Senin, 04 Maret 2013

Wanita Simpanan di Pentas Sejarah

Harian Detik, 2 Maret 2013

Judul Buku: Wanita Simpanan
Penulis: Elizabeth Abbot
Penerbit: Alvabet
Cetakan: I, Februari 2013
Tebal: 602 Halaman

Saat itu, musim gugur 1924 ia masih gadis remaja berusia 18 tahun yang menarik perhatian dan modis, seorang gadis ramping dengan karakter halus, rambut pendek dan mata gelap, cantik, dan cerdas. Ketertarikannya pada filsafat menuntunnya untuk memasuki Universitas Marburg serta mengikuti kelas seorang profesor yang kala itu namanya tengah meroket sebagai pemikir jempolan.

Rupanya penampilan Hannah Arendt, demikian nama si gadis, membuat Martin Heidegger sang profesor kesengsem. Meski telah beristri, lelaki berusia 35 tahun tersebut kemudian mendekati dan merayunya di kantor universitas. Beberapa minggu kemudian, secara diam-diam keduanya menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.

Cinta terlarang antara laki-laki bertubuh pendek, dengan rambut hitam legam, kulit gelap, badan kecil, mata yang tajam, seorang nasionalis Jerman dan anggota Partai Nazi dengan gadis cantik yang nota bene berdarah Yahudi tersebut berlangsung secara intens dan rumit sehingga mengubah hidup mereka dan berlangsung hingga ujung usia. (Halaman 300)

Sosok Hannah Arendt yang menjadi wanita simpanan sang pengarang buku Being and Time tersebut, hanyalah salah satu dari 69 perempuan yang kisahnya tersaji dalam buku berjudul Wanita Simpanan ini. Sebuah karya perpaduan yang kaya antara biografi pribadi, wawasan budaya, dan pengetahuan sejarah yang menakjubkan.

Aneka Motif dan Pelaku

Banyak faktor yang melahirkan fenomena wanita simpanan, antara lain; perjodohan antara suami dan istri yang melahirkan kebosanan, sistem kasta dan kelas sosial dengan celah-celah yang tidak bisa ditembus, kengganan laki-laki untuk menerima satu pasangan seks, menampung hasrat mereka untuk memuji kejantanan, dan menegaskan kekayaan dengan memiliki perempuan (selir) selain istri.

Para pelakunya bukan orang biasa, alias memiliki kekayaan, kekuasaan, kecerdasan atau hal-hal lainnya yang dianggap kelebihan dalam sudut pandang masyarakat luas. Mulai dari politisi yang terbiasa berbohong di depan publik, kaum cendekia yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata, para bangsawan kerajaan, hingga tokoh terkemuka dalam institusi agama.

Pada masa lalu, di beberapa negeri Timur, sebagian wanita simpanan adalah para budak perempuan yang diakui oleh hukum dan diterima masyarakat. Keberadaan mereka justru sifatnya mengutuhkan pernikahan, salah satu tugas prinsip mereka adalah mendapatkan warisan dari majikan. (Halaman 30)

Selir pertama yang tercatat dalam sejarah adalah Hajar, seorang budak perempuan keturunan Mesir yang berkulit hitam. Hajar merupakan budak Sarah, istri patriark Ibrahim (2000-1720 M). Ketiganya pernah tinggal bersama selama 13 tahun, sebelum akhirnya Hajar bersama anak yang masih balita, Ismail, pergi bermigrasi ke daerah lain.  

Meski demikian, perempuan simpanan yang paling dikenal dan banyak diteliti adalah perempuan simpanan raja-raja Eropa semasa Renaisans, seperti Nell Gwynne dan Madame de Pompadour. Namun, kebiasaan menyimpan perempuan simpanan di Eropa tidak terbatas kepada keluaga raja dan bangsawan tetapi menurun ke segala lapisan masyarakat, tanpa memandang kedudukannya dalam masyarakat. Pedagang yang kaya atau bangsawan muda.

Pergundikan juga memungkinkan laki-laki yang belum menikah untuk menikmati hubungan intim dengan perempuan kelas rendahan yang dianggap masyarakat tidak cocok untuk menjadi istri mereka. Seperti Apasia yang menjadi gundik Pericles dan Dolorosa yang menjadi gundik Santo Agutinus. Selir lainnya berperan sebagai pemuas nafsu seksual hanya untuk laki-laki yang tidak menunjukkan kasih sayang. (Halaman 566) 

Tema dan Karya Sensasional

Buku setebal 602 halaman ini disusun berdasarkan pemilahan para wanita simpanan dalam masing-masing kategori yang dianggap dapat memberikan gambaran paling baik akan tema dan subteks yang variatif. Masing-masing memiliki kisah unik, terdiri dari bangsawan dan budak, istri, ibu, dan perawan tua, yang tinggal di gubuk, harem, rumah biasa maupun istana.       

Terminologi wanita simpanan, didefinisikan oleh Elizabeth Abbot, penulisnya, sebagai seorang perempuan yang sukarela atau terpaksa memiliki hubungan seksual yang relatif lama dengan laki-laki yang biasanya sudah beristri. Dengan menarik dan cerdas, motif dan moral wanita-wanita yang sangat terkenal dan memesona dalam sejarah, dari masa lampau hingga masa kini disajikannya ke hadapan pembaca dengan perpaduan antara biografi pribadi, wawasan budaya, dan pengetahuan sejarah yang memukau.   

Titik simpul dari karya sensasional ini adalah bahwa baik zaman kuno maupun kontemporer, kisah-kisah setiap perempuan di dalamnya sangat unik, namun kumpulan dari setiap narasi merupakan sebuah kisah sejarah yang lebih luas. Sejarah yang dimulai dengan pergundikan, awal dari perselingkuan, dikembangkan sebagai sebuah cabang dari pernikahan dan hampir merupakan toleransi universal dari ketidaksetiaan laki-laki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar