Rabu, 22 Desember 2010

Mengebor Misteri Lobi Israel

Judul Buku    : Dahsyatnya Lobi Israel
Penulis          : John J. Mearsheimer & Stephen M. Walt
Penerjemah  : Alex Tri Kantjono Widodo
Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan       : Pertama, Juli 2010
Tebal            : xvii + 731


Pasca berakhirnya Perang Dunia Kedua dengan panggung Eropa sebagai latar utama, bau amis darah akibat bara pertempuran saat ini menyengat kuat dari kawasan Timur Tengah. Di wilayah yang banyak melahirkan para Nabi ini, sang Malaikat Maut seperti enggan beringsut, memanen nyawa karena terjangan Tank-tank yang garang, tajamnya peluru atau pesawat-pesawat tempur yang seakan selalu haus darah tak pernah lelah terus berburu mangsa.

Namun tanah Palestina-lah sejatinya yang paling kerap memercikkan darah manusia saat ini. Horor kematian biasa ditebarkan pasukan Israel sehari-hari, sesering televisi nasional menyuguhkan sinetron kepada orang Indonesia. Bagi yang selamat, ibarat film berseri, ancaman kematian setia menanti di sepanjang episode berikutnya. Blokade Israel terhadap rakyat Palestina, menyebabkan ancaman kelaparan yang begitu nyata dan kematian merupakan kepastian yang segera menghampiri, sepasti naiknya harga sembako menjelang Idul Fitri.

Repotnya, sang Polisi Dunia seakan acuh, bahkan cenderung mendukung segala aksi yang dilakukan Israel. Hal ini tentu saja membuat banyak pihak mengernyitkan dahi, Amerika Serikat yang getol dengan isu Hak Asasi Manusia (HAM), seolah impoten menghadapi sepak terjang Israel yang menginjak habis-habisan nilai-nilai HAM.



Atas sikap ini, tidak mengherankan jika kemudian terdengar sumir adanya sebuah kekuatan yang mampu mengendalikan negeri Super Power tersebut, sehingga tidak memproduksi kebijakan yang berseberangan dengan Israel. Kekuatan inilah yang disebut Lobi Israel.

Keberadaan Lobi Israel lebih terdengar sebuah dongeng daripada kenyataan. Banyak yang meyakini keberadaannya, namun hanya segelintir orang yang berani menyuarakannya. John J. Mearsheimer dan Stephen M. Walt, penulis buku setebal tujuh ratus tiga puluh satu halaman ini, merupakan diantara orang yang sedikit tersebut. Dengan resiko hujan cercaan dan kritikan, bahkan dihadiahi tuduhan yang paling ditakuti di dunia Barat, Anti-Semit.

Pada dasarnya, lobi Israel bukan sejenis cabal atau konspirasi. Sebaliknya, individu dan organisasi yang membentuk lobi ini beroperasi secara terbuka dan dengan cara sama seperti kelompok-kelompok kepentingan lain, meskipun dengan batas-batas yang kabur.

Bukan sebuah organisasi terpusat, hirarkis, dengan keanggotaan yang tertentu, namun memiliki sebuah inti yang terdiri atas organisasi maupun individu berpengaruh bertujuan jelas; mendorong pemerintah Amerika menyediakan bantuan material untuk Israel dan mendukung kebijakan-kebijakan pemerintahnya. (halaman. 177). Dengan kata lain, untuk menjadi bagian dari lobi Israel, orang harus secara aktif berusaha menggerakkan kebijakan luar negeri Amerika ke arah yang pro-Israel.

Para pelakunya terdiri atas warga Amerika keturunan Yahudi. Kalangan yang menurut sejarawan Amerika, Melvin I. Urofsky, kelompok etnik dalam sejarah Amerika yang memiliki keterlibatan begitu ekstensif dengan sebuah negara lain. Pada awalnya lobi dijalankan secara tersamar di belakang layar dan lebih menggunakan kontak-kontak pribadi antar pejabat pemerintah yang berpengaruh, hal ini dilakukan efek ketakutan mereka terhadap anti-semitisme dan untuk menyamarkan kebenaran tuduhan kesetiaan ganda terhadap warga Amerika keturunan Yahudi.

Efektifitas lobi Israel memungkinkan terjadi terutama disebabkan regulasi untuk sumbangan dana kampanye yang lemah. Sehingga lobi dapat mengarahkan dana kampanye yang melimpah terhadap calon-calon yang dapat mereka kendalikan, sebaliknya menyingkirkan yang berpandangan meragukan. Hasilnya, nyaris mustahil seorang politisi yang tidak sejalan, apalagi berseberangan dengan kepentingan lobi, dapat terpilih sebagai Senator terlebih Presiden di Amerika.

Dahsyatnya kekuatan lobi Israel dapat terlacak dari keputusan yang tergesa Amerika untuk segera menginvasi Irak di bawah pimpinan Saddam Husein, tahun 2003. Tidak ada satu pun yang realistik dari semua alasan yang dipublikasikan untuk menyerang Irak, yang telah lumpuh akibat embargo PBB selama sepuluh tahun sebelumnya.

Tuduhan menyimpan senjata biologis pemusnah massal hingga kini tidak dapat dibuktikan. Tidak terdapat pula hubungan antara Saddam Husein maupun rakyat Irak dengan sosok yang dianggap paling bertanggung jawab atas tragedi World Trade Center (WTC) tahun 2001, Osama bin Laden. Begitu juga dengan motif minyak.

Di balik semua alasan konyol tersebut, buku ini berpendapat perang digerakkan lobi, dengan harapan untuk membuat Irael lebih aman. Kecurigaan ini sedari awal berhembus di kalangan ilmuwan dan pengamat politik, namun tidak ada satu pun yang berani menyatakannya, karena lagi-lagi takut akan tuduhan anti-semit.(halaman, 336).

Akhirnya pecahlah perang yang merenggut ratusan ribu jiwa penduduk sipil, dan seribu lebih tentara sekutu. Sebuah invasi yang sangat merugikan Irak dan Amerika sendiri. Hanya satu pihak yang diuntungkan dan biang dari peperangan ini, Israel. Kerugian Amerika Serikat semakin bertambah, mengingat kalangan radikalis Islam seolah tersiram bahan bakar api kebenciannya terhadap Amerika yang dianggap telah memproklamasikan perang dengan penyerbuan-penyerbuan yang dilakukannya. Deretan aksi teror pun semakin mengular, yang sekamnya masih terasa hingga kini.

Buku yang terdiri dari sebelas bab ini, mengebor secara sempurna segala misteri lobi Israel yang selama ini tertutup rapi. Fakta yang terpapar di dalamnya disuguhkan secara obyektif dan berimbang, mengingat tidak sedikit referensi yang digunakan juga berasal dari Israel dan kalangan Yahudi Amerika sendiri, sehingga konklusi di dalamnya sulit untuk dihabisi.

Terlebih di bagian akhir buku ini, terdapat satu bab khusus yang menawarkan solusi jitu bagaimana seharusnya pemerintah Amerika Serikat mengambil kebijakan atas Israel. Karena pada dasarnya, ada perbedaan besar antara pikiran masyarakat luas tentang Israel dan hubungannya dengan Amerika Serikat dan bagaimana elit pemerintah di Washington menjalankan kebijakan Amerika.

Dengan demikian tujuan utama dari buku ini adalah menyadarkan komunitas Amerika Serikat untuk berpikir jernih menimbang sisi positif dan negatif hubungan antara Amerika dan Israel yang sudah tidak lagi rasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar