Sabtu, 16 Maret 2013

Kiat Pembelajar yang Kreatif

Koran Sindo, 17 Maret 2013

Judul Buku: 10 Rahasia Pembelajar Kreatif
Penulis: Khrisna Pabichara
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, Februari 2013
Tebal: 192 Halaman

Tahukah anda bahwa otak manusia memiliki kemampuan untuk menerima, mengatur dan menempatkan memori ? tidaklah mengherankan jika bagian tubuh dengan bobot hanya sekitar 1,5-2 kg ini kerap digunakan untuk mengungkapkan gambaran kecerdasan atau kebodohan seseorang. 

Kendati demikian, untuk memanfaatkan secara optimal organ yang dipenuhi lebih kurang satu triliun sel yang terdiri atas 100 miliar sel otak aktif dan 900 miliar sel otak pedukung ini dalam proses belajar, diperlukan latihan yang kontinyu sehingga menjadi suatu kebiasaan mental. 
Terlebih, berkebalikan dengan perilaku hedonistik yang menyenangkan atau nongkrong di mal, tempat rekreasi, atau berpacaran, proses belajar merupakan aktivitas yang cenderung membosankan. Mulai dari menghapal rumus-rumus, tanggal penting, dan tokoh serta peristiwa bersejarah, menyelesaikan perhitungan, hingga rutinitas yang monoton bolak-balik antara kelas, perpustakaan, dan laboratorium. 

Otak merupakan senjata andalan setiap pembelajar. Otak manusia akan lebih berfungsi secara optimal apabila sering dilatih. Sehingga kunci utama untuk membuka gerbang kesuksesan belajar adalah melatih kinerja otak. Para pembelajar yang bermasalah dengan daya ingat pada dasarnya karena mereka jarang melatih otak. (Halaman 96)

Demikian salah satu dari sepuluh rahasia belajar secara efisien, efektif, sekaligus menyenangkan yang diungkap oleh Khrisna Pabicara dalam buku berjudul 10 Rahasia Pembelajar Kreatif ini. Sebuah karya yang ditulis berdasarkan pengalaman penulisnya selama menjadi motivator pengembangan minat dan kecakapan belajar selama lebih dari delapan tahun. 

Adapun langkah pertama yang harus dilakukan adalah berupaya menemukan dan memahami karakter belajar diri sendiri, sehingga dapat diketahui apa yang kita senangi dan kenapa menyenanginya, apa yang dibenci dan kenapa membencinya, serta faktor-faktor apa saja yang membuat kita gagal dalam satu bidang dan sukses dalam bidang lainnya.

Yakinlah bahwa setiap masalah yang dihadapi terdapat solusinya sebagai jawaban yang tepat untuk mengatasi kegagalan dalam proses belajar. Karakter belajar yang baik adalah karakter SMART, yakni yang dilandasi oleh; Spirit (semangat), Modesty (etika), Adventurous (jiwa petualang), Resourceful (bertindak cepat), dan Tenacious (kedisiplinan).  

Maka dari itu, langkah berikutnya yang harus dilakukan oleh seorang pembelajar adalah mempersiapkan sikap dan kualitas pribadi yang dapat membantu memudahkan selama pembelajaran. Hal itu selain dapat mengangkat nama baik, juga bermanfaat memunculkan respek dari para tutor, pengajar, dan teman sekolah terhadap kepribadian kita sehingga merasa nyaman.

Langkah ketiga yang harus dilakukan adalah menyusun rencana tentang: tujuan yang hendak dicapai, strategi yang akan digunakan untuk mencapai tujuan, dan sarana pendukung yang dibutuhkan. Dengan ketiga poin itu, proses pembelajaran tidak bisa dianggap sebagai “proyek asal-asalan” lagi, tetapi sebuah “proyek masa depan” yang direncanakan secara matang. (Halaman 68)

Kemampuan menyimpulkan gagasan tertulis (membaca) juga mutlak diperlukan jika berniat lebih cepat memahami dan berminat mengetahui lebih banyak tentang sesuatu. Karena itu, sebelum membaca sebaiknya lakukan evaluasi mental. Sehingga pikiran akan bekerja sedemikian rupa untuk menanamkan apa pun yang dibaca ke dalam ingatan.  

Sebagaimana kemampuan membaca, menyimpulkan gagasan lisan juga diperlukan. Semua orang pasti bisa mendengar (kecuali tunarungu), tetapi belum tentu mampu mendengarkan dengan baik semua yang ditangkap oleh indra pendengaran. Fokuslah pada isi pembicaraan, abaikan gangguan fisik, catatlah gagasan intinya, jangan menyela, dan bertanyalah dengan bijak. 

Ada empat langkah bijak yang harus dilakukan sebelum bertanya dengan bijak; perhatian, minat, ketepatan waktu, dan keberanian. Ibarat belajar naik sepeda, bertanya juga butuh latihan. Tujuan sebuah pertanyaajn diajukan bisa jadi memang karena tidak tahu jawabannya, atau hendak menyamakan pandangan, pendapat, dan persepsi, atau sekedar menguji.

Langkah selanjutnya, berpikir lebih kritis. Para pakar psikologi menyatakan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat memaparkan teori tentang bagaimana dan apa yang mesti kita lakukan agar keterampilan berpikir kita terus meningkat, kecuali melakukan pelatihan yang berkesinambungan. Rajin dan rutin berlatih menjadi kunci sukses pikiran yang kritis. (Halaman 155)

Ketika belajar, berbagai masalah juga kerap datang menghampiri. Ada lima kiat yang ditawarkan untuk mengatasi masalah dalam belajar; selalu berpikir positif, bersikap optimis, menerima musibah dengan penuh cinta, senantiasa sabar, dan berdoa dengan sungguh-sungguh dan yakin.

Langkah terakhir (kesepuluh), belajar bersama. Cara ini sangat ampuh untuk mengatasi kejenuhan belajar. Belejar berkelompok juga dapat menunjang kebiasaan belajar sendiri, menutupi kekurangan, dan belajar bekerja sama. Melalui belajar bersama kita bisa memahami, mengenali, dan berinteraksi dengan berbagai jenis karakter manusia. 

Buku setebal 192 halaman ini, bukan hanya mengungkap rahasia untuk menemukan potensi diri dan memanfaatkannya sehingga pembaca menjadi pembelajar yang kreatif serta memiliki solusi dalam memecahkan setiap masalah penghambatnya. Namun juga menyuguhkan pengalaman inspiratif tokoh-tokoh dunia, sehingga menjadikan teori-teorinya lebih memiliki bukti yang konkret.       

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar