Kamis, 14 Februari 2013

Menguji Rasionalitas Kitab Suci


Judul Buku: Nalar Ayat-ayat Semesta
Penulis: Agus Purwanto
Penerbit: Mizan
Cetakan: I, 2012
Tebal: 480 Halaman

Al-Qur’an memiliki posisi istimewa dalam Islam. Semua orang yang meyakini keesan Tuhan serta kenabian Muhammad saw. dapat dipastikan pula meyakini kebenaran yang terkandung dalam al-Qur’an yang nota bene berisi himpunan wahyu yang diterima nabi terakhir tersebut dari Tuhan.  

Dengan kata lain, apapun yang termaktub dalam al-Qur’an, semua muslim niscaya meyakininya sebagai sebuah kebenaran absolut. Meski demikian, perbedaan penafsiran atasnya bukanlah hal yang aneh, mengingat sebagai firman-Nya al-Qur’an diyakini mampu menjawab berbagai persoalan umat, mulai dari aspek eskatologik, politik, hingga wilayah saintifik.

Buku berjudul Nalar Ayat-ayat Semesta ini, merupakan salah satu ikhtiar sarjana muslim dalam menafsirkan al-Qur’an. Ditulis oleh Agus Purwanto, seorang doktor fisika partikel teoretik lulusan Universitas Hiroshima Jepang, sekaligus seorang pengkaji  al-Qur’an secara serius. Dengan modal keilmuan yang digelutinya, Agus berusaha menjadikan al-Qur’an sebagai basis konstruksi bagi ilmu pengetahuan.

Sebagaimana karya sebelumnya yang berjudul Ayat-ayat Semesta: Sisi-sisi al-Qur’an yang Terlupakan, karya ini memiliki semangat yang sama yakni membangun sains dengan paradigma baru nonpositivistik, yakni sains berbasis wahyu khususnya 800 ayat kauniyah yang terkandung dalam al-Qur’an, artinya wahyu menjadi bagian dari epistemologi, ontologi, juga aksiologi, atau yang dikenal dengan sebutan Sains Islam. (Halaman 151)

Terdiri dari delapan bab, penulis memulai pemaparannya dengan terlebih dahulu menengok pada masa lalu interaksi Islam dan sains serta mengurai pola interaksi antara keduanya yang di fokuskan dalam bab pertama. Lima bab berikutnya, ia memaparkan tafsirnya atas ayat-ayat Kosmologi, Astronomi, Biologi, Kuantum, Estetika dan Teknologi.

Pada setiap pembahasan, senantiasa di awali dengan melakukan analisa logis atas teks wahyu secara singkat, sehingga pembaca dapat mengikuti logika penerjemahannya. Selanjutnya, ia membandingkan penafsiran/penerjemahannya tersebut dengan pengamatan dan pengetahuan atas alam, melalui nalar sederhana yang relatif mudah dipahami orang awam. 

Agus memberi contoh penerjemahan atas al-Qur’an surat al-Naml ayat 18. Hampir semua terjemahan, menyatakan bahwa semut yang berteriak mengingatkan kawanannya agar menghindar dari injakan kaki Sulaiman dan para tentaranya hanyalah seekor semut. Padahal, menurut Agus, semut merupakan makhluk yang memiliki kelamin jantan dan betina. Dan dalam konteks ayat tersebut berjenis kelamin betina, alias Ratu Semut. (Halaman 362-364)

Lantas, apa hebatnya semut hingga layak menjadi nama salah satu surat dalam firman-Nya ? Dengan mengutip Majalah Rider’s Digest, Agus menyodorkan keistimewaan semut dibandingkan dengan hewan-hewan lain. Antara lain, komunitas semut mempunyai sistem atau struktur kemasyarakatan lengkap, beserta pembagian tugas masing-masing.   

Gaya pemaparan yang sama, akan kita temukan dalam semua subtema yang menjadi bahasan. Misalnya Agus menafsirkan ayat-ayat berhubungan dengan penciptaan Langit dan Bumi atau teori big bang, tentang besi dan evolusi bintang, struktur ruang dan waktu, posisi Bumi dalam semesta raya, struktur interior Bumi, gempa dan tsunami, wajah Bulan, Langit dan hiasannya, Wedang Jahe sebagai minuman di Syurga, tentang asimetri dan posisi Ka’bah, dan lain-lain.    

Sebagai konstruksi Sains Islam yang menjadikan wahyu sebagai basis epistemologinya, Agus berkeyakinan bahwa penguasaan atas bahasa Arab menjadi sebuah keniscayaan. Mengingat bahasa Arab sebagai bahasa al-Qur’an memiliki pesan-pesan yang spesifik dalam setiap huruf, suku kata, atau kata dalam setiap kalimatnya. Sehingga ketidakpahaman pada bahasa Arab berakibat pada ketidakutuhan dalam memahami al-Qur’an dan Islam. (Halaman 128)

Dengan demikian, tegaknya konstruksi Sains Islam jelas memerlukan waktu yang panjang serta kesabaran dan ketekunan. Menumbuhkan kembali kecintaan komunitas muslim terhadap sains merupakan langkah pertama yang harus dilakukan. Sebagaimana kecintaan terhadap al-Qur’an dan bahasa Arab sebagai fondasi utamanya.

Menjadikan penemuan saintifik yang cepat berubah dan terus terbarui sebagai penguji rasionalitas kitab suci sangatlah riskan. Mengingat apa yang dikatakan ilmuwan hari ini, bisa jadi esok lusa akan berubah sebagaimana konsep bentuk Bumi sebelum dan setelah era Galileo. Akan tetapi, mempelajari dan memahami al-Qur’an sehingga memiliki kontribusi lebih nyata bagi kehidupan saat ini sangatlah penting, bahkan diperintahkan.

Menjelajahi lembar demi lembar buku setebal 480 halaman ini membawa pembaca pada “realitas lain” yang ditawarkan al-Qur’an, yakni muatannya yang bersifat kauniyah  yang selama ini kerap terabaikan dan kalah popular dengan dengan ayat-ayat bernuansa eskatologis dan ubudiyah. Hasilnya, karya ini tidak menghadirkan al-Qur’an sekedar berisi katalog atau daftar fasilitas setelah kematian, melainkan al-Qur’an yang yang berbicara dalam realitas kekinian.    

2 komentar:

  1. waaah, keren banget ini mas...
    dimuat dimana?

    BalasHapus
  2. yang ini dimuat di blog ini saja mbak :-)

    BalasHapus