Kamis, 31 Januari 2013

Jejak Politik Ulama Nusantara

Harian Bhirawa, 1 Februari 2013
 
Judul Buku: Ulama dan Kekuasaan
Penulis: Jajat Burhanudin
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, 2012
Tebal: 481 Halaman

Ulama memiliki peran sentral dalam komunitas Islam, terutama Islam Indonesia. Pada masa lalu, merekalah yang menjadi tempat bertanya sekaligus berkeluh kesah umat. Sehingga ulama memiliki peran istimewa, mereka adalah guru agama, dukun, motivator, psikolog serta aneka atribut lain yang dilekatkan.

Kiprah ulama di Indonesia dapat dilacak hingga pada awal Islamisasi, yang berlangsung bersamaan dengan berkembangnya ekonomi dan pembentukan kerajaan-kerajaan Islam. Merekalah  yang mengenalkan dan menyebarkan Islam secara massif hingga kemudian menjadi agama mayoritas yang dianut seperti saat ini.

Sabtu, 26 Januari 2013

Kronik Revolusi Bolshevik

Jurnal Nasional, 27 Januari 2013

Judul Buku: Stalin Muda
Penulis: Simon Sebag Montefiore
Penerbit: Alvabet
Cetakan: I, 2012
Tebal: 587 Halaman

Abad 20 merupakan abad para pembunuh. Jutaan nyawa manusia melayang, dan darah manusia membanjir menggenang. Di daratan Eropa, tiga nama yang menjadi ikon kekejaman pada masa itu; Lenin, Stalin dan Hitler. Nama-nama tersebut selamanya akan dikaitkan dengan arah tragis sejarah Eropa pada paruh pertama abad 20. 

Ketiganya merupakan diktator Soviet dan Nazi, produk perubahan struktural yang dipicu oleh Perang Dunia I. Sebelum 1914, mereka hanyalah orang biasa yang sama sekali tidak berpeluang memasuki kancah politik. Namun, begitu “monster perang” dikobarkan, krisis sosial politik yang menerpa Eropa membuka peluang bagi para radikal dan utopis ini.

Sabtu, 12 Januari 2013

Psikologi Penyebar Teror

Lampung Post, 13 Januari 2013

Judul Buku: Terorisme di Indonesia; dalam Tinjauan Psikologi
Penulis: Sarlito Wirawan Sarwono
Penerbit: Alvabet
Cetakan: I, Juli 2012
Tebal: 168 Halaman

Asumsi sebagian kalangan bahwa pelaku terorisme adalah orang-orang penyandang sakit jiwa, penderita gangguan kepribadian, pribadi yang sadis, atau sebagaimana pendapat literatur Barat yang menganggap akibat libido seksual yang tidak tersalurkan, nampaknya keliru.

Hasil penelitian terhadap pelaku Bom Bali I, dan sejumlah mantan pelaku teror lain di Tanah Air mengungkapkan bahwa para pelaku teror tersebut merupakan orang-orang biasa, bahkan beberapa diantaranya tergolong cerdas, hanya saja memiliki ideologi yang menganggap dirinya paling benar dan ideologi lain salah serta merusak sehingga dengan demikian harus diperangi.

Kamis, 10 Januari 2013

Tiga Pionir Nasionalisme Indonesia

Pikiran Rakyat, 10 Januari 2013

Judul Buku: Keselarasan & Kejanggalan
Penulis: Savitri Scherer
Penerbit: Komunitas Bambu
Cetakan: I, November 2012
Tebal: 259 Halaman

Akhir abad 19, menjadi babakan baru dalam sejarah pendidikan kaum pribumi seiring banyaknya para priyayi Jawa yang belajar di sekolahan Belanda. Mulai dari sekolah dasar, ELS, hingga sekolah kedokteran, STOVIA.  Sebuah sekolah yang bukan saja secara formal kelembagaan mengikuti model Barat, namun juga menyesap ide-ide dan pemikirannya.

Hasilnya, bak jamur di musim hujan, banyak bermunculan kaum muda pribumi yang bukan hanya berpendidikan dan melek pengetahuan Barat, namun juga memiliki kesadaran politik dan organisasi. Puncaknya, pada tahun 1908, kalangan priyayi muda ini membentuk Boedi Oetomo, yang dimaksudkan sebagai wadah bersatunya kaum priyayi, guru, dan dokter di tanah Jawa.

Minggu, 06 Januari 2013

Ziarah ke Masa Lalu Spanyol

Harian Detik, 5 Januari 2013
 
Judul Buku: The Greatness of al-Andalus
Penulis: David Levering Lewis
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, November 2012
Tebal: 665 Halaman

Ketika kekaisaran Romawi Timur dan Persia berdiri dengan gagah sebagai dua imperium penguasa dunia, bangsa Arab masih dianggap sebagai orang-orang terbelakang yang hanya berdiri di pinggiran ruang pandang negara adidaya, sekedar kawasan pencari laba bagi para saudagar kaya.

Pecahnya pertempuran antara kedua imperium tersebut pada tahun 591 M, membawa guncangan politik, komersial, dan agama secara tiba-tiba. Belenggu politik atas Arab, terlepas karena energi keduanya untuk berperang. Munculnya kartel bisnis kaum Quraisy, seperti dari keluarga Umayyah menandai era komersial. Sedangkan keberadaan Ka’bah serta kelahiran Muhammad yang mendakwahkan Islam menjadi perwujudan kemapanan agama bangsa Arab.