Sabtu, 04 Desember 2010

Soeharto di Mata Sang Adik



Judul Buku : Memoar Romantika Probosutedjo: Saya dan Mas Harto
Penulis : Alberthiene Endah
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Pertama, Juni 2010
Tebal : 684 Halaman
Harga : Rp. 165.000

Bahwa orang besar memiliki kharisma yang kuat rupanya bukan isapan jempol, terbukti pada sosok mantan presiden RI ke dua, Soeharto. Meski lebih dari tiga tahun pasca kematiannya, namun bayang-bayang kebesaran Jenderal bintang lima tersebut masih melekat erat pada para pengagumnya. Bahkan beberapa waktu lalu, sempat muncul wacana agar mantan penguasa Orde Baru tersebut disematkan gelar kehormatan sebagai Pahlawan Nasional.

Sulit disangkal, bahwa para pemujanya yang masih banyak tersisa hingga kini, kebanyakan merupakan orang-orang yang sangat diuntungkan ketika Soeharto berkuasa, tetapi setidaknya memiliki loyalitas dan tahu berterima kasih, dibanding sebagian besar lain yang sama-sama mereguk manisnya berlindung di balik ketiak kekuasaan Soeharto ketika memerintah, namun menjauh bahkan ikut menghujat, pada masa kejatuhannya.

Diantara yang sedikit itulah sosok Probosutedjo mengemuka, dan buku ini merupakan sebuah pembuktian akan loyalitasnya. Di dalam buku setebal 681 halaman ini, Probo menuturkan banyak hal yang diyakininya sebagai fakta sejarah yang sebagian belum diketahui publik.


Sebuah Kesaksian

Buku yang sejatinya merupakan biografi penuturnya, toh tetap saja, nama Soeharto terseret ke dalam pusaran ceritanya. Disatu sisi hal ini dianggap wajar mengingat Probo merupakan keluarga dekat –adik kandung- Soeharto dan secara intens selalu menemani hampir di sepanjang hidupnya, namun tak pelak tetap saja menunjukkan betapa kuat daya tarik penguasa yang turun akibat badai reformasi tersebut.

Hasilnya, buku ini lebih mirip pledoi atas diri Soeharto sekaligus Probosutedjo sendiri, atas pemberitaan negatif yang beredar seputar dua sosok ini. Soeharto atas kekuasaan yang digenggamnya dan Probosutedjo atas kekayaan yang dihimpunnya. Sebagai kesaksian orang terdekat, pembelaan tersebut sangat kentara, misalnya Probo menyatakan seburuk-buruknya pemerintahan Soeharto di mata orang, dia tidak memiliki catatan rakyatnya kelaparan dan berebut minyak tanah. (halaman. 316).

Meski demikian, hal tersebut merupakan sebuah fakta yang nampaknya sulit terbantahkan. Di sisi lain, reformasi yang digadang-gadang membawa angin perubahan secara lebih baik pada tegaknya hukum di Indonesia, nyatanya hanya sebatas wacana. Sebagaimana pengalaman penulisnya, ketika ia berhadapan dengan tuntutan melakukan korupsi Hutan Tanaman Industri (HTI).

Selain harus mendekam selama empat tahun di balik jeruji besi plus kewajiban mengembalikan kerugian negara sebesar 100,9 miliar rupiah, sialnya Probo juga mengalami pemerasan dan penipuan mulai oleh Harini Wijoso pengacaranya, hingga Pono Waluyo, orang kepercayaan Bagir Manan yang saat itu menjabat sebagai ketua Mahkamah Agung, sebesar enam miliar dengan ketentuan yang lima miliar merupakan jatah atasan Pono.

Ketidaktegasan dan minimnya keberanian penegak hukum negeri ini pasca reformasi juga terendus dalam buku ini. Kuatnya desakan publik agar Soeharto di meja hijau-kan tidak mendapat respon positif, dengan dalih sakitnya Soeharto dan mengalami kerusakan otak permanen sehinga tidak memungkinkan untuk disidang.

Faktanya, menurut Probo daya ingat kakaknya dalam kondisi baik. Meskipun agak sedikit menurun kesehatannya, namun Soeharto masih mampu membaca koran dan menonton televisi, ia sempat menggeleng-gelengkan kepalanya ketika melihat panelis saling berteriak dengan kasar di dalamnya. Soeharto langsung mengkritik bahwa demokrasi tidak seperti itu. Demokrasi itu harus santun dan menghargai orang lain. Kita ini negara Pancasila. Jangan-jangan orang zaman sekarang sudah tidak paham Pancasila. (halaman. 674).

Sejarah Tanding

Sejarah sering disebut milik mereka yang menang. Namun sebenarnya sejarah milik mereka yang mau menulis dan mempublikasikannya sehingga dibaca khalayak yang pada akhirnya menjadi konsumsi publik dan dipercaya sebagai sebuah kebenaran.

Hal inilah yang nampaknya sedang diperjuangkan oleh Probosutedjo lewat memor ini. Penulisannya diharapkan mampu
menjadi pembantah, penyeimbang maupun penguat pemberitaan yang selama ini beredar. Meski demikian, ia tidak dapat menyembunyikan kedongkolannya atas banyaknya tuduhan bahwa hampir semua pencapaiannya kemudian diklaim sebagai “dampak KKN”. Segala yang dapat dikatakan sebagai “hadiah Cuma-Cuma”. Dan keberhasilannya dicap sebagai “efek fasilitas”. Dengan sedih ia mengatakan “seolah sebagai manusia saya tidak memiliki kompetensi dan kapabilitas untuk mengembangkan perusahaan.” (halaman, 394).

Sebagai sebuah memoar, buku yang terdiri dari tujuh belas bab ini bertutur menggunakan sudut pandang Probo yang memakai kata “saya” dan panggilan “mas” kepada Soeharto. Dibantu oleh Albertiene Endah, penulis kawakan yang telah menelurkan banyak biografi pesohor Tanah Air seperti Krisdayanti dan Chrisye, jadilah buku ini menjadi enak dibaca dengan gaya bahasa yang mengalir mudah dicerna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar