Selasa, 12 Februari 2013

Penebar Ancaman di Tanah Palestina


Jateng Pos, 10 Februari 2013


Judul Buku: Segitiga Tragedi

Penulis: Dr. Ibnu Burdah

Penerbit: Ircisod

Cetakan: I, 2012

Tebal: 160 Halaman


Tanah Palestina, merupakan kawasan yang telah luruh dan terus mengalir, tidak pernah diam, selalu dalam keadaan transformasi, seperti sebuah tanaman yang berubah bentuk, ukuran, bahkan warna, namun selalu tetap berakar pada tempat yang sama. Sebuah kota yang terus berubah, yang timbul dan tenggelam, dibangun kembali dan dihancurkan berkali-kali.


Pertarungan tiada henti demi tanah ini; pembantaian-pembantaian, kezaliman, perang, terorisme, pengepungan dan malapetaka telah menjadikan Palestina sebagai ajang peperangan, rumah jagal agama-agama, rumah kuburan, atau meminjam istilah Edward Said sebagai tempat yang mengingatkannya pada kematian. Dan pola ini nampaknya semakin menjadi seiring berdirinya Negara Israel.  



Berdirinya negara Israel pada 14 Mei 1948 yang diarsiteki kaum Zionis, disponsori Inggris, dan dilegalisasi oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) membuat kawasan Palestina tak henti bergejolak hingga kini, dan darah rakyat Palestina mengalir deras setiap hari membanjiri setiap jengkal tanahnya.


Setidaknya, 780.000 rakyat Palestina terusir dari tanah kelahirannya di tahun pertama negara Israel berdiri. Tahun 1980-an, jumlah tersebut mencapai 2 juta orang dan diperkirakan saat ini melonjak setidaknya dua kali lipat. Tidak sedikit pula yang dibunuh, dihalau, dan dibinasakan oleh pendatang Yahudi dari berbagai negara yang mengklaim bahwa Tanah Palestina adalah milik moyang mereka.


Daftar tersebut nampaknya akan semakin memanjang, mengingat Israel secara berkala kerap melakukan penyerangan dengan senjata-senjata super canggih mereka ke rumah-rumah penduduk sipil Palestina, sebagaimana yang dilakukannya pada medio November lalu. Namun, menurut buku berjudul Segitiga Tragedi Tanah Palestina ini, ancaman sesungguhnya dan jauh lebih besar adalah kepemilikan Israel atas senjata nuklir.


Israel diyakini telah memproduksi sendiri persenjataan nuklir mereka, setelah berguru kepada para pakar Prancis dan Amerika Serikat. Mereka mampu melakukan pengayaan uranium, pembuatan plutonium, dan air berat yang merupakan bahan dasar nuklir. Selain itu, Israel juga mampu membangun reaktor nuklir dan sarana-sarana lain yang diperlukan bagi industri dan pengembangan persenjataan pemusnah massal tersebut. (Halaman 73-74)


Diperkirakan, jumlah misil Israel yang berhulu-ledak nuklir mencapai 300 buah, yang siap ditembakkan ke berbagai negara-negara yang bermusuhan. Bahkan, posisi hulu-ledak berkepala nuklir diperkirakan telah mengarah ke berbagai target first strike (serangan hipotesis terhadap sasaran-sasaran militer), preemptive strike (serangan tiba-tiba terhadap militer lawan), bahkan counter city strike (serangan balasan yang mematikan terhadap kota maupun pusat populasi penduduk sipil lawan).


Meski demikian, pembicaraan mengenai nuklir, baik status kepemilikan, kapasitas yang dimiliki, maupun strateginya merupakan hal yang tabu bagi publik Israel. Sensor ketat diberlakukan bagi siapa saja, termasuk kalangan pers asing yang melakukan pemberitaan mengenainya. Wartawan maupun lembaga pers, diwajibkan menyerahkan naskah pemberitaan terlebih dahulu kepada Dewan Pengawas. 


Dinas Nuklir Israel yang notabene merupakan lembaga yang menangani pembangunan dan pengembangan nuklir Israel, menjadi salah satu organisasi yang paling rahasia, melebihi dinas rahasia Israel lainnya seperti Mossad, Shin Beit, maupun Aliyah Beit. Berapa anggaran, serta siapa ketua maupun pegawainya hanya bisa diketahui setelah pensiun selama tiga tahun.


Kepemilikan nuklir Israel setidaknya dapat dijelaskan dalam fungsi deterrence, yakni mempengaruhi psikologi negara lawan sehingga mencegah terjadinya serangan, sekaligus demi meningkatkan posisi tawar terhadap negara lain. Nuklir dapat mencegah perang terbuka dengan negara di sekitarnya, serta menutupi segala kelemahan Israel, terutama secara geografis dan demografis. (Halaman 145)


Akan tetapi, pada praktiknya, keberadaan senjata nuklir hampir “tidak berguna” selain sekedar sebagai alat ancaman sebagaimana disebutkan di atas. Penggunaan nuklir, merupakan cara bunuh diri massal yang bukan hanya akan memusnahkan negara lain, tetapi seluruh kawasan termasuk Israel itu sendiri. Dengan kata lain, penggunaan nuklir merupakan hal yang tidak akseptable, mengingat akibat destruksi yang ditimbulkannya.


Menelaah buku setebal 160 halaman ini, membawa kita kepada pengetahun lebih utuh mengenai keberadaan nuklir Israel yang selama ini tidak pernah dipersoalkan dunia Barat maupun PBB. Lain Israel lain pula Iran, meski berkali-kali diinspeksi oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) dan tidak terbukti mengembangkan senjata pemusnah missal tersebut, namun tetap dicurigai oleh Amerika dan sekutunya.


Karya pengamat Timur Tengah, khususnya Yahudi dan Israel ini, berusaha menelanjangi eksistensi negara yang menjadi penebar maut di Tanah Palestina tersebut, sesuai dengan kapasitas keilmuan yang dimilikinya. Hasilnya, buku ini bukan sekedar menyuguhkan isu, namun fakta-fakta keberadaan nuklir Israel.

          

3 komentar:

  1. Mas Noval, mau nanya, selain sampean yg dimuat di Jateng Pos tgl 10 kemaren punya siapa lagi?

    BalasHapus
  2. Mas Noval, mau nanya, selain sampean yg dimuat di Jateng Pos tgl 10 kemaren punya siapa lagi?

    BalasHapus
  3. Mas Noval, mau nanya, selain sampean yg dimuat di Jateng Pos tgl 10 kemaren punya siapa lagi?

    BalasHapus