Rabu, 26 Juni 2013

Upaya Menciptakan Dunia Berbelas Kasih

Koran Sindo, 16 Juni 2013

Judul Buku: Compassion; 12 Langkah Menuju Hidup Berbelas Kasih
Penulis: Karen Armstrong
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, April 2013
Tebal: 247 Halaman

Saat ini, dunia sedang mengalami polarisasi secara berbahaya. Ada ketidakseimbangan yang mencemaskan antara kekuasaan dan kekayaan, sehingga menimbulkan kemarahan, kelesuan ekonomi, keterasingan, dan keterhinaan yang meledak dalam kekejaman teroris yang membahayakan.

Perselisihan yang akar-akarnya bersifat “sekuler”, seperti konflik Arab-Israel, telah dibiarkan membusuk dan menjadi “suci” lalu, setelah disakralkan, banyak pendirian cenderung menjadi mengeras dan resisten terhadap solusi pragmatik. Agama sendiri semakin banyak disalahpahami dan dislahgunakan sebagai alat peperangan dan kekerasan. 

Demikian kecemasan seorang Karen Armstrong, sebuah kecemasan yang telah memuncak, sehingga ia berani keluar dari kemapanannya sebagai penulis spesialis buku-buku sejarah dan perbandingan agama, dan berkonsentrasi pada aspek yang lebih substansial dan menukik pada intisari agama, sebagaimana tertuang dalam buku berjudul lengkap Compassion; 12 Langkah Menuju Hidup Berbelas Kasih ini.

Piagam Belas Kasih (Charter for Compassion) ditawarkannya sebagai solusi atas masalah-masalah tersebut di atas, mengingat belas kasih merupakan sesuatu yang alami bagi manusia. Sebuah dokumen universal tanpa melihat perbedaan agama, ideologi atau bangsa seseorang.

Selain itu, belas kasih juga pada dasarnya tersemat dalam jiwa semua tradisi agama, atau etika kerohanian, yang menyeru manusia untuk menyisihkan ego dan memperlakukan orang lain sebagaimana mereka ingin diperlakukan.

Meskipun, menurut mantan biarawati yang telah menulis 22 buku ini, sifat tersebut justru semakin terasa asing bagi gaya hidup manusia modern, di mana ekonomi kapitalis bersifat sangat kompetitif dan indivudialistis. Tanpa peduli yang terjadi dengan orang lain, terlebih kompetitor.

Tantangan juga datang dari kalangan positivis, yang berpendapat bahwa gen manusia secara tak terhindarkan bersikap egois dan bahwa manusia terprogram untuk mengejar kepentingannya sendiri tanpa peduli apa pun akibatnya. Hasilnya, altruisme sering dianggap hanya sebatas ilusi.

Compassion diartikan Karen dengan menempatkan diri kita dalam posisi orang lain, untuk merasakan penderitaannya seolah-olah itu adalah penderitaan kita sendiri, dan secara murah hati masuk ke dalam sudut pandangnya. Oleh karena itu, belas kasih dapat didefinisikan sebagai sikap altruisme konsisten yang berprinsip. (Halaman 15)

Terdapat dua belas langkah menumbuhkan belas kasih yang dirumuskannya dengan istilah Kaidah Emas. Berisi langkah-langkah yang bersifat mendidik dan dirancang untuk mengeluarkan belas kasih yang bersemayam dalam setiap orang agar menjadi kekuatan penyembuh dalam kehidupan.

Langkah pertama adalah dengan belajar tentang belas kasih. Membaca dan mempelajarinya akan menjadi bagian penting dari proses ini dan harus menjadi kebiasaan seumur hidup. Belas kasih mengharuskan kita membuka hati dan pikiran bagi semua orang lain.

Langkah kedua adalah melihat dunia sendiri. Selama langkah ini, kita harus membawa diri kita secara mental ke puncak gunung tinggi, tempat kita bisa berdiri tegak dan melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda. Langkah ketiga, menumbuhkan belas kasih pada diri sendiri.  

Keempat, menumbuhkan empati. Alih-alih secara sengaja mempertahankan diri dalam keadaan tak berhati demi menjauhkan segala penderitaan, kita harus membuka hati pada kesedihan orang lain seolah-olah kesedihan kita sendiri.  Penderitaan yang dialami dalam kehidupan kita sendiri dapat membantu menghargai kadalaman ketidakbahagiaan orang lain. (Halaman 110)

Delapan langkah berikutnya dalam Kaidah Emas secara berturut-turut adalah; Perhatian penuh, tindakan, memahami betapa sedikitnya yang diketahui, mengetahui bagaimana seharusnya berbicara kepada sesama, kepedulian untuk semua, pengetahuan, pengakuan dan mencintai musuh.

Dalam mendedah setiap langkah, Karen berusaha menggunakan beragam disiplin keilmuan. Penelusuran atas jejak peradaban manusia yang panjang pun dilakukan, demi membuktikan bahwa sikap belas kasih pada dasarnya telah tumbuh di sepanjang peradaban manusia.

Embrio awal pemikiran yang terkandung dalam buku setebal 247 halaman ini terjadi ketika Karen memperoleh penghargaan dari TED (Technology, Entertainment, Design) pada Februari 2008 sebagai orang yang memiliki kontribusi besar terhadap perbedaan.

Penulis yang rencananya akan berkunjung ke Indonesia pada tanggal 13-15 Juni mendatang untuk menyebarkan virus belas kasih sebagaimana yang ditulisnya dalam buku ini, semakin intens dengan gerakan yang digagas dan dicetuskannya dalam Gerakan Compassion. Semangat yang tak kenal lelah untuk mengkampanyekan sikap welas asih ke seantero dunia.

Hal ini sebagaimana disadari oleh Karen, bahwa usaha untuk menjadi manusia berbelas kasih adalah proyek seumur hidup, yang tidak akan tercapai hanya dalam satu jam atau sehari. Setiap saat kita gagal, kita akan bangkit kembali dan memulainya lagi. (Halaman 208)
 

1 komentar: