Kamis, 26 Desember 2013

Hizbullah, Paramiliter Tersukses Timur Tengah

Judul Buku: Hizbullah: Sebuah Gerakan Perlawanan ataukah Terorisme ?
Penulis: Musa Kazhim 
Penerbit: Noura Books
Cetakan: I, 2013
Tebal: 208 Halaman

Berdirinya negara Israel pada 14 Mei 1948 yang diarsiteki kaum Zionis, disponsori Inggris, dan dilegalisasi oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) merubah kondisi geopolitik kawasan Timur Tengah, terutama yang berdekatan dengan Palestina.

Betapa tidak, tak terhitung nyawa rakyat Palestina meregang dan 780.000 lainnya terusir dari tanah kelahiran di tahun pertama negara Israel berdiri. 100.000 diantaranya menuju Lebanon Selatan yang dihuni oleh mayoritas Syiah yang tersingkir dan terpuruk dalam beragam aspek kehidupan masyarakatnya.

Kolaborasi antara pendatang terbuang dan pribumi tersingkir ini, kemudian menjadi katalisator yang melahirkan gelombang radikalisasi dan militansi, bahan bakar kebangkitan untuk melawan ketertindasan. Terutama setelah Israel memperluas invasinya ke tanah Lebanon. Gerakan inilah, yang dikemudian hari menjadi organisasi paramiliter yang dikenal dengan nama Hizbullah. 

Buku berjudul Hizbullah: Sebuah Gerakan Perlawanan ataukah Terorisme ? ini, berusaha mendedah organisasi paramiliter tersukses di Timur Tengah ini, yang namanya berkibar seiring kesuksesaanya di pentas sosial, politik dan militer dalam menghadapi agresi Israel di Lebanon. Mulai dari jejak sejarah, langkah strategis-politis, hingga watak ideologis yang diusungnya.   

Hizbullah secara harfiah berarti Kelompok atau Partai Allah. Kehadirannya sebagai partai yang berideologi jihad merupakan sebuah lompatan dalam gerakan Syiah kontemporer yang pada umumnya senantiasa bergerak dalam koridor partai-partai nasionalis sekuler seperti Partai Baath, kelompok-kelompok kiri, dan partai Sosialis Progresif. 

Sebagai organisasi payung yang mengggabungkan beragam organisasi perlawanan, dakwah dan pelayanan sosial dalam sebuah al-halah al-Islamiyyah (milieu Islam), maka tanggal dan tahun pendiriannya tidak bisa diketahui secara persis. Meski demikian, ideologi religius yang membentuknya dapat dilacak pada kedatangan Musa Sadr pada 1958 dengan mandat dari para ulama Syiah Iran dan Irak untuk menggalang solidaritas dan persatuan di tengah milieu Islam Lebanon secara umum dan kalangan Syiah secara khusus. (Halaman 24)

Organisasi yang dicap teroris oleh Amerika Serikat dan beberapa negara lainnya ini, merupakan manifestasi organisasional dari sebuah arus ideologi religius yang telah mengalir sejak 1960-an, yang tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial politik yang melingkupinya. Nama Hizbullah sendiri diberikan oleh seorang ulama Lebanon bernama Abbas Musawi berdasarkan pada salah satu ayat dalam al-Qur’an. 

Pada awalnya, mereka bergerak di bawah tanah dan tanpa nama. Pertemuan-pertemuannya berlangsung secara tertutup. Baru pada 18 Juni 1984, seiring terbitnya media mingguan mereka yang bernama Al-‘Ahd, serta mengalirnya sokongan material dari Iran (finansial-militer-logistik), Hizbullah mulai tampil dan menampakkan diri. 

Sebagai gerakan Islam berdasarkan Madzhab Syiah Itsna Asyariyyah, Hizbullah meletakkan strategi jihad dalam kerangka ijtihad yang diakui sebagai metode penyimpulan hukum dari sumber-sumber hukum yang dipercaya, yakni teks Al-Qur’an dan sunnah yang shahih. Karenanya, prinsip Ijtihad sangat determinan dalam mendinamisasi ideologi dan strategi organisasi ini dalam berbagai fase gerakannya. (Halaman 60 )

Berbeda dengan model gerakan lain, ideologi jihad Hizbullah yang defensif dan bersandarkan pada legitimasi moral keagamaan yang kuat, secara konsisten diistilahkan dengan muqawamah (perlawanan) sebagai ganti dari istilah generik jihad. Tujuannya, untuk membedakan dari ideologi gerakan Islam lain yang mengagungkan jihad ofensif (ibtidai) tanpa dasar-dasar legitimasi moral keagamaan yang kukuh. 

Selain itu, ideologi jihad mereka terikat secara keagamaan dengan lembaga wilayah al-faqih yang berfungsi sebagai pengendali strategis dalam segenap aktivitas jihad. Sehingga ideologi dan strategi jihadnya dalam kerangka legitimasi keagamaan, dan tidak membiarkan ideologi berjalan secara terpisah dari strateginya. Hasilnya, interaksi ideologi dan strategi ini melahirkan konsep jihad yang utuh, koheren dan berpijak pada Islam yang autentik.

Keberhasilan mengusir pasukan Israel pada tahun 2000 dari tanah Lebanon melejitkan popularitas Hizbullah di tingkat nasional, regional dan global. Fungsi religio-kultural dan perlawanan bersenjata dalam transformasi ideologisnya, kini memasuki tahapan baru, yaitu menjadi organisasi politik formal dan berpartisipasi dalam pemilihan umum. (Halaman 160) 

Fakta dan data yang disuguhkan buku setebal 208 halaman ini, berasal dari kajian literatur dan wawancara langsung Musa Kazhim, penulisnya, dengan para narasumber yang memiliki posisi penting dalam Hizbullah, salah satunya Hassan Nasrallah, yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal.

Dengan demikian, karya mantan General Manager The Indonesia Islamic Media Network (IIMaN) Jakarta ini, bukan hanya menarik untuk diikuti, namun juga dapat dipertanggungjawabkan keabsahan data yang dipaparkan di dalamnya, ihwal organisasi paramiliter tersukses seantero Timur Tengah tersebut.            



Tidak ada komentar:

Posting Komentar