Selasa, 26 Mei 2015

Jalan Panjang Sang Gerilyawan

Koran Tempo, 24 Mei 2015
 
Judul Buku: 693 KM; Jejak Gerilya Sudirman
Penulis: Ayi Jufridar
Penerbit: Noura Books
Cetakan: I, Januari 2015
Tebal: 310 Halaman

Sejarah boleh jadi ditulis hanya oleh para pemenang. Namun yang pasti, sejarah dikisahkan harus dengan kejujuran sehingga dapat menjadi dian yang menyigi keremangan bagi generasi mendatang, bukan mewariskan kabut gelap akan masa lalu. Karena rekayasa dan kebohongan yang menyejarah, hanya menunggu waktu terkuak sebelum lonceng kebenaran berdentang menghantam kesadaran zaman.

Selain itu, penulis yang menarasikan sejarah dan menghadirkan tokoh masa lalu sebagai cerita, diharuskan untuk melakukan riset secara mendalam sehingga memiliki wawasan yang cukup atas sosok yang hendak disuguhkan. Minimnya informasi bukan hanya membuat kisah yang ada menjadi miskin wawasan bagi pembaca, namun bangunan cerita juga akan semakin jauh dari realita.

Hal demikian tidak berlaku dengan novel berjudul 693 KM; Jejak Gerilya Sudirman ini. Meski berbentuk novel, namun Ayi Jufridar, penulisnya, berusaha keras untuk menggali informasi sebanyak mungkin mengenai sosok Soedirman. Guna melengkapi pengetahuan yang sejak kecil mengendap di kepala atas hikayat sang Jendral Besar, ia secara khusus mewawancarai dua keponakan Soedirman. Padahal Ayi dapat saja berkilah, bahwa yang ditulisnya cerita fiksi semata.

Sebagaimana tertera pada judulnya, buku ini secara khusus menyuguhkan kisah perjalanan panjang suami Siti Alfiah tersebut dalam memimpin perang gerilya. Sebuah perang yang lahir sebagai respons atas agresi militer Belanda II yang berupaya menjajah kembali Republik Indonesia yang baru merdeka sekaligus menduduki Ibukota Yogyakarta.

Bergerilya meninggalkan anak-istri tercinta tentu bukanlah sebuah pilihan yang mudah bagi siapapun. Terlebih Soedirman, yang kondisi fisiknya tengah menurun akibat penyakit Koch (TBC). Naik turun gunung, keluar masuk hutan harus dirasakan lelaki kelahiran Purbalingga ini di atas “singgasana” berupa tandu kayu, dengan paru yang tinggal satu.

Sebagai seorang panglima Tentara Keamanan Rakyat (TKR), persoalan yang dihadapi Soedirman bukan sebatas kondisi fisik yang lemah atau hal-hal yang bersifat personal lainnya, bukan pula melulu soal perlengkapan militer musuh yang jauh lebih canggih dan pasukan yang lebih terlatih dan terorganisir. Keberadaan Simon Spoor sebagai komandan pasukan musuh yang menjadi otak Operasi Burung Gagak pun tidak pula menggetarkan nyalinya.

Namun pengkhianatan dari sebagian politisi Indonesia yang mewakili negara dalam berbagai perundingan, tapi justru kerap merugikan pihak sendirilah yang justru meresahkannya. Tidak sedikit pula orang Indonesia yang menjadi komprador, kolaborator bahkan menghamba Belanda dengan menjadi anggota delegasi penjajah tersebut. (Halaman 54)

Keberadaan para pengkhianat bangsa rupanya bukan monopoli kalangan politisi, namun tidak sedikit juga dari kalangan militer dan rakyat yang berperan sebagai mata-mata musuh. Termasuk dalam jalan panjang gerilya yang dilakukan Soedirman pada saat usianya yang relatif masih sangat muda, 32 tahun, tersebut.

Banyaknya gedibal kolonial mengharuskan ia lebih berhati-hati dalam mengambil rute perjalanan. Kerahasiaan menjadi kunci kesuksesan perang gerilya. Semakin banyak orang yang tahu posisinya berada, maka semakin besar bahaya dan kegagalan yang akan dihadapi. Karenanya, penyamaran mutlak diperlukan.

Misalnya saja, di Bedoyo, Soedirman harus berdiam diri ketika dikira sebagai Sri Sultan Hamengkubuwono IX, karena orang-orang yang bertemu dengannya mengira ia sebagai sosok penguasa kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat tersebut. Hal ini dilakukan agar posisinya sebagai panglima perang gerilya tidak terdeteksi musuh. (Halaman 106)

Keberadaan para pengkhianat Ibu Pertiwi menjadi salah satu hal menarik dalam buku setebal tiga ratus sepuluh halaman ini. Ayi bahkan mendeskripsikan salah satu tokoh yang berperan penting dalam kemerdekaan namun dicurigai Soedirman sebagai sosok pengkhianat.

Pasalnya dalam beberapa kali rapat, Soedirman menyebutkan rencana penyerangan ke beberapa markas Belanda di depan tokoh tersebut. Ketika serangan dilakukan, Belanda sudah siap menyambut tentara nasional. Kejadian itu bahkan terulang beberapa kali. Sayangnya, Ayi tidak mengungkap nama tokoh yang dimaksud. (Halaman 274)

Sosok seperti Soedirman mungkin tidak akan memiliki ganti. Kecanggihan strategi gerilyanya, semangat juang, keikhlasan serta kecintaan terhadap negara dan bangsa patut menjadi kebanggaan sekaligus teladan bagi siapa saja, terutama para prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang sangat beruntung memiliki panglima besar pertama sepertinya.

Sosok Soedirman yang religius dan nasionalis seharusnya menjadi cermin bagi segenap anak bangsa bahwa antara agama dan nasionalisme tidak pernah ada pertentangan. Soedirman dan tokoh-tokoh pejuang lain membuktikan hal itu.

Kendati demikian, buku ini tidak dimaksudkan sebagai sebuah biografi maupun jejak gerilya Soedirman secara utuh. Namun ditulis sebagai sebuah karya sastra yang hendak menularkan nyala api semangat Soedirman kepada khalayak pembaca. Karenanya, untuk memperkaya literasi, diperlukan melakukan pembacaan tambahan atas karya-karya sejenis lainnya.

2 komentar:

  1. 693 Km itu ditempuh berapa hari oleh jenderal sudirman,dari kota apa ke kota apa.terimakasih.saya guru sejarah dibanjarmasin.tertarik dgn buku ini.cara membelinya bagaimana.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus