Sabtu, 29 Oktober 2011

Cara Tepat Hidup Miskin


Judul Buku: Saga no Gabai Bachan
Penulis: Yoshichi Shimada
Penerbit: Kansha Books
Cetakan: Pertama, 2011
Tebal: 245 Halaman

Bom atom yang dijatuhkan Amerika Serikat di atas langit Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945, diperkirakan menewaskan 140 ribu jiwa warga Hiroshima secara langsung dan efek radiasinya menyebabkan ratusan ribu yang selamat dari pemboman harus hidup dengan radiasi di sekujur tubuh. 

Selain itu, hancurnya infrastruktur di Hiroshima dan Nagasaki menyebabkan ekonomi negeri matahari terbit mengalami keruntuhan sehingga bagi yang selamat, selain terkena radiasi, kemiskinan merupakan sebuah kenyataan mengerikan yang membentang di hadapan mereka. Dua hal tersebut dialami oleh keluarga Yoshichi Shimada, penulis buku berjudul Saga no Gabai Bachan ini secara nyata

Dilahirkan di Hiroshima dengan nama asli Akihiro Tokunaga lima tahun setelah peristiwa tersebut, Shimada sejak balita sudah ditinggal mati ayahnya yang terkena radiasi. Nasib baik tidak kunjung menghampiri sering dengan perkembangan usianya. Shimada beserta kakak dan ibunya, tinggal di sebuah kawasan kumuh Hiroshima yang berdekatan dengan titik jatuh bom atom. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, sang Ibu membuka usaha tempat minum (bar) sebelum akhirnya tutup dan menjadi pelayan.

Cemas akan dampak buruk lingkungan sosial kota besar namun kumuh dan disesaki bar yang pekat dengan aroma minuman keras, sang ibu “menitipkan” Shimada – yang ketika itu masih bernama Tokunaga- kepada Osano, neneknya di Saga, sebuah kota kecil dan terpencil yang masuk wilayah Kyushu, tepat ketika Shimada menginjak kelas dua sekolah dasar (SD). 

Bersama sang nenek, pola hidup miskin Shimada ketika di Hiroshima sedikit berubah; menjadi lebih miskin lagi ! Betapa tidak, rumah nenek Osano digambarkan sebagai rumah yang paling menyedihkan; bobrok, beratap jerami dan bagian yang jeraminya terlepas tampak ditempeli lempengan timah. Luar biasanya lagi, dari kejauhan rumah tersebut tampak menyatu dengan rumpun pampas.  

Tidak hanya itu, hanya dengan mengandalkan uang gaji sebagai petugas kebersihan di Universitas Saga dan kiriman anak –Ibu Shimada- yang tidak seberapa, tentu saja nenek Osano tidak mungkin mampu membelikan Shimada mainan, layaknya anak-anak yang sebaya dengannya.

Minimnya pangan yang nota bene persoalan laten orang miskin dimana-mana, juga membelit kehidupan nenek dan cucu ini. Rumah biarpun bobrok, tetap mampu melindungi dari guyuran hujan atau sengatan mentari. Pakaian pun bisa yang paling sederhana, dan tidak perlu sering ganti apalagi tiap hari. Tetapi makanan berbeda, setiap hari kita perlukan. Maka, jadilah ikhtiar sehari-hari Shimada dan nenek Osano adalah mencari makanan. 

Miskin Tapi Bahagia

Kehidupan serba miskin dan kekurangan Shimada bersama nenek Osano inilah yang menjadi inti dalam buku setebal dua ratus empat puluh lima halaman ini. Sebuah pengalaman yang begitu berharga dan sarat akan nilai. Sebagaimana tertera pada judulnya, sosok Osano menjadi penting dan penuh inspiratif dan berperan besar dalam kehidupan Shimada kelak. Ide-idenya yang brilian dijamin akan membuat pembaca terkaget-kaget, sekaligus akan mengundang senyum dan decak kagum. 

Simak bagaimana kiat nenek Osano mendapatkan makanan sehari-hari dari “supermarket” dengan “pelayanan ekstra”, dan gratis pula, meskipun nasi dan acar timun menu wajib santap sehari-harinya. Caranya, membentangkan galah sedemikian rupa, di atas permukaan sungai besar yang ada di dekat rumah yang berhulu dari pasar. Nah, sayur mayur yang hanyut dari pasar mestinya akan tersangkut pada batangan galah tersebut ketika hendak melintas. Sayuran inilah yang menjadi konsumsi nenek Osano dan Shimada sehari-hari. (halaman 45)

Kejeniusannya dalam mensiasati kekurangan ekonomi memang terbukti, salah satunya adalah kebiasaan nenek Osano yang dengan cerdik mengikat pinggangnya dengan seutas tali dan menyeret magnet di jalanan yang dilaluinya tiap kali keluar rumah, hingga menimbulkan suara cukup nyaring. Fungsinya, apalagi kalau bukan untuk menarik logam. Limbah logam tersebut kemudian dikumpulkan dan dijual dengan harga lumayan tinggi. 

Memang, meski hidup dalam kungkungan kemiskinan, nenek Osano jauh dari gambaran seorang yang murung dan menderita, sebaliknya ia merupakan sosok yang tegar dan ceria. Salah satu prinsip hidupnya yang sederhana namun efektif adalah; “ada dua jalan buat orang miskin. Miskin muram dan miskin ceria. Kita ini miskin ceria. Selain itu karena bukan baru-baru ini saja kita menjadi miskin, kita tidak perlu cemas. Tetaplah percaya diri. Keluarga kita memang miskin turun temurun.” 

Membaca buku yang sukses besar di negara asalnya ini membuat kita sadar, betapa kebahagiaan pada dasarnya tidak tergantung pada sebarapa banyak uang yang kita miliki, seberapa mewah rumah yang dihuni, atau jenis mobil digarasi. Karena, sebagaimana dibuktikan oleh nenek Osano, kebahagiaan ternyata terletak di hati dan pada prinsipnya hanyalah tentang bagaimana mindset kita dalam memandang dan menyikapi hidup.  

Meski demikian, kemiskinan merupakan sebuah realitas yang harus dihadapi dan diatasi, sebagaimana nenek Osano dengan ide-ide cemerlangnya selalu menghadapi hari-hari dengan penuh tawa, tanpa ada jaminan bahwa segala upaya tersebut akan membawa perubahan signifikan bagi kehidupannya, namun apakah untuk bahagia kita harus menunggu sukses terlebih dahulu ? tentu saja tidak.

2 komentar:

  1. buku yang tipis tapi bermakna besar ya, menginggatkanku akan film korea atau jepang yang tokoh utamanya seorang kakek yg hidup bersama cucunya :)

    BalasHapus
  2. wah, film apakah gerangan ? sepertinya menarik...

    BalasHapus