Sabtu, 15 Agustus 2015

Menghidupkan Kembali Warisan Luhur Bangsa


Koran Jakarta, 14 Juli 2015



Judul Buku: Janma Tan Kena Kinira; Mutiara Kebajikan Para Leluhur Jawa

Penulis: Gesta Bayuadhy

Penerbit: Laksana

Cetakan: I, Januari 2015

Tebal: 240 Halaman


Suku Jawa merupakan suku dengan populasi terbesar di Indonesia. Fakta ini semakin diperkuat dengan posisi pulaunya yang menjadi Ibukota negara, sekaligus pusat berkumpulnya manusia dan berputarnya uang. Tidaklah mengherankan jika semua aspek kebudayaan Jawa mampu mewarnai peradaban Indonesia saat ini.


Dengan modal demografis dan geografis yang dimilikinya, etnis Jawa juga selalu diperhitungkan dalam setiap perhelatan pesta demokrasi di negeri ini. Fakta juga menunjukkan bahwa hampir semua presiden yang pernah memerintah negeri dengan beraneka suku ini, berasal dari suku Jawa.

Besarnya pengaruh Jawa juga dapat terbaca dari begitu familiarnya peribahasa, jargon, dan filosofi manusia Jawa di telinga masyarakat Indonesia secara luas. Salah satunya adalah istilah Tepa Salira. Menurut buku berjudul Janma Tan Kena Kinira; Mutiara Kebajikan Para Leluhur Jawa ini, tepa salira berarti tenggang rasa atau toleransi.


Secara luas diartikan sebagai segala tindakan manusia berdasarkan kenyataan diri untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain. Dengan menerapkan tepa salira orang akan selalu bertenggang rasa dengan sesamanya. Sebelum bertindak apapun, dia akan menimbang rasa terlebih dahulu. (Halaman 126) Misalnya, sebelum memukul dia akan berusaha merasakan sakitnya dipukul sehingga tidak jadi melakukan pemukulan.    


Sikap toleransi dan tenggang rasa ada bukan untuk menghilangkan perbedaan. Antara satu dan yang lain tetap saja berbeda, tetapi saling bertenggang rasa, tepa salira, sehingga kedamaian dapat selalu terjaga. Inilah cara pandang peradaban yang luhur dan dewasa, bukan cara pandang yang menolak perbedaan dan menyetujui penyeragaman. (Halaman 127)


Penghargaan leluhur Jawa terhadap manusia lain juga ditunjukkan dengan istilah Janma Tan Kena Kinira. Sebuah konsep yang memandang bahwa setiap manusia unik karena ia ciptaan Tuhan yang paling mulia. Makhluk yang dilengkapi fasilitas secara lengkap; akal, fisik, jiwa, dan perasaan.


Dengan fasilitas tersebut manusia menjadi makhluk yang memiliki kemungkinan yang tak terkira dan tak terduga. Hal apa pun yang berkaitan dengan manusia, mulai dari pemikiran, keinginan, perasaannya, sampai tindakan yang akan dilakukan, semuanya serba tan kena kinira. Selemah apa pun manusia, ia tetap memiliki kelebihan atas yang lainnya. (Halaman 29)


Bukan hanya menyangkut wilayah sosial, peradaban Jawa juga dikenal memiliki fiosofi spiritual yang adiluhung. Mereka sangat pandai menarik konklusi dari sebuah peristiwa dan mengkaitkannya kepada Tuhan. Misalnya saja, dalam istilah datan serik lamun ketaman lelakon yang berarti tidak merasa sakit hati ketika mendapat cobaan dari Tuhan.


Suka atau tidak suka atas takdir yang digariskan-Nya, manusia tetap harus menerimanya secara legawa. Karena manusia hidup jangan mudah mengeluh, nanti akan bertambah kesusahannya akibat keluhan itu. Sikap pasrah atas putusan Tuhan akan membawa pada sikap tabah, yang senantiasa ingat akan peranan Tuhan dalam hidupnya.


Kalau pun toh manusia diuji dengan kesusahan, maka apa yang dilakukan-Nya atas manusia pasti ada batas-batasnya. Karena Gusti Maha Pirsa atau Tuhan Maha Mengetahui. Toh pada dasarnya semua peristiwa dalam kehidupan ada hikmah di baliknya, atau kabeh lelakon ana undere. (Halaman 197-204)


Buku setebal dua ratus empat puluh halaman ini, menjadi penting sebagai upaya untuk menghidupkan dan mengingat kembali petuah para leluhur Jawa yang selama ini telah terlupakan oleh banyak kalangan, terutama generasi muda. Padahal, dalam petuah tersebut tersimpan makna dan nilai yang luhur serta sarat akan kebajikan.


Apa yang dilakukan oleh Gesta Bayuadhy dalam buku ini, seyogyanya diikuti oleh penulis-penulis lain. Baik dari kalangan Jawa maupun dari suku dan etnis yang berbeda yang ada di Nusantara ini dengan mengedepankan kebajikan para leluhurnya masing-masing. Hal ini selain dimaksudkan untuk melestarikan tradisi lokal, pula dibarengi dengan harapan agar para pembaca dapat meresapi nilai-niali adiluhung yang terkandung di dalamnya serta mengaplikasikannya secara nyata. Selamat membaca. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar