Kamis, 31 Januari 2013

Jejak Politik Ulama Nusantara

Harian Bhirawa, 1 Februari 2013
 
Judul Buku: Ulama dan Kekuasaan
Penulis: Jajat Burhanudin
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, 2012
Tebal: 481 Halaman

Ulama memiliki peran sentral dalam komunitas Islam, terutama Islam Indonesia. Pada masa lalu, merekalah yang menjadi tempat bertanya sekaligus berkeluh kesah umat. Sehingga ulama memiliki peran istimewa, mereka adalah guru agama, dukun, motivator, psikolog serta aneka atribut lain yang dilekatkan.

Kiprah ulama di Indonesia dapat dilacak hingga pada awal Islamisasi, yang berlangsung bersamaan dengan berkembangnya ekonomi dan pembentukan kerajaan-kerajaan Islam. Merekalah  yang mengenalkan dan menyebarkan Islam secara massif hingga kemudian menjadi agama mayoritas yang dianut seperti saat ini.

Namun, aktivitas mereka tidak hanya sebatas dalam wilayah sosial-keagamaan semata, melainkan juga memainkan posisi sangat vital dalam wilayah politik. Hal demikian sebagaimana dipaparkan dalam buku berjudul lengkap Ulama dan Kekuasaan; Pergumulan Elite Muslim dalam Sejarah Indonesia ini, yang berusaha menelusuri rekam-jejak para ulama Indonesia dalam membangun peran dan legitimasi sosio-kultural dan politik.  

Hal ini terbukti dengan fakta bahwa Islam memiliki sumbangsih pada pembentukan kerajaan-kerajaan absolutis di Nusantara pra-kolonial, dan para ulama-lah pemberi legitimasi keagamaan untuk meningkatkan absolutisme kerajaan tersebut. Pola hubungan antara ulama dan raja ini tetap terpelihara hingga panorama politik Nusantara berubah. (Halaman 59)

Munculnya Islam-berorientasi raja tentunya bukan hal mengejutkan. Ia berasal dari gagasan sufi tentang “Manusia Sempurna” (insan kamil), dan karenanya memberi kontribusi bagi Islamisasi Nusantara. Islam sejak awal terintegrasi dalam sistem politik lokal yang berpusat pada raja. Dengan menerima Islam, basis ideologis kerajaan sama sekali tidak terancam.

Berdasarkan sumber-sumber historis yang tersedia, para sejarahwan berkesimpulan bahwa Samudera Pasai adalah kerajaan Islam pertama yang bediri di Nusantara pada akhir abad ke-13. Kesimpulan ini berdasarkan nisan pada makam Malik al-Saleh. Sebagaimana dikatakan dalam Hikayat Raja-raja Pasai, Malik al-Saleh, sultan pertama Samudera Pasai, ketika masih bernama Marah Silu bermimpi berjumpa dengan nabi Muhammad Saw. yang memintanya untuk mengucapkan kalimat syahadat. Nabi kemudian memberinya nama Malik al-Saleh. (Halaman 17)

Di Jawa, Demak merupakan kerajaan pertama yang didirikan para Ulama pada akhir abad ke-16, dengan Raden Fatah sebagai raja pertamanya. Selain Demak, kerajaan-kerajaan Islam lain yang memiliki peranan penting adalah Banten dan Cirebon di Jawa Barat yang berkaitan erat dengan sosok Sunan Gunung Jati, salah seorang dari Sembilan wali utama penyebar agama Islam di Pulau Jawa yang wafat pada 1570 M.  

Sayangnya, badai kolonialisasi melanda dunia, termasuk Indonesia. Hal ini berakibat pada lumpuhnya peran ulama di pentas politik, terpinggirkan hanya pada bidang agama an sich. Ulama akhirnya menjadi figur mandiri yang berbeda dari elit agama yang didukung Belanda, penghulu. Hasilnya, jumlah institusi pendidikan Islam semisal pesantren, surau, dan dayah, justru tumbuh secara pesat.

Meski demikian, perlawanan secara fisik juga terjadi dibanyak tempat. Perang Jawa yang terjadi tahun 1825-1830 M dipimpin Pangeran Diponegoro adalah peperangan terbesar dan terlama yang dialami Belanda melawan pribumi yang didukung ulama. Perang Aceh juga secara jelas bentuk perlawanan terhadap pemerintahan kolonial Belanda dari komunitas ulama. (Halaman 143)

Awal abad 20 nuansa perlawanan secara fisik relatif sepi, beralih dengan tumbuh suburnya organisasi keagamaan. Adalah Muhammadiyah dan Syarikat Islam (SI), dua organisasi yang pertamakali terbentuk dengan mendefinisikan Islam sebagai kemajuan. Meskipun pada akhirnya Muhammadiyah lebih berorientasi pada ide-ide reformasi keagamaan sedangkan SI cenderung politis.

Namun, berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1926 merupakan klimaks dari gerakan para ulama yang didefinisikan secara tradisionalis, yang mempertahankan ritualitas dan nilai-nilai tradisi dan melakukan polarisasi atas gerakan pembaharuan Muhammadiyah atau gerakan lain yang umumnya disebut reformis dan modern. (Halaman 338)

Karya Jajat Burhanudin ini, menawarkan sejarah sosial dan intelektual, yang relatif terabaikan dalam studi-studi terdahulu tentang ulama Indonesia. Kedalaman tema serta keluasan referensi yang digunakan, barangkali menjadi semacam jaminan tentang keseriusan penulisnya atas data yang dipaparkan dalam riset ini.

Bukan sekedar catatan sejarah yang hendak ditawarkan oleh buku setebal 481 halaman ini, melainkan juga mengajak pembaca untuk memikirkan tentang tantangan-tantangan yang dihadapi oleh para pewaris nabi ini dalam konteks modern. Fakta bahwa kalangan ulama senantiasa terlibat dalam setiap proses politik di Indonesia memantik siapa saja untuk turut andil dalam menjaga eksistensinya di tengah zaman yang tengah berubah secara cepat dan mengglobal. 
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar