Sabtu, 21 Mei 2011

Penemuan Surga yang Hilang

Judul        : Atlantis 
Penulis     : Prof. Arysio Santos
Penerbit   : Ufuk, Jakarta
Cetakan   : Mei, 2010
Tebal        : 677 halaman 

Surga telah ditemukan! Surga apa? Di mana? Surga yang dimaksud adalah Surga Atlantis. Letaknya di negera kita, Indonesia. Tepatnya, di Selat Sunda. Seorang geolog dan fisikawan nuklir asal Brazil, Prof. Arysio Santos, menyatakan dengan yakin dan tegas bahwa ia telah menemukan Surga yang Hilang itu di Indonesia. Dan ia sedikitpun tidak ragu dengan penemuannya ini.

Disebutkan, pada 75.000 tahun yang silam pernah terjadi ledakan Gunung Toba yang sangat dahsyat. Ledakan gunung berapi yang satu ini telah mengawali sebuah Zaman Es yang terakhir. Kemudian, 11.600 tahun silam, Gunung Krakatau juga meletus dengan kedahsyatan tak terkira. Letusan yang mahadahsyat ini bahkan menghancurkan segalanya; bukan hanya umat manusia yang ditaksir mencapai 20 jutaan, bahkan semua makhluk yang ada di surga ini pun musnah. Barangkali hanya sedikit saja yang tersisa. Inilah akhir dari kisah tentang Zaman Es terakhir.

Sungguh, bencana Krakatau adalah bencana semesta. Suku Indian Washo menggambarkan: Sebuah gempa bumi mahadahsyat yang menyebabkan gunung-gunung membara. Lidah-lidah api menjulur ke angkasa. Bintang-gemintang berjatuhan bagai batu meleleh. Banjir mendera, dan manusia-manusia mencoba menyelamatkan diri dengan membangun menara yang tinggi.

Surga bumi yang indah pun hilang. Plato menggambarkan bahwa Surga Alantis yang berada di kawasan tropis itu: berlimpah sumber daya alam seperti timah, tembaga, seng, emas, perak, beraneka buah-buahan, padi, rempah-rempah, gajah raksasa, hutan dengan beragam jenis pohon, sungai, danau, dan saluran irigasi. Sayang, semua itu lenyap.

Selama ribuan tahun, Surga Atlantis pun telah menjadi teka-teki tak terjawab hingga datang seorang ilmuan bernama Arysio Santos. Banyak ilmuan yang menebak-nebak letak surga indah ini. Moreau de Jonnes menyatakan ia ada di selat Bosphorus, R. Hennig di Spanyol, Borchardt di Libia, Leo Frobenius di Benin, Afrika, sedang Olaus Rudbeck di Laut Utara. Semua pendapat ini menurut Santos adalah konyol belaka. Lalu di mana tepatnya? Indonesia. Kini, surga indah itu ada di bawah lautan, tepatnya di bawah Selat Sunda.

Penemuan Prof. Santos ini menggemparkan bagi ilmuan Barat maupun Timur. Sejak lama surga ini dicari-cari, dan tidak ada yang bisa menemukannya. Sebagian karena tidak ada yang benar-benar dapat menemukannya lantaran keterbatasan data. Sebagian lagi disebabkan adanya hasrat tersembunyi untuk sengaja menutup-nutupi.

Dugaan sesat selama ini adalah: bahwa Atlantis itu terletak di Samudera Atlantik yang kita kenal hingga sekarang, yakni di antara Eropa dan Afrika di satu sisi dan Amerika di sisi lain. Teori ini sama sekali tidak didukung dengan data-data ilmiah yang akurat. Dalam pandangan Santos, Atlantik seperti digambarkan filsuf agung Yunani, Plato, tidak mungkin ada di Samudera Atlantik sekarang.

Adakah Plato berbohong kepada kita? Tidak, jawab Santos. Bahkan semua yang digambarkan oleh filsuf ini semuanya sesuai dengan data-data yang ia temukan. Alhasil, Plato akurat dan benar dalam hal ini. Tentu saja, Santos tidak berhenti pada pendapat Plato saja. Ia juga melakukan beragam analisis dengan data-data dari beragam disiplin ilmu: bahasa, simbol, kitab-kitab suci, sejarah, dan tentu saja menggunakan amatan dengan alat-alat canggih lainnya.

Temuan ini mengejutkan sekaligus mengagumkan. Hemat Santos, Indonesia adalah asal-usul peradaban dunia sekarang ini. Indonesia asal mula agama Hindu dengan bahasa Sansekerta dan Dravida. Karena bencana api raksasa dari Gunung Krakatau inilah, moyang kita melakukan eksodus ke mana-mana: India, Cina, Mesir, bahkan hingga ke Amerika.

Sungguh, dalam hemat Santos, moyang semua bangsa ini pada hakikatnya telah membangun peradaban tinggi pada masanya. Adalah salah besar pendapat yang menyatakan bahwa moyang kita itu bodoh dan primitif. Buktinya, mereka sudah mengembangkan budaya bercocok tanam, bahasa, agama, metalurgi, astronomi, seni, dll., yang hingga kini masih bertahan.

