Rabu, 25 Mei 2011

Novelisasi Sejarah Kelam Jepang

Judul Buku: The Heike Story: Kisah Epik Jepang Abad ke-12
Penulis: Eiji Yoshikawa
Penerjemah: Antie Nugrahani
Penerbit: Zahir Book, RedLine Publishing
Cetakan: Pertama, Juni 2010
Tebal: 750 Halaman

Lakon diawali dengan “rutinitas” pertengkaran yang biasa terjadi pada keluarga Samurai bernama Tadamori  dengan istrinya yang super bawel, Yasuko.  Saking bawelnya, sang istri dijuluki “kertas minyak terbakar” oleh suaminya, gambaran betapa mudahnya ia tersulut api amarah. Kemiskinan keluarga dijadikan kambing hitam oleh Yasuko atas sikap buruknya.

Rumah mereka di Imadegawa, wilayah pinggiran ibu kota, digambarkan sebagai reruntuhan yang mengenaskan, atapnya yang bocor tidak pernah diperbaiki, sedang sang suami, sering bersikap cuek dan malas-malasan, begitu ia berkilah. Maklum, Yasuko berasal dari klan bangsawan Fujiwara yang dikenal golongan high-class masa itu, sedangan Tadamori hanyalah samurai dari klan Heike yang miskin. Fakta inilah yang biasa diungkit-ungkit sang isteri ketika ia bak orang kesurupan, memuntahkan semua unek-unek dan umpatannya kepada suami dan anak-anaknya.

Meski jauh dari gambaran keluarga yang harmonis, bayi demi bayi tetap lahir dari rahim ibu rumah tangga keluarga ini. Setelah si Sulung Heita Kiyomori, lahirlah adiknya Tsunemori yang kemudian disusul oleh anak ketiga bahkan keempat. Sebagai anak tertua yang telah dewasa, Kiyomori memahami betul isi “jeroan” keluarganya. Terlebih ia yang paling kerap menjadi pelampiasan kemarahan dan kekecewaan ibunya.


Siapa nyana, pemuda miskin yang broken home dan sering hidup dalam kondisi perut kosong ini, kelak menjadi sosok pemimpin yang sangat berpengaruh bukan saja pada klan-nya, namun cengkeraman kekuasannya menggamit seantero kekaisaran Jepang. Ia bukan hanya memiliki ratusan ribu prajurit Samurai, namun juga diberkahi dengan kemampuan berpolitik yang mumpuni.

Fiksi Histori

Cerita karya Eiji Yoshikawa ini memiliki kompleksitas yang multi dengan tingkat akurasi historisitas yang diusahakan sepresisi mungkin. Obyektifitas si penulis juga dapat terendus dengan mendeskripsikan tokoh yang seharusnya protagonis menjadi lebih manusiawi lengkap dengan segala kekurangannya, berbeda dengan penulis lain yang cenderung memposisikan tokoh utama layaknya dewa.

Akan saya petikan kata-kata Kiyomori, guna mendukung asumsi tadi, ketika ia mengampuni tiga nyawa anak-anak musuh besarnya Yoshitomo, pemimpin klan Genji: “Aku tidak berpura-pura menjadi manusia budiman. Manusiawi jika aku merasa iba kepada seorang bocah seperti Yoritomo. Menghukum mati dirinya saat ini juga bukan langkah yang bijaksana, dan aku tidak ingin masyarakat membenciku” (halaman. 467).

Di bagian lain, ia tergoda oleh kecantikan Tokiwa, gundik Yoshitomo sekaligus ibu kandung ketiga anak tersebut, dan tanpa sungkan memperkosanya. Meski akhirnya menyadari kekhilafannya dan segera insyaf. Karakter pemarah, gila perempuan dan ambisius sosok Kiyomori akan kita temukan seiring dengan sifat penyayang, menghormati orang tua, dan perhatian terhadap rakyat jelata yang seolah-olah sedang bertempur memperebutkan identitas dalam diri Kiyomori.         

Selain itu, rasionalitas moral yang dijadikan standar hidupnya cenderung berbeda dengan kultur yang dianut sebagian masyarakat berbudaya Timur. Keberaniannya memukul Yasuko yang nota bene ibu kandungnya sangat kontras dengan ketaatan dan penghormatannya terhadap Ariko, ibu tirinya yang ia ta’dzimi. Mengingat sikap keduanya yang diametral.

