Minggu, 27 Maret 2011

Daya Gugat Sebuah Sajak

Judul Buku: Kepada Presiden yang Ter…..
Penulis: Bambang Oeban
Penerbit: Ufuk Press
Cetakan: I, Februari 2011
Tebal: 180 Halaman

Siapa bilang karya sastra hanya jerit manja para pujangga yang jauh dari realita? Karya sastra memang kerap dituduh demikian. Bukan hanya karena gaya hidup para penulisnya yang cenderung ekslusif, kebanyakan tema yang dihasilkannya pun berkutat pada wilayah abstrak. Sedikit yang bersinggungan dengan hajat orang banyak.

Satu di antara yang sedikit itulah nama Bambang Oeban mencuat. Dia berani menyuarakan sajak yang menghentak, bukan hanya menyuarakan jerit hati kebanyakan masyarakat, namun juga memerahkan telinga penguasa. Dengan kata lain, Bambang bukan hanya mempertegas sosok sastrawan sebagai penghasil keindahan kata an sich, namun juga sarat akan suara kegetiran atas realita yang ada.

Buku berjudul lengkap Kepada Presiden yang Ter… ini –yang notabene merupakan kumpulan sajak-sajaknya- tidak melulu mempertontonkan keindahan berbahasa atau mementaskan kemampuan bersastra-ria penulisnya, tetapi di dalamnya juga berisi kritikan keras terhadap sosok pemimpin negeri ini, Presiden. Sebuah pembuktian tegas akan kepedulian sosok penulisnya atas kondisi riil bangsa, sekaligus membuktikan kecintaanya pada rakyat dan negara.


Sajak-sajaknya menebar aura semesta jiwa. Kejujuran yang mumpuni. Kuat mencengkeram batin pembaca. Ada semacam kerinduan panjang akan lahirnya sebuah kebudayaan yang utuh tanpa cacat. Bergulir mengalir seperti anak sungai yang mengalir jernih, menembus samudera penuh cahaya. Namun di sisi lain, Oeban sangat mahir mengeksplorasi kegetiran yang menimpa bangsanya. Perhatikan petikan berikut ini yang diambil dari salah satu sajaknya berjudul Bagaimana Indonesia?:

Apa jadinya kita,/bila negeri ini belum merdeka? / kekayaan alam yang berlimpah ruah,/ dirampok, diungsikan ke luar negeri./ keringat rakyat dijadikan kuli tanpa gaji./ beribu tubuh membelulang oleh kemiskinan./ para centeng petentang petenteng,/ menghisap darah saudara satu warna/ sambil tersenyum, berlindung/ di pantat penjajah, tak peduli kualat/ yang penting hidup sehat. (halaman 27-28)   

Perhatikan baik-baik potongan sajaknya di atas, di dalamnya kita temukan nasionalisme seorang penyair sekaligus kegeramannya terhadap para penguasa. Di dalam karyanya tersebut, juga bisa kita temukan betapa seorang Bambang Oeban begitu dekat dengan persoalan hidup rakyat kebanyakan yang menjadi kuli baik di negeri sendiri, terlebih negeri orang lain.

Selain itu, aura religiusitas tak luput menguar dalam karya-karyanya. Seolah merepresentasikan kedalaman spiritual dari sosok si penulis. Aroma ini akan tercium kuat menyeruak dalam salah satu sajaknya berjudul Shalawat Indonesia, lagi-lagi spiritualitas seorang Bambang Oeban pun berada dalam garis nasionalisme-nya yang melangit. Berikut saya petikan potongan sajak tersebut:

Allah memberi kemerdekaan pada negeri ini/ bukan untuk dijadikan lading kesombongan/ Pancasila bukan hanya perhiasan/ namun meruang dalam jiwa yang membening/ para pahlawan bukan dijadikan barang dagangan/ Negeri merdeka masih terjajah kemiskinan?/ oh, mengapa keserakahan tak juga hilang?/ bagaimana kehidupan menjadi nyaman?       

Namun keliru jika memahami sajak-sajaknya yang bersinggungan dengan kondisi sosial, politik, ekonomi maupun budaya hanya diartikan sebagai bentuk perlawanan pada kekuasaan yang resmi, melainkan sebagai mitra kerja dalam membangun kesadaran bersama, lebih mirip parlemen jalanan barangkali ketika parlemen yang sebenarnya tidak menyuarakan nurani. 

Karena sebagaimana dikatakan Jaya Suprana dalam pengantarnya bahwa sajak-sajak di dalam buku ini merupakan jamu mujarab untuk menyembuhkan penyakit amnesia penyebab lupa daratan maupun lautan terhadap sumpah mereka (di masa pemilu) akan berbakti kepada kepentingan rakyat.

Jika fase awal puisi-puisi Indonesia modern, para seniman angkatan dua puluh dan pujangga baru menilik kemerdekaan sebagai sesuatu yang dirindukan dan menghadirkan bentuk soneta-soneta dalam mengungkapkan puisi secara bermakna, kini bentuk puisi tidak lagi terikat pada bentuk soneta. Setiap penyair memiliki cara pandang tersendiri dalam bermain kata-kata sehingga menghasilkan karya yang sangat padat makna.

Demikian pula dengan karya-karya Peraih penghargaan Anugerah Kebudayaan dari departemen Pariwisata dan kebudayaan tahun 2006 ini, meskipun tidak ia terapkan semua dalam puisi-puisinya. Sajak-sajak di dalam buku ini umumnya bersifat pemberontakan batin penulisnya. Sehingga daya gugat dalam sajak-sajaknya akan terasa begitu mengena di hati pembaca. Selamat membaca!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar