Kamis, 30 Desember 2010

Wisata ke Kota Nabi

Judul Buku: Ketika Nabi Saw. di Kota
Penulis: Nizar Abazhah
Penerbit: Zaman
Cetakan: Pertama, 2010
Tebal: 603 Halaman

Muhammad Saw. merupakan sosok terpenting dalam komunitas muslim. Ia bukan hanya seorang penerima dan penyampai wahyu Tuhan kepada manusia, namun juga sosok yang interpretasinya terhadap wahyu tidak mungkin salah.

Sebagai makhluk pilihan Allah, hamba tersuci-Nya, dan orang yang dipercaya menerima wahyu-Nya. Rasulullah merupakan sosok yang ma’shum, dilindungi atas segala kekeliruan. Bahkan Allah memberinya fasilitas keistimewaan berupa syafa’at, untuk menyelamatkan umatnya di akhirat kelak.

Selain itu, sejarah membuktikan bahwa Nabi juga merupakan seorang insinyur yang jenius, pedagang yang brilian, panglima perang yang mumpuni, negarawan yang pandai dan politisi yang handal. Tidak sedikit kebijakan yang diambilnya merupakan cerminan langsung atas perintah Ilahi, namun tidak jarang pula merupakan representasi hasil inisiatif seorang manusia biasa yang lahir atas dasar pertimbangan-pertimbangan teknis rasional semata.

Salah satu maha karyanya adalah proyek mercusuar membentuk komunitas oase Yatsrib yang kemudian berganti nama menjadi Madinah, menjadi sebuah imperium penguasa jazirah Arab bahkan Dunia. Buku ini merupakan jejak rekam Nabi selama sepuluh tahun lebih membangun Madinah.


Penulisnya, Nizar Abazhah, merupakan sejarawan tersohor di Damaskus yang tidak sedikit dari karya-karyanya menjadi bestseller di tanah Timur Tengah, termasuk buku setebal enam ratus tiga halaman ini. Penulis berhasil memotret secara rinci pertumbuhan Madinah sebagai sebuah kota baru yang berkembang secara pesat dari segala dimensi.


Buku berjudul lengkap Ketika Nabi Saw. di Kota: Kisah Sehari-hari Nabi di Madinah ini, menceritakan perjuangan Rasulullah menata Madinah, baik dari segi sosial, politik, administrasi, ekonomi hingga keilmuan. Hingga menjadikan Madinah menjadi sebuah negara dengan perdaban yang tak pernah dikenal dalam peta sejarah Arab sebelumnya.

Hal yang pertama kali dilakukan Nabi adalah mengganti Yatsrib menjadi Madinah. Sebuah pergantian yang merubah arah sejarah daerah oase tersebut.  Nabi bukan membangun gedung dan berbagai fasilititas fisik yang dilakukan pertama kali, melainkan membangun sumber daya manusia yang berkualitas. Beliau mendidik shahabat, mengajari mereka syariat, dan merintis jalan untuk mereka lanjutkan kelak sepeninggal beliau. Inilah visi dan misi jauh ke depan yang diemban Nabi sekaligus sebagai seorang pemimpin. Tidak mengherankan jika dikemudian hari Madinah menjadi sebuah negara ideal di segala bidang. 

Setelah mengajari para shahabat, mempersaudarakan antara kalangan Anshar dan Muhajirin, Rasulullah mulai menata konstruksi bangunan dan fasilitas fisik, yang ditandai dengan ditegakkannya Masjid Nabawi, tepat di jantung kota dikepung bangunan rumah dari segala arah. Masjid ini merupakan tempat kajian keilmuan dan keagamaan dalam bentuk lingkaran atau halaqah, tempat Nabi menyampaikan bimbingan, arahan, perintah, dan larangan kepada para sahabat. Sekaligus menjadi lembaga perundingan, pengambil keputusan dan lembaga tempat meminta fatwa ketika Rasulullah absen.

Dengan demikian, masjid ini menjadi tempat paling penting pada masa hidup Rasulullah dan sahabat. Ia adalah tempat semua hati bergantung. Sebuah kebun surga tempat mereka menggembala jiwa. Sesekali acara hiburan digelar di masjid ini. Orang-orang Habsyi bahkan pernah unjuk kebolehan bermain pedang, bergulat dan menari.

Selain itu Nabi juga menata sistem perekonomian Madinah yang berdiri atas landasan transaksi yang transparan. Karena itu, riba diharamkan secara mutlak, baik dalam bentuknya yang terang-terangan maupun yang samar-samar, dan yang memakannya diancam dengan keras. Tujuannya selain perintah nash al-Qur’an adalah demi terciptanya masyarakat yang jujur.

Keberhasilan Nabi membangun masyarakat Madinah adalah sebuah mukjizat. Madinah sebenarnya bukanlah sebuah komunitas yang hidup harmonis. Di sini beliau harus berhadapan dengan segala muslihat yang licik, perang dingin, musuh dalam selimut, yang lebih berbahaya daripada perantg terbuka.

Madinah juga merupakan komunitas yang heterogen. Di dalamnya bukan sekedar terdapat aneka suku, namun juga ras dan kepercayaan beragam. Berbeda dengan Makkah yang homogen. Untuk menjaga dan memperkokoh bangunan masyarakat baru tersebut Nabi menyusun asas-asas pedoman hidup yang berlandaskan pada persamaan hak dan kewajiban pada seluruh tingkat masyarakat.  

Membaca buku ini, membuat kita serasa berwisata ke Kota Nabi, Madinah. Dan menyaksikan langsung bagaimana Rasulullah menanamkan fondasi serta membangun tembok dan merias salah satu kota suci umat Islam tersebut menjadi kota yang cantik dan diberkahi. Sehingga bagi yang mengaku sebagai pecinta Nabi, keberadaan buku ini sangat memiliki arti lebih berupa informasi hal ihwal yang dilakukan nabi ketika beliau membangun dan menata Madinah.

Selamat membaca dan berwisata ke Kota Nabi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar