Selasa, 11 Februari 2014

Sang Gandhi dari Indonesia

Pikiran Rakyat, 6 Februari 2014
 
Judul Buku: Hatta; Aku Datang Karena Sejarah
Penulis: Sergius Sutanto
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, 2013
Tebal: 343 Halaman

Sepanjang Repubik Indonesia masih berdiri, namanya akan selalu dikenang sebagai salah satu dari dua penandatangan teks proklamasi kemedekaan yang dikumandangkan pada Jumat pagi 17 Agustus 1945. Pernyataan yang menegaskan tekad bangsa Indonesia untuk lepas dari cengkeraman para penjajah.

Sebuah impian yang pada awalnya dianggap utopis. Perjuangan yang tidak mudah bahkan nyaris mustahil, mengingat luasnya wilayah dan banyaknya suku bangsa yang harus disatukan dalam sebuah negara bangsa (nation state) yang berdaulat, plus minimnya fasilitas serta ketatnya pengawasan dan intimidasi pemerintah kolonial.

Kondisi demikian tidak menyurutkan langkah Muhammad Hatta, serta para sahabat seperjuangannya seperti Syahrir, Tan Malaka dan Soekarno pada waktu itu. Untuk sementara mereka mampu meredam friksi yang timbul karena perbedaan ideologi dan suku sehingga mencapai satu kata mufakat; merdeka.

Kesadaran bahwa perubahan besar hanya dapat dilakukan oleh kalangan intelektual yang terorganisir dan bersatu, untuk sementara mampu mengeliminir sekat-sekat primodial dan membangkitkan euforia kemerdekaan serta menularkannya pada rakyat kebanyakan. Dari sejarah mereka belajar, bahwa konfontasi yang bersifat lokal senantiasa gagal.

Lalu bagaimanakah kiprah serta sepak terjang Muhammad Hatta dalam menyemai benih kemerdekaan pada masa yang mendebarkan dan menentukan tersebut ? Buku berjudul Hatta; Aku Datang Karena Sejarah ini berusaha menghadirkan sosok yang dikenal bersahaja tersebut mulai dari masa kecil hingga usia senja dalam sebuah kisah yang menarik untuk diarungi pembaca.

Hatta memang jauh berbeda dengan sosok Soekarno yang hingga kini kesan yang ditimbulkannya penuh dengan gempita dan gemuruh kata-katanya masih terdengar hingga saat ini. Hatta adalah sosok yang sederhana, yang lebih memilih mundur dari jabatannya sebagai Wakil Presiden yang diembannya selama sebelas tahun dan menjadi rakyat biasa akibat perbedaan pandangan dengan Soekarno yang semakin tajam.

Dalam bahasa Sergius Sutanto, penulis novel ini, Hatta lebih memilih “kemanusiaan” daripada “kedudukan”. Baginya, rakyat tidak bisa melulu dicekoki oleh agitasi dan jargon-jargon. Yang mereka butuhkan adalah pembelajaran, pendidikan yang akan mencerdaskan pemikiran guna meneropong masa depan. Pegawai jangan berpartai karena akan merusak suasana kerja dan hanya mendekatkan pada jalan curang. (Halaman 272)

Pilihan mundur pada 1 Desember 1956 diambilnya karena satu persoalan yang dianggapnya sangat mendasar. Bukan karena Soekarno yang semakin masyuk dengan perempuan, atau korupsi yang mulai menggerogoti rezim. Bukan pula karena kedekatan Soekarno dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Hatta tidak mau menjadi penonton sirkus yang dipaksa bersorak usai pentas, padahal pentas itu sama sekali tidak menyenangkan hati. (Halaman 19)

Memang, sedari kecil kutu buku kelahiran Bukittinggi 12 Agustus 1902 ini dikenal sebagai sosok yang teguh pendirian. Kehilangan figur ayah kandung sejak usia delapan bulan, bisa jadi membentuk kepribadian tersebut. Kondisi itu pulalah yang membuatnya menjadi begitu dekat dengan Siti Saleha, ibu kandungnya. Sosok yang paling didengar nasehatnya.

Sebagaimana masyarakat Bukittinggi pada umumnya, Hatta dibesarkan dalam keluarga dan lingkungan yang agamis. Bahkan kakeknya, Datuk Syaikh Abdurrahman adalah seorang guru agama ternama sekaligus ahli Tarikat yang bergelar Syaikh Nan Tuo. Tidaklah mengherankan jika Hatta kecil sempat bercita-cita untuk menimba ilmu ke Mekkah dan Al-Azhar, Mesir dan menjadi seorang ulama terkemuka.

Jika saja sang ibu tidak melarangnya untuk pergi ke Mekkah, maka bisa jadi Indonesia tidak akan mengenalnya sebagai seorang proklamator kemerdekaan dan dwitunggal bersama Soekarno. Hatta juga tidak akan memiliki sosok sahabat yang sangat dikagumi karena pemikiran dan sikap hidupnya, Sutan Syahrir, yang meninggal di Zurich sebagai tahanan politik Soekarno. (Halaman 316)

Memang, hubungan antara Soekarno, Muhammad Hatta dan Sutan Sjahrir cukup karib namun pelik. Sjahrir yang sosialis dan sangat benci dengan arogansi kepemimpin sejak awal kerap berpolemik dengan Soekarno. Pertengkaran-pertengkaran kecil antar keduanya tak jarang terjadi, meski sama-sama menjadi kaum buangan Belanda ke daerah Toba.

Bertiga sudah mereka tapaki jalan berliku sejak usia muda. Timbul tenggelam, jatuh bangun bersama, saling kritik, saling diam, tebalut dalam satu ruang bernama persahabatan, pertemanan yang mengharu biru yang menyisakan banyak tanya di dalamnya. Pula, menyimpan bara yang justru memanas ketika menuju usia senja.    

Dalam zaman yang sedang bergeliat cepat. Ketika masyarakat terpenjara oleh hiruk pikuk jagat hiburan layar televisi yang mempromosikan kedunguan serta candu jejaring sosial yang lebih sering mengabarkan berita kabur, kehadiran buku-buku yang mengusung tokoh-tokoh besar yang layak dijadikan panutan beserta segenap gagasannya, layak diapresiasi.  

Termasuk sosok Bung Hatta, yang dijuluki media Jepang pata tahun 1933 sebagai Gandhi of Java karena sikap dan perjuangannya, yang dikisahkan dalam buku setebal 343 halaman ini. Diharapkan mampu menjadi setitik nyala dalam gulita, atau setidaknya mampu memperkaya literatur bacaan mengenai sosok pejuang kemedekaan yang digambarkan selalu berkacamata ini.

Dengan memadukan antara biografi, catatan-catatan dan surat-surat Bung Hatta serta diintrepretasikan secara lugas dan dikemas dalam bentuk cerita, Sergius berhasil menyuguhkan sosok penggagas koperasi di Indonesia ini secara lebih dekat dan personal kepada pembaca. Hasilnya, nuansa pergerakan, politik dan agama sangat kental mewarnai novel ini. Sebagaimana kondisi zaman yang melingkupi tokoh utamanya, Hatta, Sang Gandhi dari Indonesia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar