Kamis, 26 Desember 2013

Interaksi Dua Agama Besar Dunia


Koran Madura, 27 September 2013

Judul Buku: Sejarah Perjumpaan Islam-Kristen

Penulis: Hugh Goddard

Penerbit: Serambi

Cetakan: I, 2013

Tebal: 402 Halaman


Populasi manusia saat ini mencapai angka 7 miliar jiwa. Hampir separuh dari angka tersebut, mengaku beragama Kristen dan Islam. Meski bukan yang tertua, eksistensi dua agama tersebut memang sangatlah panjang dan tak jarang mendominasi peradaban dunia.


Sebagai dua agama besar, interaksi keduanya sangat menarik sekaligus pelik. Terkadang hangat dan harmoni, saling mengkritisi, namun tak jarang pula terjadi pergesekan bahkan bentrokan yang melibatkan dua komunitas penyembah Tuhan ini sehingga antara keduanya saling mengeliminir.


Hal ini dibuktikan dalam bingkai sejarah, hubungan Kristen-Islam menorehkan catatan yang beraneka dan tidak selalu menyenangkan. Lahir dan berkembang di Timur Tengah, lalu keduanya merambah dan menanamkan pengaruh ke berbagai penjuru dunia: Kristen di Eropa dan Amerika, sementara Islam di Afrika dan Asia. Ketegangan bahkan peperangan antar keduanya kerap tak terelakan.


Dunia Kristen sebagai agama yang lahir lebih dahulu, menanggapi kemunculan Islam pada abad ketujuh dengan cara pandang yang sudah mapan mengenai agama-agama lain berdasarkan pada tiga tradisi pemikiran: kitab suci yang mereka warisi dari kaum Yahudi (Perjanjian Lama), kitab suci mereka sendiri (Perjanjian Baru), serta tradisi pemikiran dan praktik Kristen yang berkembang pada periode Patristik, para Bapa Gereja Kristen.


Pandangan Kristen awal terhadap agama lain, dilatari dua aspek penting, yaitu hubungan mereka dengan umat Yahudi yang merupakan cikal bakal Kristen, dan sikap mereka terhadap filsafat dan agama Yunani-Romawi yang ketika itu dianut oleh masyarakat sekitar.


Sedangkan pandangan Islam terhadap Kristen, menurut buku berjudul Sejarah Perjumpaan Islam-Kristen ini, dapat dijelaskan oleh perjumpaan Muhammad dengan sistem dan praktik tiga sistem keyakinan penting yang ada dan berkembang di Jazirah Arab pada masanya, yakni kaum musyrik Mekah, kaum Yahudi Madinah, dan kaum Kristen Arab. (Halaman 22-55)


Semasa hidupnya, Muhammad sering berinteraksi dengan kaum Kristen dan lebih sering lagi dengan orang Yahudi. Kepada kaum Yahudi, Muhammad menampilkan sikap yang berbeda mulai dari pola yang relatif liberal hingga keras. Pada kesempatan yang lain, terutama terhadap komunitas Kristen, Muhammad menampilkan sikap yang lebih moderat. Ia mengizinkan mereka mengamalkan agamanya selama tunduk pada kekuasaan Islam. 


Pasca wafatnya Muhammad, ketika komunitas muslim melebarkan sayap kekuasaannya ke kawasan Timur Tengah yang lebih luas, dan ketika mereka bertemu dengan lebih banyak komunitas Yahudi dan Kristen, perlakuan Muhammad menjadi menjadi acuan bagi kebijakan mereka. Dua abad berikutnya, kaum muslimin tampaknya mengambil dua sikap utama; keras dan konfrontatif, serta lembut dan toleran.


Eropa yang pada saat itu terbelakang secara intelektual, lemah dan terpecah-pecah secara politik, dan primitif secara sosial ekonomi dibandingkan umat Islam, berusaha bangkit setelah selama berinteraksi dengan masyarakat Islam seraya menerjemahkan karya-karya ilmuwan muslim ke dalam bahasa Latin dan menyebarkannya secara besar-besaran ke seluruh Eropa Barat. (Halaman 193-194)


Tidak dapat dipungkiri bahwa komunitas Kristen dan Islam merupakan “komunitas yang terus berdebat”. Karena itu, pada masing-masing komunitas terdapat dua jenis pandangan terhadap agama lain; positif dan negatif. Kekhalifahan Umayyah di Kordoba (756-1031 M) dikenal sebagai sebagai komunitas Muslim yang toleran, berbanding terbalik dengan Dinasti Murabitun dan Muwahidun yang keras. 


Sedangkan di kalangan kaum Kristen, keterbukaan dan toleransi terhadap kaum muslim dan kebudayaan Islam dapat kita saksikan pada sosok Ferdinand III dari Kastil (1230-1252 M) dan putranya, Alfonso Sang Bijak (1252-1284 M). Sebaliknya, kekerasan dan kekejaman juga ditunjukkan oleh Ferdinand dan Isabella di Granada. (Halaman 340-341)


Buku setebal 402 halaman ini, berusaha mengungkap berbagai motif dan penyebab munculnya berbagai reaksi dari Kristen dan Islam. Selama berabad-abad, perimbangan dua agama besar ini sangat fluktuatif. Terkadang umat Islam yang bergerak aktif sedangkan umat Kristen lebih bersikap reaktif, dan begitu pula sebaliknya. Secara umum, kondisi demikian berlangsung pada Abad Pertengahan dan era modern.


Menurut Hugh Goddard, penulisnya, salah satu fenomena yang menarik dalam perjumpaan Kristen-Islam adalah bahwa perjumpaan keduanya tidak pernah berjalan di atas satu pola yang baku, tetapi terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu.   


Dengan demikian, karya dosen senior Teologi Islam di University of Nottingham ini, bukan sekedar mengajak pembaca untuk menziarahi sejarah masa lalu antara Kristen dan Islam, sehingga menumbuhkan pemahaman yang lebih baik antara keduanya. Namun juga diharapkan dapat melahirkan kerja sama positif di masa depan, bukan malah memicu konflik yang lebih besar.


Hal demikian bukanlah mustahil, karena pada dasarnya ajaran utama dari kedua agama tersebut adalah ajaran kasih-sayang. Sehingga yang diperlukan adalah pemahaman yang lebih utuh dan mendalam atas ajaran masing-masing, sehingga dapat mereduksi potensi-potensi konflik antar keduanya, maupun dengan agama-agama lain.        

Tidak ada komentar:

Posting Komentar