Kamis, 14 Maret 2013

Sang Filantropis dari New York

Malang Post, 10 Maret 2013

Judul Buku: Tipuan Bloomberg
Penulis: A. Zulvan Kurniawan 
Penerbit: Indonesia Berdikari
Cetakan: I, Desember 2012
Tebal: 92 Halaman

“Jika mau mencalonkan diri menjadi aparat pemerintah, akan lebih baik menjadi miliarder dulu, sehingga Anda bisa fokus dalam bekerja.” (Michael Bloomberg)

Selama satu dekade terakhir, sosoknya menjadi perbincangan berbagai kalangan, baik politik, ekonomi, media, bahkan kebudayaan. Nama, sikap, pernyataan, dan visinya melampaui posisinya sebagai pemimpin kota megapolitan Amerika Serikat bernama New York. Dialah sosok bernama lengkap Michael Rubens Bloomberg.

Kakeknya bernama Alexander “Elick” Bloomberg, seorang imigran Yahudi-Rusia yang bekerja sebagai agen properti. Ia dilahirkan pada tanggal 14 Februari 1942 di Boston, Amerika, dari rahim seorang perempuan keturunan imigran Rusia bernama Charlotte, istri dari Willliam Henry Bloomberg.

Jejak genetika tersebut menyebabkan ia beserta keluarganya diperlakuan secara diskriminatif. Sang ayah bahkan pernah dilarang menginap di sebuah hotel setelah ketahuan berdarah Yahudi. Pengalaman inilah yang membentuknya menjadi pribadi yang egaliter dan senang berbaur dengan siapa pun tanpa memandang perbedaan status, kelas, ras, etnis, dan agama.

Buku berjudul lengkap Tipuan Bloomberg; Mengungkap Sosok Agen Industri Farmasi di Balik Filantropi Kampanye Anti-Rokok ini, berusaha menyuguhkan kisah sosok Michael Bloomberg sebagai Yahudi, pengusaha, politisi, filantropis, dan elit ternama. Pembaca akan diajak untuk menelusuri asal-usul keluarga, kekayaannya yang melimpah, juga sepak terjang usahanya dalam membangun gurita bisnis yang sukses.

Jauh hari sebelum menjadi orang nomor satu di Big Apple, julukan New York, Bloomberg pernah ditanya tentang cita-citanya setelah sukses menjadi pebisnis. Ia menjawab: ”Hanya tiga hal yang ada dalam benak saya. Pertama, menjadi Presiden Amerika Serikat. Kedua, Sekretaris Jenderal PBB. Ketiga, menjadi wali kota New York.”

Ia nampaknya terlahir sebagai politisi oportunis namun memiliki insting yang tajam. Terbukti, pilihannya untuk membelot dari Partai Demokrat yang semula didukungnya, dan memutar haluan menjadi Republikan berasil mewujudkan salah satu impiannya tersebut di tahun 2001. (Halaman 15)

Peringkat pertama dalam daftar “The World’s Richest Politicans” versi majalah Forbes pada 2012 ini, menggelontorkan 85 juta dollar untuk kampanye pada pemilihan wali kota tahun 2005. Angka tersebut membengkak menjadi 102 juta dollar atau 959,3 miliar rupiah ketika untuk ketiga kalinya ia maju dalam pemilihan.

Angka tersebut terbilang sedikit jika dibandingkan dengan total dana yang disumbangkannya untuk pendidikan, penelitian medis, dan pengembangan seni. Melalui Bloomberg Family Foundation, jumlah sumbangan yang dikeluarkannya adalah 138 juta dollar (2004), 144 juta dollar (2005), 165 juta dollar (2006), dan 205 juta dollar. Tidaklah mengherankan jika Bloomberg disebut sebagai filantrofis ketujuh terbesar di Amerika Serikat.

Ketika ditanya seputar kesuksesan dalam kehidupannya, baik sebagai politisi maupun pebisnis, Bloomberg mengungkapkan rahasianya karena ia melakukan segala sesuatunya dilakukan secara bertahap dan jangan pernah menyerah. So, let’s just do it !.

Meski demikian, reputasi yang dibangun nampaknya tidak mampu membendung kritik terhadapnya. Dukungannya terhadap pernikahan sesama jenis, pajak tinggi terhadap rokok, dukungannya secara terbuka terhadap Israel, serta sikap paranoidnya terhadap komunitas muslim New York, menjadi kontroversi selama memimpin. (Halaman 40)

Akan tetapi, tuduhan yang paling serius adalah kampanye anti-rokok serta Perang Nikotin yang dikobarkannya dicurigai memiliki motif demi memenangkan perusahaan-perusahaan farmasi yang menjual obat-obat untuk berhenti merokok. Konspirasinya bersama keluarga Rockefeller, Carnegie, Ford, Morgan, Gates, dan sebagainya, membuat sejumlah perguruan tinggi, pusat riset, lembaga pemerintah, organisasi sosial, dan badan-badan internasional merilis aturan serta kebijakan kapitalistik yang dibalut kampanye kesehatan serta filantropi.

Hasil kampanye anti-rokok secara besar-besaran itu kemudian berimplikasi penting pada produk terapi dan obat berhenti merokok. Pada 2007, Chantix yang diproduksi Pfizer terjual senilai 883 juta dollar. Klinik-klinik terapi berhenti merokok, yang notabene dimiliki Rockefeller-Morgan, banyak didirikan. (Halaman 71)

Buku setebal 92 halaman ini, mengurai hubungan antara sang filantropis dengan kalangan farmasi, berdasarkan fakta bahwa Bloomberg Initiative merupakan lembaga penyalur dana kepada negara dan lembaga yang sepat untuk mengkampanyekan gerakan anti-tembakau. Hasilnya, Bloomberg disimpulkan sebagai tokoh yang tidak bebas-kepentingan, sebagaimana tujuan para kapitalis lainnya, yaitu mengeruk keuntungan finansial sebesar-besarnya.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar