Senin, 15 Juni 2015

Kisah-kisah Pembawa Bahagia

Koran Sindo, 14 Juni 2015

Judul Buku: Happines Cafe; Kisah Inspiratif Orang-orang Yang Bahagia
Penulis: Arvan Pradiansyah & Hermawan Aksan
Penerbit: Pustaka Inspira
Cetakan: I, Mei 2015
Tebal: 301 Halaman

Siapa yang tidak mengenal nama Ludgwig van Beethoven di jagat musik dunia ? Salah satu komponis terbesar dunia dan tokoh penting di masa peralihan antara Zaman klasik dan Zaman Romantik. Pria kelahiran 16 Desember 1770 ini berhasil menggelar konser pertamanya pada usia tujuh tahun. 

Ia diramalkan oleh guru komponis pertamanya, Christian Gottlob Neefe, akan menjadi sosok sehebat Mozart seandainya Beethoven meneruskan karirnya. Mozart yang diidolakannya pun terkagum-kagum dengan permainan pianonya ketika keduanya bertemu untuk pertama kalinya di Wina, Austria.

Jalan takdir rupanya tak semulus yang dibayangkan. Pada pertengahan 1801, daya pendengaran Beethoven mulai berkurang akibat otoslerosis. Sebagai seorang musikus yang keindahan nadanya hanya dapat dinikmati oleh indera pendengar, penyakit ini sama saja kematian bagi karirnya.

Karenanya, ia sempat putus asa, depresi, minder dari pergaulan sosial, bahkan berpikir untuk bunuh diri. Tetapi akhirnya ia memutuskan untuk berkarya betatapun sulitnya. Terkadang ia menempelkan telinga ke piano agar tetap merasakan getarannya. Namun dalam keadaan tuli ia justru kemudian banyak melahirkan karya monumental seperti Fur Elise.

Faktor apakah yang membuat sosok Beethoven mampu bertahan hidup sampai 27 tahun setelah dia tuli total dan tetap bisa menghasilkan berbagai karya yang indah sampai akhir hayatnya ?           

Menurut Arvan Pradiansyah dalam buku berjudul Happines Cafe; Kisah Inspiratif Orang-orang Yang Bahagia ini, ketahanan mental yang dimiliki Beethoven merupakan buah dari mindset serta keyakinannya bahwa ia benar-benar diutus Tuhan ke dunia ini untuk berkontribusi kepada kebaikan orang banyak melalui musik yang indah dan mencerahkan. (Halaman 292)

Ia berusaha mengembangkan potensinya secara maksimal dengan berguru pada banyak komponis dan musikus besar, termasuk Mozart. Ia juga ingin memastikan bahwa semua potensinya telah termanfaatkan, telah berubah bentuk menjadi karya yang dapat dinikmati orang banyak sebelum ia meninggal.

Pejuang Yang Bahagia 
Selain kisah dan perjuangan Beethoven, buku yang ditulis bareng dengan penulis dan wartawan senior Hermawan Aksan ini menyuguhkan pengalaman sepuluh tokoh lainnya. Semuanya memiliki benang merah yang sama: orang-orang yang memiliki tekad perjuangan luar biasa dan menjalani hidup dengan penuh bahagia, meski memiliki keterbatasan secara fisik (disabilitas).

Sebut saja misalnya sosok Helen Keller. Terlahir sebagai bayi sehat di Alabama, Amerika Serikat pada 27 Juni 1880, namun kemudian penyakit yang menyerangnya ketika usianya belum genap 19 bulan menyebabkan Helen menjadi bocah perempuan yang buta, tuli, dan bisu. Para dokter bahkan memprediksi nyawanya tidak akan bertahan lama. 

Dalam dunia yang gelap dan hening, ia menjadi sulit berkomuniasi dengan sekitar. Keluarganya pun menganggapnya sebagai anak yang sulit dan bodoh yang memiliki kecerdasan seperti hewan dan tidak akan dapat belajar apa pun dan menjadi apa pun. Sehingga mereka putus asa dan berniat menaruhnya di sebuah panti tempat anak-anak disabilitas dirawat. Namun sang ibu menentangnya.  (Halaman 147)

Helen beruntung, ia berada di bawah bimbingan Anne Mansfield Sullivan, seorang guru penyabar, pejuang dan mengetahui apa yang harus dilakukan terhadap anak seperti dirinya. Sang guru mengubah hidupnya dengan cara mengajarinya nama-nama benda dengan mengejanya ke atas tangannya. 

Tidak butuh waktu terlalu lama, Anne kemudian mengajari Helen membaca, pertama-tama dengan huruf timbul, lalu dengan Braille, dan menulis dengan mesin tik biasa dan Braille. Keinginannya untuk terus belajar semakin tak terbendung. Ia kemudian belajar mengenal suara pada Sarah Fuller, sekaligus berbagai macam pelajaran seperti aritmetika, fisika, geografi, bahasa Prancis dan Jerman.    

Helen kemudian menjadi orang buta-tuli pertama yang meraih gelar bachelor of arts dan lulus dengan predikat magna cum laude. Ia juga dikenal sebagai seorang penulis yang melahirkan 12 buku yang diterbitkan, seorang aktivis politik, dosen, dan advokat bagi para disabilitas. 

Suguhan Bergizi
Disuguhkan ke tengah pembaca dengan gaya bahasa bercerita dan bertutur, membuat buku setebal tiga ratus satu halaman ini dapat dikunyah dan dinikmati pembaca dari beragam generasi dan segala lapisan sosial. Meski demikian, menu yang dihidangkannya tetap sarat gizi yang dapat menyehatkan jiwa. 

Selain perjuangan sosok Ludgwig van Beethoven dan Helen Keller, kisah-kisah luarbiasa dari Jessica Cox, Nick Vujicic, Ben Underwood, Randy Pausch, Lee Hee-ah, Bethany Hamilton, Temple Grandin, Qian Hongyan, dan Steven Hawking turut pula dihadirkan oleh duo penulis Arvan Pradiansyah dan Hermawan Aksan di dalamnya.

Kesebalas tokoh yang dikisahkan merupakan orang-orang yang telah menemukan tujuan hidupnya yang ditugaskan Tuhan. Menurut Arvan, Kita dikirim Tuhan ke dunia ini dengan satu maksud, dengan sebuah misi suci, dan tugas kita adalah menemukan masing-masing misi yang ditugaskan dan menjalankannya. Sehingga dengan demikian kehadiran kita akan menjadi manfaat bagi umat manusia. Itulah kebahagiaan sejati. (Halaman 19) sebagaimana yang telah ditemukan oleh sebelas tokoh di atas.   


Tidak ada komentar:

Posting Komentar