Sebagaimana novel terdahulunya Musashi, novel ini pun tergolong cukup tebal dan semakin mengerek namanya sebagai novelis dunia dengan spesialisasi fiksi histori Jepang. Namun sebagai sebuah kisah yang lahir dari perkawinan antara fakta sejarah dan imajinasi penulisnya, ketebalan tersebut tidak membuat jenuh. Bahkan di ending cerita seperti ada ganjalan yang ada di benak kita berupa pertanyaan, bagaimana kelanjutan kisah tokoh-tokoh di dalamnya.

Sebagai sebuah fakta sejarah, peristiwa tersebut dapat kita ketahui melalui manuskrip-manuskrip resmi yang ada, namun bagaimana imajinasi Eiji yang penuh warna sangat menarik untuk dinikmati. Mengingat karya fiksi sebagai hasil dari proses imajinasi, bukan catatan sejarah yang harus menitikberatkan pada data-data faktual. Sehingga ia memiliki dunianya sendiri, yang bisa saja dibengkokkan dari mainstream sejarah.

Paradoks

Sekilas buku ini nyaris sempurna sebagai sebuah epik, namun di dalamnya terdapat beberapa keganjilan. Kondisi ekonomi keluarga Tadamori yang digambarkan morat-marit dan kerap meminjam uang kepada adiknya demi sesuap nasi, sangat paradoks dengan statusnya sebagai pemimpin klan. Bahkan di rumahnya pun ia memiliki beberapa anak buah yang butuh penghidupan. Lalu bagaimana ia mampu membiayai kebutuhan mereka sedangkan untuk mencukupi anak isteri sendiri ia kesulitan? Untungnya pembaca akan kadung terlena dengan kisah para tokohnya sehingga abai akan hal itu.  

Menjelajahi halaman demi halaman buku ini, akan membuat kita merenung dan mencoba membandingkan antara masa lalu dan masa kini Jepang dan Indonesia. Ada keterkaitan yang erat antara Jepang modern dengan Jepang masa silam terutama abad ke-12. Jepang hari ini masih kental memperlihatkan pengaruh dari ajaran Bushido, atau kode etik samurai. Namun mereka sukses mentransfer nilai-nilai tersebut ke dalam sikap kerja yang lebih riil, sehingga tidak gamang mengarungi modernitas dan sukses menjadi negara maju.

Sebaliknya, meski memiliki kebudayaan dan akar sejarah yang lebih panjang, di Indonesia semuanya hanya berujung pada mitos-mitos yang jauh dari realitas. Bagaimana kebesaran Majapahit, Sriwijaya, Padjajaran maupun sosok Ratu Adil, sekedar berfungsi meninabobokan masyarakatnya untuk terus menunggu Godot, tanpa memahami filosofinya dalam konteks kekinian. Bahkan kondisi geografis dan demografis yang jauh lebih unggul daripada Jepang pun seolah menjadi mubazir. Sebuah kegagalan yang melahirkan keterbelakangan berkepanjangan.    

Peresensi:
Noval Maliki, penikmat novel Jepang dan penggiat Demi Buku Institut, Tinggal di Yogyakarta

2 komentar:

  1. Saya juga sangat suka novel2 jepang..sudah membaca "Taiko" dan "Musashi" juga...

    Tapi komentar anda "Sebaliknya, meski memiliki kebudayaan dan akar sejarah yang lebih panjang, di Indonesia semuanya hanya berujung pada mitos-mitos yang jauh dari realitas. Bagaimana kebesaran Majapahit, Sriwijaya, Padjajaran maupun sosok Ratu Adil, sekedar berfungsi meninabobokan masyarakatnya untuk terus menunggu Godot, tanpa memahami filosofinya dalam konteks kekinian. Bahkan kondisi geografis dan demografis yang jauh lebih unggul daripada Jepang pun seolah menjadi mubazir. Sebuah kegagalan yang melahirkan keterbelakangan berkepanjangan." menggelitik juga. Saya hanya jadi bertanya-tanya, apa yang dikerjakan orang Indonesia yang sangat gemar sejarah dan membaca seperti anda. Apa yang bisa anda lakukan untuk cerita sejarah Indonesia selain hanya mengkritik.

    Salam,
    -Vero

    BalasHapus
  2. Salam hangat juga, kapasitas dan kemampuan setiap orang berbeda-beda, karena saya peresensi buku, kemampuan saya baru sebatas meresensi serta menyelipkan gagasan-gagasan yang menyelinap di benak saya. Adapun soal langkah konkrit, minimal saya tidak melakukan apa yang saya kritik dong, karena itu akan menjadi omong kosong. konkritnya lagi, yuk kita lestarikan budaya dan tradisi Indonesia. :-)

    BalasHapus