Rabu, 10 Juli 2013

Cameragenic dan Auragenic dalam Peradaban Kamera

Koran Sindo, 23 Juni 2013

Judul Buku: Camera Branding: Cameragenic vs Auragenic
Penulis: Rhenald Kasali
Penerbit: Gramedia
Cetakan: I, Mei 2013
Tebal: 401 Halaman

Tahukah anda, rata-rata orang Indonesia berhubungan dengan kamera setidaknya dua kali sehari, dan membuka layar kaca beberapa kali setiap hari ? Dan sebanyak 245 juta ponsel yang telah dimiliki rakyat negeri ini, 50% diantaranya adalah smartphone ?

Angka-angka di atas menunjukkan betapa  keberadaan kamera menjadi begitu dekat melekat erat dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan disadari atau kita, masyarakat kita semakin terbiasa baik sekedar berpose hingga melakukan akting alias berpura-pura di depan kamera.

Hal demikian turut dipicu oleh kehadiran televisi yang menjadi jendela informasi sekaligus sarana hiburan yang digemari kebanyakan orang Indonesia. Hasil penelusuran Nielsen Audience Measurement menunjukkan bahwa pada tahun 2012 lalu 94 persen masyarakat Indonesia mengkonsumsi media melalui televisi.

Walhasil, televisi telah menjadi media yang sangat berpengaruh terhadap perilaku, gaya hidup dan pola pikir masyarakat secara massal. Apa yang tersaji di layar kaca, dapat disaksikan publik dengan jangkauan yang luas hingga ke ruang-ruang privat keluarga.

Tidaklah mengherankan jika kemudian tidak sedikit orang dan barang yang berebut tampil di depan lensa kamera. Mulai dari orang biasa, selebritis, hingga politisi. Sebagian sukses menjadi panutan dan idola, tidak sedikit pula yang menjadi pesakitan sasaran kritik  dan hujatan.

Fenomena inilah yang disebut dalam buku berjudul lengkap Camera Branding: Cameragenic vs Auragenic ini, sebagai peradaban kamera dan Social TV. Sebuah peradaban di depan lensa yang secepat kilat memantulkan citra, muncul, tayang, dan beredar di tangan pemirsa. Peradaban yang mampu melipat jarak dan status sosial.

Di depan kamera, baik saku, kamera ponsel, terlebih kamera televisi, kita menata kemasan, display, toko, rumah, produk dan wajah kita. Tidak ada yang asli semua hanyalah akting, kecuali hidden atau candid camera. Seperti halnya artis yang memakai bulu mata palsu atau politisi yang beradu argumen dan berebut bicara. Semua menciptakan dan menjual brand.

Harus diakui sejarah pembentukan brand tidak pernah luput dari televisi. Bila seseorang belum tampil dan menjadi perhatian publik di televisi, maka ia belum menjadi “brand”. Berbeda dengan branding biasa, camera branding dibentuk oleh prinsip-prinsip kamera, khususnya Social TV yang menimbulkan keterlibatan, dialog, umpan balik seketika (real time), komunitas, dan story telling.

Singkatnya, camera branding adalah sebuah teknik dan peradaban untuk mengangkat keluar sebuah nama dari kerumunan menjadi a branded name, yaitu sebuah kekuatan intangible yang tak kelihatan namun memiliki daya pengaruh yang lebih kuat dari nama biasa.

Dalam peradaban kamera, branding yang semula pasif bergeser menjadi active branding. Dalam peradaban ini, siapa atau apa saja belum menjadi brand, bila belum memiliki kekuatan cameragenic dan auragenic sekaligus, seberapa pun bagus atau berkinerjanya hal itu.

Cameragenic hanya menekankan pada aspek attractiveness subjek di hadapan kamera, karena hal itu akan menentukan apakah mata dan pikiran pemirsa ingin terus melihat atau cepat merasa bosan. Dengan kata lain, cameragenic merupakan kesan yang ditangkap dari tampilan fisik.

Sedangkan auragenic adalah apa yang dirasakan pemirsa tentang sesuatu yang dilihat di layar kaca. Auragenic tidak bisa didapat dari objek yang diam. Karena televisi mendeteksi gerakan, suara, pendapat, dan respons seseorang, maka ia menciptakan interaksi yang di dalamnya dibentuk rasa, apakah orang lain merasa nyaman atau tidak dengan kehadiran anda atau produk anda.

Hal ini dikarenakan aura bersumber dari sikap dan respons yang diberikan seseorang. Bila seseorang berpandangan dan berperilaku negatif, maka ia dapat menimbulkan aura negatif. Demikian pula sebaliknya. Namun orang-orang yang memiliki auragenic biasanya mampu menekan sifat-sifat negatif pada dirinya.

Cameragenic dapat dipelajari, tetapi auragenic hanya bisa dibangun dengan self awareness yang kuat. Terdapat sepuluh elemen yang harus diperhatikan ketika hendak membangun camera branding dan auragenic:  authentic, unik, intangibles, fokus, gallery mindset, connected, meaningfull, consistently delivered, flavor, sustainable.

Buku yang ditulis oleh Rhenald Kasali, praktisi manajemen kenamaan dan penulis serangkaian buku perubahan dan manajemen yang menjadi bestseller di Tanah Air, seperti: Recode Your Change DNA, dan Myelin ini, bertujuan untuk mengingatkan semua pemimpin, baik tokoh publik maupun pemimpin pasar, untuk meninjau ulang pandangan-pandangannya tentang branding.

Meninjau kembali perilaku-perilaku mereka di depan kamera yang hanya mengedepankan penampilan (appearance) yang bersifat menarik (attractive) cenderung pencitraan dan hanya bermodalkan fisik menjadi interaksi yang membentuk aura. 

Dengan demikian, keberadaan buku setebal 401 halaman ini sebagaimana dikatakan oleh Anies Baswedan, mengajak kita membaca perubahan yang terjadi dalam industri pertelevisian, khususnya TVRI, sebagai pelajaran untuk berani menciptakan perubahan dan tangguh mengelolanya. Juga menjadi penonton yang bijaksana. Selamat datang dalam peradaban sadar kamera.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar