cerdas dan tepat waktu. Kemahiran lunak biasanya dijumpai pada minat-minat yang lebih luas dan tidak terlalu khusus, terutama melibatkan komunikasi seperti pemain bola yang melihat kelemahan pertahanan tim lawan. (Halaman 23)

Dalam mengembangkat bakat, perjuangan sama sekali bukan sebuah pilihan, melainkan sebuah keniscayaan biologis. Begitulah cara evolusi membentuk kita. Perjuangan dan keputusasaan yang kita rasakan pada batas kemampuan, merupakan sensasi yang muncul dari terbentuknya koneksi syaraf yang baru, suatu gejala yang disebut “kesulitan yang diinginkan”. Tak ada sakit, tak ada hasil.

Pada banyak kemahiran, khususnya bidang atletik, medis, dan militer, ada suatu kebiasaan buruk untuk berlatih sampai benar-benar letih. Kebiasaan ini memang ada manfaatnya, terutama untuk meingkatkan kebugaran serta ketahanan mental, juga untuk memperkuat ikatan emosional dalam kelompok.

Akan tetapi dalam kaitannya dengan belajar, pandangan ilmiahnya jelas: kelelahan adalah musuh. Keletihan dapat memperlambat kerja otak. Ia memicu terjadinya kesalahan, mengurangi konsentrasi, juga mendorong dilakukannya jalan pintas yang melahirkan kebiasaan buruk. Bukan suatu kebetulan jika hampir semua pusat talenta mengutamakan latihan saat seseorang berada dalam kondisi segar. (Halaman 99)

Pada dasarnya, kita semua ingin meningkatkan kemampuan kita dengan pesat, kalau bias hari ini juga. Faktanya, bakat berkembang secara perlahan. Dengan demikian, kita tidak boleh merasa kesal karena jaringan kemahiran kita masih berada pada tahap perkembangan. Sebaliknya, kembangkanlah kemahiran tersebut melalui latihan mendalam setiap hari. 

Ada baiknya, berpikirlah seperti tukang kebun dan bekerja seperti tukang kayu. Berpikirlah dengan sabar, tanpa membuat penilaian. Bekerjalah dengan tekun, dengan strategi, dengan menyadari bahwa setiap bagian terhubung pada keseluruhan yang lebih besar.

Buku setebal 153 halaman ini, merupakan semacam panduan wajib bagi siapa saja yang menginginkan kesuksesan dengan memaksimalkan potensi atau bakat yang dimilikinya. Dengan demikian, inti dari buku ini adalah bahwa kesuksesan seseorang pada dasarnya lebih banyak ditentukan oleh diri sendiri (internal), alih-alih orang lain (eksternal).               

4 komentar:

  1. terima kasih atas resensi nya, sangat bermanfaat....
    www.ebook-saya.com
    saling berkunjung ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih atas komentar dan informasinya...:-)

      Hapus
  2. luar biasa euy,,raja resensor yeuh

    BalasHapus