Peradaban amat besar ini pun pada akhirnya berhasil bertahan dan dikembangkan di daerah-daerah di mana mereka, moyang semua bangsa, bertempat setelah Atlantis alias Indonesia ini tidak memungkin akibat bencana maha besar tersebut. Agama Hindu di India tetap bertahan hingga sekarang. Juga kesenian dan aneka ilmunya. Demikian juga di wilayah-wilayah lain: Cina, Mesir, Afrika, Australia, bahkan Amerika.

Dengan penemuan Arysio Santos ini, bangsa Indonesia patut berbangga hati: ternyata moyang kita adalah asal-usul semua bangsa di dunia, dan Indonesia menjadi tempat awal mula bersemainya peradaban dunia. Kita sekarang bisa angkat kepala berhadapan dengan orang-orang Barat yang angkuh dan mendaku diri makhluk paling super di dunia. Harga diri kita sekarang jauh lebih tinggi dari bangsa dan Negara mana pun, tanpa harus menjadi angkuh dan sombong.

Hanya saja yang patut digarisbawahi adalah: pemerintah kita dan semua ilmuan Indonesia yang terkait dengan penemuan ini harus mengambil langkah-langkah tepat dan cepat agar kita tidak menjadi penonton di kandang sendiri. Jangan sampai harta karun sangat berharga ini lepas dari tangan kita. Jangan sampai ada bangsa dan Negara lain mendaku diri pemilik sah atas budaya dan peradaban kita.

Kementrian Pendidikan Nasional pun seyogianya menjadikan Atlantologi sebagai mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah menengah dan perguruan tinggi. Terlambat dalam agenda sangat penting ini akan mengorbankan masa depan depan Indonesia sendiri. Sudah sepatutnya, Indonesia menjadi pemrakarsa paling aktif dalam melakukan riset-riset ilmiah demi meneruskan apa yang sudah dihasilkan oleh Arysio Santos.

Segenap warga Indonesia pun sepatutnya mengkaji, minimal tahu, tentang Surga yang Hilang dan yang kini telah ditemukan. Tak ada bangsa yang besar tanpa mengenal jati dirinya. Dan tak mungkin mengenal jati diri kalau tidak tahu asal usul kita sendiri. Alhasil, sejak sekarang kita harus sepatutnya bangga menjadi manusia Indonesia.

6 komentar:

  1. wah..sudah sering lihat buku ini di toko buku,
    bagaimana dengan terjemahannya mas? apakah "waras"? hehehe
    trimakasih

    Helvry
    http://blogbukuhelvry.blogspot.com

    BalasHapus
  2. Kalau memang penelitian Arysio Santos ini benar, kita patut berbangga ya. Tapi saya sendiri tidak begitu yakin dengan hal ini. Keapatisan saya akan temuan Santos didasarkan pada kondisi kita saat ini. Kalau memang kita adalah keturunan Atlantis, mengapa tidak sedikitpun nampak keunggulan pada kita? China, Jepang, Eropa masih memiliki warisan keunggulan dari peradaban pendahulu mereka. Apakah karena semua orang Atlantis, termasuk bayi, mati saat terjadi bencana? Sehingga kita sekarang ini hanya mewarisi tempat dan bukan keunggulan?

    Saya menemukan blog anda ini dari blog pak Tanzil. Saya sekarang ini sedang berusaha menulis review saya sendiri di http://hurufbuku.blogspot.com. Saya berharap bisa tergabung dalam lingkaran blogger pembaca buku dan penulis review buku. Karena itu saya sudah me-LINK blog anda di sidebar blog saya. Dan saya juga telah mem-FOLLOW blog anda ini. Saya harap anda berkenan me-LINK dan mem-FOLLOW balik blog saya. Terima kasih

    BalasHapus
  3. @helvry: buku ini selain bagus isinya, kualitas terjemahannya juga menurut saya bagus.....sehingga tidak merusak selera baca kita.....makasih....

    BalasHapus
  4. @review Buku: kalau kita tidak percaya Santos yang ilmuwan, kepada siapa lagi kita harus percaya....ke paranormal ? bahkan hampir semunya mengatakan bahwa Indonesia, atau tepatnya Nusantara akan menemukan kebangkitannya tidak lama lagi..nah, ini mungkin menjawab pertanyaan mengenai keturunan Atlantis itu, Eropa, China dan Jepang itu hebatnya mulai kapan sih ? kan belum lama, dan bukankah setiap Zaman ada siklusnya ? Atlantis, sebagai nenek moyang kita pernah mengalami masa kejayaannya, lalu kemudian mengalami kemunduran dan keruntuhannya, hingga sekarang, ya beberapa generasi sebelum kita ini. terima kasih.....

    BalasHapus
  5. Klo Memang Kenyataannya, Atlantis itu sebenarnya berada di dindonesia, ada baiknya pemerintah yg mengambil alih kesempatan ini, karna ini PR buat pemerintah.. ?
    terima kasih..

    BalasHapus
  6. sebaiknya demikian, tapi di Indonesia kita tahu problemnya mungkin dana untuk riset, selain soal kemauan dari pemerintah itu sendiri. Terima kasih :-)

    BalasHapus